Sebagian kaum muslim mengkafirkan sesama muslim dengan alasan mereka melakukan bid’ah, yaitu ‘menangisi Al Husain’.  Benarkah hal itu bida’ah? Mari kita telaah isi buku yang ditulis oleh seorang ustadz bermazhab Salafi  ini.

Asyura

Cover Buku

 

Judul Buku      : Nabi Muhammad saw         Berduka dan Menangisi al-Husain, Mengapa Kita Tidak?

Penulis                 : Abu Nu’man as-Sulaifi

Penerbit              : Pustaka al-Kautsar

Tahun Terbit    : Oktober, 2013

Tebal                     : 109 halaman.

 

 

 

“Asyura diperingati sebagai hari kesyahidan al-Husain, cucu tercinta Nabi Muhammad saaw. Ia di bantai di Karbala, beserta keluarga dan pengikut setianya. Para pecintanya selalu mengenang megatragedi tersebut dalam kesedihan. Di tanah air tercinta, peringatan asyura tahun ini diwarnai dengan protes dan demo penolakan oleh sebagian kalangan, khususnya dari kami, ikhwan salafi… Para pemuda salafi militan berdalih, bahwa peringatan mengenang kesyahidan al-Husain adalah bid’ah dan praktek sesat!. Sebagai seorang Ustadz Salafi—yang bersemangat mendidik kader muda untuk memurnikan tauhid dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi saw—saya pun berusaha menjauhkan mereka dari praktik-praktik bid’ah seperti itu. Apalagi, ketika praktik itu menjadi tradisi kaum syiah (yang kita sebut sebagai rafidhah), musuh bebuyutan kami, kaum salafi.

Namun, tanpa saya berniat mencari riwayat tentang sikap Nabi saw terhadap apa yang kelak akan dialami al-Husain, Allah membukakan mata saya kepada sebuah hadis riwayat al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, ketika Jibril di hari kelahiran al-Husain memberitahukan, bahwa al-Husain kelak akan di bunuh. Beliau saaw pun meneteskan air mata kesedihan atas apa yang bakal di alami cucu tercintanya itu. Saya benar-benar tersentak seakan tak percaya, ternyata apa yang dipraktikkan oleh kaum syiah yang kita sesatkan telah diteladankan oleh Nabi Muhammad saw. Pada mulanya saya merasa sesak napas, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil berucap La haula wa la quwwata illa billah,  apa yang sedang saya temukan ini?

Dengan temuan itu, saya masih berandai-andai, semoga hadis ini hanya satu-satunya hadis yang berbicara dalam masalah ini. Agar saya bisa menenangkan pikiran, bahwa jangan-jangan itu hanya buatan kaum rafidhah belaka. Apalagi, kami kenal al-Hakim agak sedikit berbau syiah… Entah karena ketulusan doa kedua orang tua saya, di malam-malam hening qiyamullail mereka, Allah swt selalu membuka mata saya untuk—sekali lagi, tanpa pretensi apapun—bertemu dengan hadis-hadis lain tentang tangisan Nabi saw dalam mengenang al-Husain cucu tercintanya…setelah itu saya benar-benar terpanggil untuk meluangkan waktu meneliti masalah ini.”

Abu Nu’man as-Sulaifi, seorang Ustadz Salafi Indonesia, menulis kata-kata pendahuluan di atas untuk mengkisahkan pengembaraan dirinya menentang tradisi asyura. Baginya tradisi asyura adalah bid’ah dholalah kaum syiah yang sesat dan menyesatkan. Karenanya dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar, beliau mendemo acara-acara asyura dan menurunkan Laskar Anti Syiah. Namun, seperti ungkapan suci “siapa yang ingin Allah beri hidayah, maka tidak ada satupun yang bisa menghalanginya”. Inilah yang terjadi pada diri as-Sulaifi. Berjuang dengan semangat menentang acara asyura, tapi berujung pada penelitian pengungkapan kebenaran asyura. Dan temuan kebetulan atas riwayat al-Hakim adalah pintu masuknya. Apa bunyi riwayat al-Hakim tersebut? Berikut ini riwayatnya.

“Dengan sanad bersambung kepada Ummul Fadhl binti al-Harits yang mengabarkan bahwa ia masuk menjumpai Rasululah saw, lalu berkata, “wahai Rasululah, aku bermimpi buruk malam ini.” Nabi saw bertanya, “Apa itu?” Ia menjawab, “sangat mengerikan.” Nabi kembali bertanya, “Apa itu?”. Ummul Fadhl pun berkata, “Aku bermimpi seakan sepenggal jasad Anda terpotong dan diletakkan di pangkuanku.” Nabi saaw bersabda, “Itu mimpi indah yang engkau lihat! Insya Allah Fatimah akan melahirkan seorang anak dan akan berada dipagkuanmu.” Lalu Fatimah melahirkan al-Husain, dan ia berada di pangkuanku sebagaimana disabdakan Rasulullah saw.

Kemudian, suatu hari aku masuk menemui Rasulullah saw dan aku pun menyerahkan al-Husain dan aku letakkan di pangkuan beliau, lalu ketika aku menoleh, maka tiba-tiba aku lihat kedua mata Rasulullah saw mengucurkan air mata. Ia berkata, Aku berkata, “Wahai nabi Allah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan bagi anda, apa yang terjadi?” Nabi saw bersabda, “Jibril datang menjumpaiku dan mengabarkan bahwa kelak umatku akan membunuh putraku ini.” Aku bertanya, “Putra anda ini”. Nabi saw bersabda, “Ya! Dan Jibril pun membawakan untukku segenggam tanah dari tanah (tempat terbubuhnya) al-Husain yang berwarna merah.” (al-Hakim, al-Mustadrak juz III : 176)

Riwayat ini dengan tegas menyatakan bahwa Nabi saaw berduka dan menangisi al-Husain bahkan sebelum peristiwa itu terjadi. Inilah sunnah fi’liyah yang dipraktikkan Nabi saaw. Dan ternyata hal itu bukan satu dua kali dilakukan Rasulullah saaw, tetapi nyaris setiap ada kesempatan dan di berbagai tempat beliau menangisinya. Buku ini, selain di pasal satunya menjelaskan hadis-hadis tentang Beberapa Faktor yang Mengharuskan Umat Islam Mencintai Ahlul Bait Nabi Saw,” dengan sangat apik mengkisahkan secara detil momen-momen sejarah dari sunnah tangisan Nabi saaw untuk al-Husain as tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam pasal dua yang diberi judul Teladan Duka dan Tangisan Nabi saw atas Kesyahidan al-Husain yang berisi bab berikut ini :

  1. Tangis Duka Pertama Nabi Saw Sesaat Setelah Kelahiran al-Husain.
  2. Nabi Saw Berkabung Duka di saat al-Husain Masih Bayi Berusia Beberapa hari.
  3. Ritual Tangis Duka Nabi Saw di Hari Ulang Tahun Pertama al-Husain
  4. Elegi di Rumah Ummu Salamah ra, Istri Nabi Saw Setelah Jibril Membawa Berita Duka Kematian al-Husain.
  5. Tangis Duka Sang Nabi Saw untuk al-Husain Juga di Rumah Siti Ummu Salamah ra.
  6. Tangis Duka Sang Nabi Saw untuk al-Husain Juga di Rumah Siti Ummu Salamah ra Setelah Kabar Duka Itu Disampaikan Malaikat Pengatur Hujan.
  7. Pesta Tangis Duka Nabi Mulia Muhammad Saw di Rumah Siti Aisyah ra Setelah Pengumuman Berita Duka Itu oleh Malaikat Jibril.
  8. Pesta Tangis Duka Nabi Agung Saw di Rumah Ummu Salamah ra.
  9. Pesta Tangis Nabi Muhammad Saw di Rumah Bunda Zainab Binti Jahsy ra, Istrri Beliau Saw.
  10. Pesta Duka Nabi Muhammad Saw di Rumah Bunda Ummu Salamah ra.
  11. Pesta Duka Nabi Muhammad Saw di Rumah Bunda Ummu Salamah ra.
  12. Pesta Duka Nabi Muhammad Saw di Rumah Ummul Mukminin Ummu Salamah ra.
  13. Pesta Duka Nabi Muhammad Saw di Rumah Ummul Mukminin Aisyah ra Setelah Seorang Malaikat Datang Berbela Sungkawa Kepada Rasulullah Saw.
  14. Ali ra Menangisi al-Husain ra Ketika Ia Melewati Padang Karbala dalam Perjalanan Menuju Shiffin.
  15. Ibnu Abbas dan Ummu salamah ra Bermimpi di Hari Terbunuhnya al-Husain Bahwa Nabi Saw Memungut Darah-Darah al-Husain di Karbala.
  16. Ummu Salamah ra, Isteri Nabi Saw Menangis Histeris Hingga Pingsan Setelah Mendengar Berita Terbunuhnya al-Husain ra.
  17. Jin pun Meratapi Kematian al-Husain ra.
  18. Pembalasan Allah Swt atas Para Pembunuh al-Husain: Allah Swt Menyegerakan Murka-Nya atas Para Pembunuh al-Husain ra.

 

Judul-judul di atas—meskipun sebagiannya di rasa kurang tepat dalam diksinya, seperti menggunakan kata “Pesta” untuk peringatan duka—dengan runtun menghadirkan kisah lalu ke masa kini, yang membuat ruh kita terbang untuk menyaksikan secara nyata bahkan bergabung bersama kafilah Sang Nabi untuk mengikuti momen-momen kesedihan mengenang al-Husain Sang Wali.

Dengan bukti-bukti tersebut, as-Sulaifi berniat menyajikan—tentu saja dengan sasaran utamanya bukan kepada para pecinta Ahlul Bait Nabi saaw dari mazhab syiah—kepada saudara-saudara (ikhwan) salafinya yang masih menyimpan kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi di relung-relung hati suci mereka. Hal ini sebagaimana diungkapkannya di buku tersebut :

“Berangkat dari keprihatinan atas kejahilan ikhwan salafi terhadap Sunnah Nabi Muhammad saw dalam masalah berduka dan menangisi al-Husain, saya terpanggil untuk menulis risalah kecil ini; risalah yang menyajikan bukti-bukti mu’tabarah dari hadis-hadis shahihah praktik Nabi Muhammad saw dalam masalah ini. Sebab saya yakin, bahwa yang mendorong aksi protes sebagian ikhwan dan akhwat salafi, untuk menentang pelaksanaan acara memperingati asyura adalah kejahilan semata. Saya tahu persis kebanyakan mereka adalah kaum taat beragama dan berjiwa militan dalam menjalankan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Namun kejahilan tentang apa itu ma’ruf dan munkar telah menjebak mereka dalam praktik-praktik yang salah. Yang ma’ruf mereka cegah dan perangi, sementara yang munkar mereka biarkan, bahkan sebagiannya mereka dukung!. Oleh karena itu, dengan risalah kecil ini mudah-mudahan mereka yang bertindak bodoh dan tertipu oleh ajakan kejahilan, dapat segera sadar dan kembali ke shirat al-mustaqim. Sebab ternyata, Nabi Muhammad Saw adalah yang pertama kali meneladankan kedukaan, serta menangisi al-Husain cucunya.”

Sebab itu, jika Sang Nabi menangisi al-Husain karena pengetahuannya 50 tahun sebelum peristiwa itu terjadi, lantas bagaimana dengan kita yang mengetahui terjadinya peristiwa itu secara nyata di Padang Karbala? Mengapa kita tidak turut serta sunnah kenabian tersebut untuk menangisi al-Husain sang pemuda surga? Jika tangisi ini dianggap bid’ah dholalah oleh segelintir orang, biarkanlah air mata ini kelak menjadi saksi dan hujjah di hadapan Allah dan Rasul-Nya serta Imam Ali as dan Bunda Fatimah as, bahwa kita bersedih untuk al-Husain karena kecintaan yang tulus kepadanya. Karenanya, siapa yang ingin bergabung bersama kafilah suci Sang Nabi untuk menangisi Sang Wali, maka bacalah buku ini dengan kebersihan hati.(CR/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL