Oleh : Farish A. Noor*

farisMenurut pendapat pemikir Islam progressif, Ebrahim Moosa, umat Islam dewasa ini mengalami suatu masalah epistemik-psikologik, yang mana gerakan Islamisme berpegang pada konsep dialektika bermusuhan (oppositional dialetics). Bahayanya, dialektika bermusuhan ini telah meresap dan merembes masuk ke dalam benak umat Islam secara menyeluruh.  Praktik ini diperkokoh lagi dengan masih bergantungnya kita kepada ide, nilai, dan epistemologi yang diwarisi dari zaman lama, yaitu zaman di mana umat Islam memang dalam keadaan konflik dengan dunia luar. Inilah fenomena yang disebut oleh Ebrahim Moosa sebagai “epistemologi zaman imperium kuno” (imperial epistemology). Yaitu, walaupun hidup di awal abad ke-21, dari segi mentalitas kolektif, kita masih tinggal dalam zaman abad pertengahan, masih kekal dalam mind-set zaman perang salib.

Jikalau ditinjau secara empiris, kita dapat melihat bagaimana begitu banyak pemikir dan pemimpin gerakan Islamisme bergantung kepada konsep “kawan dan lawan” (friend and enemy) dalam pidato, tulisan dan praktik politik mereka. Secara umum, apabila membaca tulisan-tulisan gerakan Islamisme generasi masa kini, kita mendapat gambaran bahwa umat Islam di dunia tidak mempunyai teman sama sekali. Gambaran yang kita dapat ialah suatu komunitas yang dikepung, dikelilingi musuh dan dizalimi tanpa henti.

Namun gambaran ini tidak sepenuhnya tepat dan tidak sesuai realitas yang ada. Hakikatnya ialah selain umat Islam yang dizalimi, ada juga komunitas lain yang menjadi korban juga. Misalnya, negara-negara berkembang lain di Amerika Tengah, Venezuela, Brazil, Mexico, dan negara-negara Afrika seperti Mozambique, Angola, Sierra Leone, dan lain-lain. Ini contoh komunitas yang bukan muslim yang dizalimin oleh proses globalisasi dan struktur ekonomi global yang tidak adil juga?

Malangnya, rasa simpati, peduli dan perikemanusiaan umat Islam hanya terbatas pada komunitas Islam saja. Dalam kiprah saya sebagai aktivitas HAM dan aktivis anti globalisasi, jarang sekali saya berjumpa dengan aktivis Muslim lain di pertemuan dan konferensi yang membahas masalah-masalah tersebut. Nampaknya gerakan Islam seakan-akan hanya bergerak dan bertindak jika yang dianiaya itu komunitas Islam! Jikalau begini, bisakah kita katakan bahwa kita telah memahami dan menghayati, nilai-nilai Islam yang universal itu? Inilah sebabnya Ebrahim Moosa menyatakan “We cannot continue to emplay the same epistemology of the age of the old Muslim empires. We need new intellectual tools for the age we live in, to deal with the realities of a more complex and plural universe” (Kita tidak dapat terus menggunakan epistemologi yang sama dengan yang digunakan pada zaman imperium kuno. Kita membutuhkan perangkat intellektual baru untuk abad baru di mana kita hidup, agar mampu menghadapi realitas dunia yang lebih kompleks dan plural).

Penolakan terhadap kecenderungan dialektika bermusuhan ini merupakan langkah pertama untuk mendirikan suatu gagasan Islamisme progressif yang benar-benar universal, terbuka, inklusif, dan pluralis. Bermula dari titik tolak prinsip tauhid, kita perlu menggerakkan pikiran kaum Muslim ke arah yang lebih terbuka dan inklusif, di mana kaum Muslim sedunia bisa mengerti dan sadar bahwa solidaritas yang perlu dibentuk dan perjuangan untuk keadilan adalah suatu perjuangan global yang berlaku untuk semua umat manusia dan bertujuan membebaskan umat manusia secara menyeluruh.

Dalam perjuangan ini, gerakan Islamisme mesti sadar bahwa teman-temannya ada di kalangan kaum dan umat lain dan tidak hanya dari kaum Muslim saja. Bahkan, bagi saya, teman-teman dari komunitas lain itu mungkin lebih komited, lebih berprinsip, lebih berwibawa dan lebih jujur dalam perjuangan mereka. Mereka inilah yang patut menjadi “teman sejalan dan teman seperjuangan” gerakan Islam progressif, dan bukan kelompok-kelompok Muslim konservatif yang berpegang kepada ide dan ortodoksi lama, atau sikap prejudice kuno. Dalam perjuangan untuk menegakkan keadilan sejagat bagi seluruh umat manusia, gerakan-gerakan pekerja (trade unions), gerakan mahasiswa (student unions), gerakan buruh (labour movement) dan gerakan pro-demokrasi dan HAM antarbangsa lebih penting daripada kelompok Muslim yang konservatif, fundamentalis dan eksklusif.

Tujuan akhir perjuangan global ini ialah untuk meruntuhkan struktur-struktur dominasi, eksploitasi dan penindasan yang merupakan faktor-faktor konkrit yang menyebabkan terwujudnya benteng-benteng dan jurang-jurang sosial di dunia saat ini. Dan jikalau struktur-struktur ini menyebabkan (dan mengekalkan) perbedaan sosial dan sektarianisme yang tidak adil, bahkan menafikan kesatuan dan kesama-rataan umat manusia, maka struktur-struktur inilah yang bisa dikatakan struktur-struktur kekufuran zaman ini—zaman globalisasi kapitalisme dan hegemoni Amerika.

Hanya saja, belakangan ini kita melihat bagaimana sementara individu dan gerakan islamis satu sama lain begitu bergairah menuduh kafir dan/atau munafik. Walaupun sikap takfir—yakni menuduh muslimin lain sebagai kafir—yang menjijikkan dan keji ini telah dikritik habis-habisan oleh cendekiawan dan sarjama Muslim, namun praktik ini masih meluas dan dilakukan oleh mereka yang menganggap dirinya “Muslim tulen.” Dalam perlombaan mereka untuk mencari Islam yang otentik dan murni, mereka telah melanggar semua batasan etika dan prinsip-prinsip peradaban Islam itu sendiri. Kecondongan kepada praktik takfir ini dapat kita pahami apabila kita sadar bahwa kebanyakan dari mereka yang melakukannya itu telah menghayati logika dialektika bermusuhan (oppositional dialectics).

Kecondongan kepada logika dialektika bermusuhan (oppositional dialectics) sebenarnya bertentangan dengan prinsip Tauhid yang menekankan kesatuan Tuhan dan alam semesta. Kecondongan ini adalah satu akibat dari hegemoni ideologi Barat dan lumpuhnya mentalitas kaum Muslim yang ditindas dan dijajah. Inilah bukti konkrit bahwa umat Islam dewasa ini—sadar maupun tidak—telah meresapi dan menghayati nilai-nilai dan ide-ide Barat serta menjadi wadah bagi ideologi dan mentalitas tersebut. Seperti dikatakan Ibnu Khaldun, mentalitas suatu kaum adalah batasan terakhir sebelum kaum itu dijajah secara menyeluruh. Apabila suatu masyarakat mulai berpikir menggunakan logika kaum penjajah, maka mereka berarti telah benar-benar takluk dan dijajah secara komprehensif. (hd/liputanislam.com)

*Dr. Farish A. Noor adalah seorang ilmuwan politik dan aktivis HAM malaysia, Peneliti dan Dosen di Center for Modern Orient Studies, Berlin, Jerman. Tulisan ini diambil dari karyanya Islam Progressif : Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara, Samha : Yogyakarta, 2006.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL