sufi 4Salah satu yang sering menjadi sasaran penyesatan dan pengkafiran kelompok takfiri yang bersembunyi di balik istilah bid’ah adalah khazanah tasawuf yang dalam istilah lain dikenal dengan nama irfan. Para sufi atau arif dianggap mereka memiliki sederetan tradisi yang tidak memiliki akar dalam tek-teks normatif Islam, yakni Alquran dan hadis. Para sufi dipandang sebagai orang-orang yang mencemari kemurnian Islam dengan praktik-praktik bid’ah yang sesat seperti tawassul, tabarruk, kultus, zuhud, ilmu hudhuri/ladunni dan kewalian, yang dipengaruhi oleh agama-agama pra Islam seperti Yahudi, nasrani, Hindu, dan Budha.

Hal ini seperti dituduhkan oleh Ihsan Ilahi Zhahir dalam kitabnya At-Tashawuf, Al Mansya’ wa Al Mashdar yang mengatakan bahwa jika kita mencermati dengan jeli ajaran-ajaran tasawuf dan ungkapan-ungkapan mereka di dalam kitab-kitab tasawuf dari dulu hingga kini, kita akan menyaksikan suatu hal yang sangat jauh dari ajaran Alquran dan sunnah, yang sedikitpun tidak pernah kita jumpai dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad saaw dan para sahabatnya yang mulia, yang merupakan orang-orang terbaik dan pilihan dari hamba-hamba Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan kita menemukan ajaran-ajaran tasawuf tersebut diperoleh dari kependetaan model Nasrani, dari kebrahmanan model Hindu, peribadatan model Yahudi dan kezuhudan model agama Budha.

Benarkah tasawuf atau irfan adalah tradisi yang dipenuhi praktik-praktik kesesatan? Padahal, tasawuf dan irfan adalah khazanah intelektual Islam yang diajarkan silsilahnya oleh ulama-ulama mulia bahkan sebagiannya merupakan Ahlul Bait Nabi saaw. Kita tidak bisa menafikan, terdapat kelompok-kelompok yang mengatasnamakan tasawuf dan kesucian diri, tetapi mereka tertipu dengan dirinya sendiri. Mereka ini dikenal sebagai orang-orang yang sok sufi (psudosufism). Imam Al-Ghazali dalam al-Munqidz Min ad-Dhalal dan juga Mulla Shadra di dalam Asfar Arba’ah mengkritisi kelompok-kelompok sok sufi ini dengan sangat keras. Namun, menggeneralkan kesesatan pada tasawuf atau irfan seperti dilakukan kelompok takfiri adalah juga sikap sok islami (psudoislam) yang merasa benar sendiri dan sok paling tahu ajaran sejati Islam. Untuk itu, agar tidak terjebak dalam propaganda yang mudah menyesatkan kelompok lainnya kita harus mengenal dan mendudukan tasawuf atau irfan ini secara proporsional.

Tiga Makna Tasawuf

Seiring dengan perkembangannya, para ulama mendefenisikan tasawuf dalam berbagai macam defenisi yang dikatakan oleh Ahmad Zaruq dalam Qawaid at-Tashawwuf mencapai sekitar dua ribu defenisi. Jalaluddin Rakhmat menyimpulkan perkembangan makna tasawuf dalam sejarah Islam pada tiga jenis. Pertama, tasawuf sebagai ajaran akhlak atau etika. Kedua, tasawuf sebagai ajaran epistemologis (cara memperoleh pengetahuan). Ketiga, tasawuf sebagai ajaran tentang tauhid. Ketiga makna ini akan dijelaskan berikut ini.

 1.   Tasawuf Sebagai Ajaran Akhlak (Etika)

 Dikisahkan bahwa di masa Rasulullah saaw hiduplah seorang wanita yang ahli ibadah tetapi suka menyakiti tetangganya. Maka diadukan kepada Nabi saw, “Ya Rasulullah, wanita itu di siang hari berpuasa, di malam hari juga beribadah, sehingga dikenal sebagai wanita yang saleha, tetapi dia sering mengumpat orang.” Rasulullah saaw bersabda, “Ia adalah penghuni neraka.” Mengapa? Jawabnya, karena tidak memiliki akhlak yang baik. Ibadahnya kepada Allah tidak menghasilkan akhlak kepada manusia, padahal Nabi saaw diutus untuk menyempurnakan akhlak (makarimul akhlak). Akhlak adalah kesempurnaan dan kemuliaan manusia, tidak berakhlak berarti menjatuhkan diri pada kehinaan. Karena itu, kita tidak hanya dituntut untuk melaksanakan ibadah yang benar, tetapi juga berakhlak dengan baik. Tasawuf mengajarkan

