2.    Tasawuf Sebagai Ajaran Tentang Pengetahuan Hati

sufismeDikisahkan bahwa Imam al-Ghazali mula-mula adalah seorang ahli fikih dan ahli filsafat yang tidak tertarik pada tasawuf. Ia pernah diangkat menjadi imam mesjid. Al-Ghazali mempunyai adik yang bernama Ahmad yang ahli tasawuf. Ahmad hampir tidak pernah salat berjamaah di belakang al-Ghazali. Suatu hari, Ahmad salat juga di belakang al-Ghazali. Akan tetapi, di pertengahan salat, Ahmad kemudian munfarid (keluar dari barisan jamaah). Setelah selesai salat, orang-orang menduga ada konflik antara dua bersaudara ini. al-Ghazali bertanya, “mengapa engkau tadi keluar dari salat jamaah?” Ahmad menjawab, “Pada rakaat kedua, aku melihat darah pada dirimu. Aku menghentikan salatku dan salat sendirian. Aku tidak tahan melihat darah.” Al-Ghazali tersentak. Sebab, tepat pada rakaat kedua tadi, ia tiba-tiba teringat pada buku fikih yang sedang di tulisnya dan kebetulan, sampai pada bab tentang haid dan nifas.

Kisah imam al-Ghazali di atas menunjukkan bahwa Ahmad “melihat darah” pada diri al-Gahzali pada saat al-Ghazali berpikir tentang darah. Ini adalah penglihatan hati (batin), karena secara lahir, tubuh dan pakaian al-Ghazali tidak berlumur darah. Penglihatan hati ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah mensucikan hatinya. Untuk mendapatkannya ada metodenya. Metode itu disebut tasawuf.

Belakangan kita mengenal Imam al-Ghazali sebagai salah satu sufi besar. Ia menulis sebuah buku tasawuf yang luar biasa berjudul Ihya Ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama) yang dianggap sebagai buku induk tasawuf sampai saat ini. Di dalam buku tersebut beliau menjelaskan “tasawuf adalah melakukan mujahadah (perjuangan), membuang sifat-sifat tercela, memutuskan hubungan dengan kesenangan duniawi dan konsentrasi penuh ke hadirat Allah swt. Hal itu bisa terwujud karena Allah swt telah memimpin hati hamba-Nya dan menjaminnya dengan memberi cahaya ilmu pengetahuan”. Jadi, Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui atau memperoleh pengetahuan melalui penyaksian batin (musyahadah) dengan cara latihan-latihan rohani. Teori untuk mendapat pengetahuan, dalam tradisi keilmuan disebut epistemologis (nahzariyah al-ma’rifah). Dalam hal ini maka tasawuf berarti juga mazhab epistemologis.

Pengetahuan (ma’rifah) secara umum berarti pengetahuan atau pengenalan baik melalui indera, akal atau hati. Indera mampu mengetahui hal-hal yang empiris (konkrit, material) melalui proses pengamatan dan menghasilkan sains (ilmu pengetahuan). Akal mengetahui hal-hal yang abstrak (non material) melalui proses pemikiran dan menghasilkan filsafat. Sedangkan hati dapat mengetahui hal-hal gaib dengan penyucian batin dan menghasilkan ilmu tasawuf. Pengetahuan indera dan pengetahuan akal di peroleh dengan cara belajar, berpikir, dan meneliti, sedangkan pengetahuan hati diberikan Allah secara langsung dengan memancarkan pengetahuan pada hati yang suci (ilmu laduni atau ilmu hudhuri). Inilah yang disebut wahyu atau ilham. Allah berfirman, “Alquran dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (Q.S. as-Syuara: 194). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepadanya kejahatan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. as-Syam :7-10)

Begitu pula kita bisa mengenal dan membuktikan keberadaan Allah dengan memperhatikan alam semesta. Bukankah alam semesta yang luas dan teratur ini membuktikan adanya pencipta yang sempurna di baliknya? Begitu pula kita bisa mengenal dan membuktikan keberadaan Allah dengan jalan pemikiran filsafat, sebab setiap yang keberadaanya terbatas dan pernah tidak ada (seperti alam), pasti membutuhkan Pencipta yang selalu ada dan tidak terbatas (Allah swt).

Namun, tidak hanya sebatas pengamatan dan pemikiran, kita ingin mengenal Allah dan membuktikan keberadaan-Nya dengan cara “menyaksikan” Allah. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan “penglihatan hati yang suci”. Inilah tasawuf, yang ingin “menyingkap dan menyaksikan keagungan Allah (mukasyafah wa musyahadah)”. Allah berfirman, “Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (Q.S. an-Najm: 10-11). Bukankah terkenal hadits saat malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah saaw, “Apa itu ihsan?” Rasulullah saaw menjawab “al-ihsan an ta’budallaha kaannaka tarahu, fain lam takun tarahu fainnahu yaraka”, artinya : Ihsan adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Seandainya engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah sesungguhnya Allah melihatmu.” (H.R. Muslim).

Dengan demikian, tasawuf membicarakan cara-cara penyucian hati/batin untuk mendapatkan pengetahuan sejati melalui penyaksian batin (musyahadah). Al-Qattani menyimpulkan, “at-tashawwuf shafa’u wa musyahadah” (tasawuf adalah kesucian dan penyaksian).

Ibnu Sina membedakan antara zahid, abid, dan arif. Zahid (orang yang zuhud) adalah orang yang menjauhi kesenangan dan kenikmatan duniawi. Abid (ahli ibadah) adalah orang yang menekuni ibadah-ibadah dengan salat, puasa, dan lainnya. Adapun arif adalah orang yang memusatkan perhatiannya pada kesucian Tuhannya dan mengharap terbitnya cahaya al-Haq, Allah swt dalam hatinya. Arif inilah yang dimaksud sufi oleh Ibnu Sina.

Abu Said al-Kharraz (w. 268 H) menyatakan bahwa sufi adalah orang yang dijernihkan hatinya oleh Tuhan dan telah dipenuhi dengan cahaya, sehingga merasakan kenikmatan mengingat Allah. Bisyir bin al-Harits berkata, “seorang sufi adalah orang yang menjernihkan hatinya demi Allah.”

Ibnu Ujaibah berkata, “Firasat adalah pikiran yang menyerang hati atau sesuatu yang tampak di dalamnya. Biasanya dia tidak akan salah, jika hati itu bersih. Dalam hadits disebutkan, “Takutlah kalian akan firasat orang mukmin, sebab, ia melihat dengan cahaya Allah.” (H.R. Tirmidzi). Firasat berbeda-beda sesuai dengan tingkat kekuatan kedekatan dan makrifat kepada Allah. Semakin kuat kedekatan dan makrifat, maka firasat akan semakin benar. Sebab, apabila jiwa sudah dekat kepada al-Haq (Allah), maka tidak akan tampak di hatinya kecuali kebenaran.”

Ibnu Khaldun berkata, “Mujahadah (perjuangan), khalwat (menyendiri) dan zikir biasanya akan diiringi oleh terbukanya penghalang inderawi dan kemampuan untuk menyaksikan alam-alam Allah. Ruh adalah bagian dari alam tersebut…Apabila ruh berpindah dari indera lahir menuju indera batin, maka indera lahir akan melemah dan ruh akan menguat…Dengan ini, dia akan mampu membuka tabir indera dan sempurnalah kesucian jiwa. Inilah yang disebut dengan idrak (pengetahuan). Setelah itu, dia akan memperoleh pemberian Tuhan, ilmu ladunni yang diperoleh langsung dari Allah dan kunci ilahiah.”

Senada dengan ini Abu Ali ad-Daqaq berkata, “Barangsiapa berjuang dalam mensucikan hatinya, maka Allah akan memberinya penglihatan batin, sebagaimana firman Allah, ‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (Q.S. al-Ankabut : 69).” Rasulullah saaw bersabda, “Kalau bukan karena setan menghalangi hati anak Adam, maka mereka akan dapat melihat kerajaan langit.” (H.R. Ahmad).

Demikianlah sufisme yang menjadikan kesucian diri sepenuhnya dan perhatian total hati kepada Allah. Dengan begitu, Allah akan menerbitkan pengetahuan sejati pada dirinya, membuka beberapa rahasia kegaiban. Dan tidak ada pengetahuan yang lebih tinggi dari pengetahuan tentang rahasia-rahasia ilahi. Tapi dengan congkaknya, kalangan takfirisme yang cenderung tekstualitas ini menghakimi para sufi sebagai kelompok sesat, seolah-olah hanya merekalah yang paling mengerti tentang agama ini. Padahal, boleh jadi kaum takfiri ini tak mampu mengintip sedikit saja pengetahuan sejati para sufi tersebut. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL