Oleh : Khaled Abou el-Fadl

abou el-fadhlTeror melumpuhkan perasaan dan membekukan akal. Kelincahan gerak tubuh beringsut ketakutan dan akal berupaya keras untuk memahaminya. Seperti penyakit, teror adalah keadaan kacau balau. Seperti kesehatan, kedamaian adalah ketentraman yang penuh semangat. Tapi teror jarang menjadi tujuan atau sasarannya sendiri.

Ketakutan-mencekam yang dilihat seorang teroris di mata korbannya bukanlah tujuannya. Tujuannya adalah akibat buruk setelah teror itu, ketika kepanikan mereda dan ketakutan timbul. Terorisme adalah pesan simbolis yang dikomunikasikan melalui kekerasan. Kaum yang lemah berjuang keras mengomunikasikan penolakan mereka untuk menyerah, sedangkan kaum yang kuat berusaha keras mengomunikasikan tuntutan mereka untuk menyerah. Sebenarnya, kaum lemah hanya mengomunikasikan ketidakberdayaan-mereka yang mengenaskan, dan kaum kuat mengomunikasikan dominasi-mereka yang tak terkekang.

Berita-berita beredar masih tentang serangan teroris yang lain. Teror menyerbu ketentraman penuh semangat yang ada dalam musyawarah dan menimbulkan kekacauan yang luar biasa. Menurut sifatnya, teror adalah penghentian penggunaan nalar, dan tanpa keseimbangan nalar, Musyawarah ini terhenti. Menurut esensinya, kemampuan untuk bernalar berarti kemampuan untuk memahami dan membedakan. Teror tidak mencari pemahaman maupun perbedaan; teror berusaha menggeneralisasi dan menstereotipkan korbannya. Teror mengingkari korbannya memiliki nilai yang berasal dari perbedaaan kepribadian dan mengubah individu menjadi suatu sebab.

Para ahli hukum Islam berbicara tentang penjahat yang mengincar kaum tak berdaya dan lemah, yang menyerang secara tiba-tiba dan tanpa pandang bulu, dan yang menggunakan teror sebagai metode utama untuk mencapai tujuannya. Mereka menyebutnya muharib. Penjahat seperti ini dinyatakan sebagai yang paling keji dan tidak patut mendapat ampunan. Fakih Ibnu Rusyd al-Jadd (w.520 H/1126 M), kakek filsuf besar Ibn Rusyd, menetapkan bahwa seorang penjahat yang meneror manusia di rumah mereka adalah seorang muharib, dan Ibn al-Arabi (w.543 H/1148 M), fakih Maliki, menyatakan bahwa seorang pemerkosa adalah seorang muharib juga. Teks-teks dalam musyawarah ini penuh dengan wacana tentang kejahatan fitan (perselisihan sipil) dan doa mohon perlindungan dari keadaan teror, karena dalam keadaan ketakutan dan teror, dan ketika keamanan tidak ada, mereka menyatakan, “Doa maupun pemikiran tidak bisa dilakukan sebagaimana mestinya dan sunnah Tuhan di muka bumi ini tidak berjalan.”

Di zaman sekarang, ada banyak alasan mengapa doa atau pemikiran tidak dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Begitu banyak orang yang hidup dirundung ketakutan yang akhirnya membuat akal sehat membeku. Kebahagiaan lebih merupakan sikap tidak peduli yang diterima ketimbang respons rasional terhadap realitas. Orang hidup dengan penuh ketakutan yang jauh lebih nyata dan jauh lebih menjemukan ketimbang ancaman serangan teroris. Ketakutan menjadi berkurang dalam jumlah atau statistik, masuk dalam persentase kelompok pengangguran, orang bangkrut, dan tunawisma, yang semuanya masih selalu ada. Bagaimanapun juga para ahli hukum Muslim benar. Seorang penjahat yang mengincar penduduk sipil, dan menyerang tiba-tiba dan tanpa pandang bulu, memang benar-benar keji. Mereka yang menggunakan teror sebagai metode utama berkomunikasi adalah orang yang tercela.

Namun demikian, pengguna kekerasan sebagai alat berkomunikasi tidak hanya teroris yang kejam. Teroris intelektual juga sama kejinya. Teroris intelektual adalah pemeras emosi. Teroris-teroris ini, yang kerap kali bersikap diskriminatif terhadap ras, jenis kelamin, kelas, atau fanatik dalam beragama, menggunakan bahasa teror. Mereka menggeneralisasi dan mengesensialkan suatu bangsa, lalu menjadikannya sebagai suatu fenomena. Mereka menciptakan rasa takut dan teror terhadap korbannya dan memaksa mereka terdiam ketakutan.

Saya mendengarkan aliran tanpa henti perbincangan tentang bangsa Arab dan kaum muslim serta ancaman teroris. Banyak sekali para oportunis politik, pencari karir, pemburu gosip, dan teroris intelektual yang menyebarkan bualan kata-kata sambil merasa benar sendiri tentang Islam politik, Islam militan, dan kekuatan jahat fundamentalisme. Seluruh bidang simbolis Islam—panggilan salat, posisi sujud dalam salat, jilbab—secara konsisten digunakan dan dikaitkan dengan sikap tidak ramah dan menakutkan. Dalam demam pangulasan tentang yang-serba-muslim, selalu ada isyarat tentang kelompok yang ganjil, misterius, dan tidak dikenal. Sebagian teroris yang secara intelektual kurang canggih tidak sungkan-sungkan memberikan sebuah kata sifat untuk kata Islam dan langsung berbicara tentang ancaman Islam atau kekerasan muslim. Satu-satunya emosi dan perasaan yang secara berketerusan ditunjuk dan dimunculkan pada pendengar mereka adalah emosi ketakutan dan perasaan teror. Pendengar didorong supaya takut dan membenci kaum muslim, dan kaum muslim didorong untuk hidup dalam ketakutan.

Saya merasakan derita heningnya musyawarah dan lumpuhnya nalar. Kaum muslim telah distereotipkan serta digeneralisasi dan mereka mengalami penderitaan terorisme dalam bentuk yang berbeda, teror dipecat dari pekerjaan, diserang di jalanan, dilecehkan dan diskriminasikan. Mereka takut brutalisasi yang menimpa bangsa Bosnia dan Kashmir—eksekusi, pemerkosaan, dan ketidakacuhan dunia. Saya berdoa semoga musyawarah buku akan berbicara lebih keras daripada sebelumnya. Satu-satunya respons dan penawar untuk teror kebodohan adalah ketentraman nalar. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Khaled Abou el-Fadl, Musyawarah Buku.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*