Tasawuf mengajarkan akhlak yang harus dijalankan ketika ingin mendekati Allah swt. Zakaria al-Anshari berkata, “Tasawuf adalah ilmu tentang pembersihan jiwa, perbaikan budi pekerti serta pembangunan lahir dan batin”. Ibnu Ujaibah (w. 1809) menyatakan bahwa tasawuf adalah cara untuk mendekati Allah, membersihkan diri dari akhlak tercela dan menghiasinya dengan akhlak terpuji. Nabi saaw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, dan Allah memuji Nabi saaw, “Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang sangat agung” (Q.S. al-Qalam: 4).

Dalam tasawuf, akhlak bersifat batin, karena itu, ilmu tasawuf mengajarkan cara-cara mengatur batin kita agar perbuatan memiliki nilai tinggi di sisi Allah swt. Inilah perbedaan tasawuf dengan fikih. Fikih mengajarkan adab lahiriah, maka tasawuf mengajarkan adab batiniah. Misalnya tentang salat. Kalau fikih mempersoalkan cara mengucapkan niat; maka tasawuf membicarakan cara mengikhlaskan niat. Jadi, fikih memperhatikan perbuatannya (fi’il), sedangkan tasawuf memperhatikan pelaku perbuatannya (fa’il). Bagi tasawuf, salat yang sah menurut fikih, belum tentu diterima oleh Allah swt, sesuai firman-Nya, “Celakalah orang-orang yang salat, yang mereka lalai dari salatnya, yang mereka bersikap riya” (Q.S. al-Maun: 4-6).

Dzun Nun al-Mishri menjelaskan bahwa tasawuf adalah adab pergaulan (shuhbah; muamalah) yang ditegakkan atas empat tonggak: (1) jangan bergaul dengan Allah kecuali dengan muwafaqah, yakni menyesuaikan diri kita dengan perintah-perintah-Nya; (2) Jangan bergaul dengan makhluk kecuali dengan munashahah, menghidupkan kecintaan kepada Nabi dan keluarganya dan saling menyayangi di antara sesama hamba Allah; (3) Jangan bergaul dengan nafsu kecuali dengan mukhalafah, membantah tuntutannya; (4) dan jangan bergaul dengan setan kecuali dengan muharabah, memeranginya. (Rakhmat, Membuka Tirai Kegaiban, 2008:7)

Junaid al-Baghdadi (w. 910 H) berkata, “Tasawuf adalah mengambil akhlak mulia dan meninggalkan akhlak tercela yang didasarkan pada delapan akhlak yang dicontohkan oleh delapan orang rasul, yaitu : (1) kedermawanan Ibrahim yang mengorbankan putranya; (2) kepasrahan Ismail yang menyerahkan diri pada perintah Tuhan dan menyerahkan hidupnya; (3) kesabaran Ayub yang dengan sabar menahan penderitaan penyakit gatal dan kecemburuan Yang Maha Pemurah; (4) isyarat dan kelembutan Zakaria yang menerima sabda Tuhan, “Kau tak akan berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan menggunakan isyarat” (Q.S. Ali Imran : 36) dan juga, “tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara lembut” (Q.S. 19 : 2); (5) keterasingan Yunus yang merupakan orang asing di negerinya sendiri dan terasing di tengah-tengah kaumnya sendiri; (6) sifat peziarah Isa yang begitu melepaskan keduniawian sehingga hanya menyimpan sebuah mangkuk dan sebuah sisir—mangkuk dan sisir itu pun dibuangnya ketika ia melihat seorang minum dari telapak tangannya, dan menyisir rambut dengan jari-jarinya; (7) pemakaian jubah wol oleh Musa; dan (8) kesederhanaan Muhammad saaw, yang dianugerahi kunci segala harta di muka bumi oleh Tuhan, firman-Nya, “Jangan menyusahkan diri sendiri, tetapi nikmati setiap kemewahan dengan harga ini,” namun jawabnya, “Ya Allah, hamba tidak menghendakinya, biarkan hamba sehari kenyang dan sehari lapar” (Schimmel, Dimensi Mistik dalam Islam, 1986: 13).   Ajaran akhlak seperti inikah yang akan disesatkan dan dikafirkan oleh kaum takfiri? Semestinya mereka belajar akhlak dari kaum sufi untuk mengendalikan nafsu dan menjaga lidahnya dari sembarangan menuduh kelompok lain sesat. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL