3. Tasawuf Sebagai Ajaran Tauhid

sufismeTasawuf sebagai ajaran tauhid, yaitu ilmu yang berkenaan dengan realitas atau keberadaan (wujud), yakni tidak ada keberadaan yang hakiki kecuali keberadaan Allah swt. Wujud adalah sesuatu yang hakiki dan tunggal, karena selain wujud adalah ketiadaan (‘adam). Ini berarti, tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Wajib al-Wujud, yakni Allah. Lantas bagaimana dengan keberadaan alam semesta? Bagi para sufi, seluruh semesta hanyalah manifestasi (zhuhur, tajalli) atau “jelmaan” Tuhan. Makhluk muncul karena Dia “menjelma” pada diri mereka. Seandainya Dia tidak “menjelma”, mereka tidak akan pernah ada. Karena Allah adalah pencipta, tentu saja keberadaan-Nya lebih hakiki daripada yang diciptakan. Jadi, selain-Nya tak lain adalah maujud  semu, ‘khayal’, dan ‘bayangan’. Dalam tingkatan ini, “la ilaha illallah” bermakna “tiada keberadaan selain Allah”. Inilah tauhid sejati. Mahmud al-Kasyani menjelaskan empat tingkatan tauhid yakni tauhid imani (mengimani keesaan Allah), tauhid ilmi (mengetahui dengan yakin keesaan Allah), tauhid hali (merasakan/menyaksikan keesaan Allah), dan tauhid ilahi (Keesaan Allah menafikan keberadaan yang lainnya). Tentang tauhid ilahi ini, al-Kasyani menjelaskan :

“Tauhid ilahi adalah Dzat Yang Maha Haq sejak azali senantiasa disifati dengan sifat keesaan dan ketunggalan. Hanya saja, penyifatan ini harus dengan perantara Dia sendiri, bukan melalui perantara lain.  Allah ada, dan tidak ada sesuatu apa pun bersam-Nya, sejak azali hingga kapan pun…kemuliaan sifat Maha Tunggal dan keperkasaan sifat Maha Esa yang Dia miliki tidak memberikan kesempatan kepada selain-Nya untuk eksis di alam wujud. Inilah hak sebuah tauhid yang terbebaskan dari segala bentuk kekurangan.”

Ibnu Arabi menganggap hubungan alam dengan Allah bagai hubungan ombak dan laut atau hubungan cermin dan orang yang sedang bercermin. Mereka tidak memberikan sedikit pun wujud kepada alam semesta. Akal dan indera kita yang serba kuranglah yang menganggap bahwa semua itu ada. Hanya dengan kesucian dan ma’rifat intuitif (pengetahuan hati) kita bisa menyibak hijab dan menyaksikan keesaan sejati Allah swt. Seperti yang disimpulkan oleh As-Syibli dan juga Ibnu Atha, “permulaan tasawuf adalah makrifat dan akhirnya adalah tauhid”. Qaishari berkata, “maksud tauhid dzat adalah bahwa seluruh dzat yang ada ini sirna dan fana dalam Dzat-Nya Allah”. Artinya, tidak ada sesuatu pun selain Allah, sebagaimana Allah berfirman, “…Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (Maha Meliputi) dan Maha Mengetahui” (Q.S. al-Baqarah : 115).

Hanya saja, sekarang ini, ke mana saja kita menghadapkan wajah kita, yang kita lihat adalah wajah makhluk. Kita tidak melihat “wajah Allah”. Lantas, apakah ayat al-Quran ini salah? Tentu tidak. Hal itu disebabkan oleh pandangan kita saja yang tertutup. Kita terlalu sibuk memperhatikan kebutuhan kita, sehingga kita melupakan Allah. Ibnu Arabi menyatakan :

“Alam semesta tersembunyi sehingga tak pernah tampak, dan Dzat Yang Maha Haq sungguh tampak sedemikian rupa sehingga tak pernah tersembunyi. Tetapi, manusia keliru dan malah meyakini sebaliknya. Mereka meyakini bahwa alam semesta tampak dan Dzat Yang Maha Haq tersembunyi. Dari sinilah mereka terjangkit penyakit syirik, hanya melihat hal-hal yang dapat diindera, dan menyembah sesembahan yang berbentuk. Allah hanya menyelamatkan sebagian hamba-Nya dari serangan penyakit ini.”

Junaid al-Baghdadi berkata, “tasawuf adalah jika engkau dilupakan dari dirimu sendiri dan ‘dihidupkan’ oleh allah swt. Jaffar al-Khalidi (w 348 H) berkata, “tasawuf itu memusatkan jiwa dalam ibadah dan ke luar dari kemanusiaan serta memandang pada Allah secara menyeluruh. As-Syibli ditanya tentang tasawuf, ia menjawab, “permulaannya adalah makrifat akan Allah, dan diakhiri dengan mengesakan-Nya”. Ini berarti seorang sufi akan merasa keberadaan dirinya ‘lenyap’ dalam keberadaan Allah swt.

Itulah mengapa tasawuf memusatkan perhatian dan cintanya hanya pada Allah. Karenanya setiap melihat makhluk mereka sekaligus manyaksikan keagungan Allah swt, “..Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah,” begitulah kata ayat di atas. Mereka memang hidup di alam dunia ini, tetapi perhatian dan cinta mereka tertuju pada keagungan Allah swt. Sebab, mencintai selain Allah dianggap sebagai bentuk ‘kemusyrikan’, seperti difrimankan Allah “Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sama seperti mencintai Allah. Sementara orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah…” (Q.S. al-Baqarah : 165).

Dikisahkan bahwa Ibrahim bin Adham adalah seorang raja Balkh yang meninggalkan kerajaannya dan menjadi sufi. Ia membuang rasa cinta kepada hartanya. Saat pergi, ia meninggalkan seorang anak yang masih menyusu. Ia tidak pernah pulang. Belasan tahun kemudian saat Ibrahim menunaikan Ibadah Haji, ia berpesan kepada para sahabatnya, “Hari ini banyak wanita dan anak kecil di musim haji, jagalah mata kalian.” Namun, saat Ibrahim tawaf di Ka’bah, Ibrahim memandangi seorang pemuda. Para sahabatnya menegurnya. Ibrahim pun berkata, “Ketika aku pergi dari Balkh, aku meninggalkan anak laki-laki yang masih menyusu. Aku tahu bahwa anak muda itu adalah anakku.”

Keesokan harinya, para sahabatnya membawa pemuda tersebut dan ibunya menemui Ibrahim. Semuanya terharu dan larut dalam tangisan. “Apa agamamu?”, tanya Ibrahim. “Islam,” jawab anaknya. “alhamdulillah! apakah engkau mengenal Alquran?” tanya Ibrahim lagi. “Ya,” jawab anaknya. “alhamdulillah!, sudahkan engkau mempelajari Islam?” kata Ibrahim. “Sudah” jawab anaknya. Kemudian Ibrahim pun beranjak pergi, tetapi pemuda itu memeluknya. Ibrahim berkata sambil melihat langit, “Ya Allah, tolonglah hamba!”. Seketika itu, pemuda tersebut meninggal dunia.

“Apa yang terjadi?” teriak para sahabatnya. Ibrahim pun menjelaskan, “ketika aku mendekapnya dipelukanku, cintaku kepadanya menguasai hatiku. Sebuah suara berbicara kepadaku, ‘Ibrahim, kau bilang kau mencintai-Ku, namun kau juga mencintai yang lain. Kau menyuruh para sahabatmu untuk tidak memandang wanita dan anak-anak, namun kau sendiri telah mengikatkan hatimu pada wanita dan anak-anak.’ Ketika mendengar teguran itu, aku berdoa, tolonglah hamba Ya Allah! Anak ini begitu menguasai hatiku, sehingga aku akan lupa untuk mencintai-Mu. Ambillah hidupku atau hidupnya. Kematian anak ini adalah jawaban dari doaku.”

Jadi, tasawuf mengajarkan tauhid sejati yang menyatakan bahwa segala sesuatu selain Allah tidak memiliki wujud hakiki, semuanya tergantung mutlak pada Allah swt. Diri mereka dan lainnya tidak sedikitpun memiliki kepemilikan atas dirinya sendiri. Karena itu kematian bagi mereka tiada lain adalah perjumpaan berikutnya dengan Tuhan, setelah sebelumnya mereka “mematikan diri sebelum mati” (muutu qabla an tamutu). Kesaan Tuhan, bagi sufi bukan hanya terbukti dan dipahami secara naqli (wahyu), secara aqli (akal), tetapi juga secara “penyaksian batin” (hati). Bahkan penyaksian itulah yang menjadi puncak ketauhidan sejati. Karena kehadiran Tuhan bukan untuk didefenisikan, tetapi untuk dirasakan dan “disaksikan”. Kaum takfiri yang nalarnya sulit memahami makna-makna esoteris (tersirat) dari tauhid tersebut, sehingga menghukumi kaum sufi sebagai kaum yang menyimpang. Alangkah baiknya, jika mereka sedikit saja belajar dan mendisiplinkan diri seperti kaum sufi, maka mereka akan melihat secercah cahaya ilahi yang penuh kasih sayang, bukan kebencian, yang penuh rahmat bukan suka azab. Yang memanggil manusia berdosa untuk bertobat, bukan menyerang mereka karena maksiat. Singkatnya, belajar menjadi sufi, akan membuat kaum takfiri lebih menjaga diri dan mengenal sifat-sifat ilahi. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*