Oleh Abu Ikhwan asy-Syatari

aliran sesataliran sesat

aliran sesatAdanya berbagai macam agama dan aliran pemikiran adalah sebuah realitas yang terpampang di hadapan kita, dan masing-masing agama dan aliran pemikiran tersebut mempunyai pengikut yang kualitasnya juga beragam, ada yang taat, biasa-biasa saja, atau sekedar masuk hitungan, dan ada juga yang fanatik.

Masing-masing orang yang dengan sadar memilih agama atau aliran pemikiran tertentu, pastilah karena dia menganggap aliran pemikiran tersebut benar dan didasari keinginan yang kuat agar memperoleh kebaikan dan kebahagiaan dengan menerapkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran tersebut.

Bagaimanapun jua kebenaran itu bersifat mutlak. Namun apakah suatu pemahaman yang kita yakini sebagai suatu kebenaran adalah kebenaran yang mutlak? Untuk itu perlu pengujian kembali, agar apa yang kita yakini itu bukan sekadar sebagai klaim belaka.

Dalam pepatah Minangkabau dikatakan : Emas tahan uji, bungkal tahan asah. Begitu juga dengan kebenaran yang akan menjadi dasar dari segenap tindak laku kita di tengah-tengah kehidupan ini, haruslah menjadi keyakinan yang kokoh dengan dukungan argumentasi dan pembuktian-pembuktian yang logis dan rasional.

Namun karena kemampuan berfikir manusia tidak sama, kebenaran yang diyakini yang merupakan perolehan dari pengembaraan intelektualnya kemudian diformulasikan menjadi sebuah doktrin, lantas berkembang menjadi sebuah aliran yang saling berbeda satu sama lain. Perbedaan doktrin inilah yang menyebabkan jarak bagi masing-masing panganut agama dan mazhab pemikiran dengan memberi predikat “kami” terhadap orang-orang yang satu pandangan, dan “mereka” bagi kelompok lain. Klaim “kamilah yang berada di atas kebenaran” menjadi wacana yang populer di tengah-tengah mereka yang berada dalam satu kelompok, dan mengklaim kelompok lain sebagai golongan yang sesat.

Budaya saling tuding dan saling tuduh akibat klaim-klaim sepihak tanpa mengadakan dialog santun dengan pihak lain, menyebabkan keutuhan umat dalam posisi rawan perpecahan. Satu kelompok menganggap kelompok yang berbeda dengannya sebagai ancaman yang bukan sekedar akan dikalahkan dalam perdebatan teologis, tapi juga harus terbunuh secara politis bahkan dibasmi dari bumi Allah ini.

Tudingan yang nyaris sama dilontarkan kembali oleh kelompok yang dituduh, sebagai reaksi atas tuduhan dari kelompok pertama, dan bisa jadi sikap yang sama juga akan muncul dari sementara kalangan penganut aliran tersebut yang bersikap ekstrim. Tak terelakkan perang tudinganpun terjadi, yang perlahan namun pasti – bila tidak segera diantisipasi – akan menimbulkan pertentangan bahkan peperangan di antara mereka.

Dalam tulisan ini saya ingin mengajak berbagi dalam mencari pemecahan problem yang luar biasa rumitnya ini : Golongan manakah yang tidak sesat? Apa yang menjadi kriteria suatu golongan itu berada di atas kebenaran, dan yang sebaliknya, yang menyimpang?

Dari masing-masing golongan, para pemukanya mengajukan bukti-bukti sesat atau menyimpangnya golongan lain dari kebenaran, dan mengklaim kelompok mereka pasti benar. Bila kita membuat daftar kelompok yang dinilai sesat oleh kelompok lain, maka bisa dipastikan semua kelompok pasti masuk dalam daftar kelompok sesat. Kemudian kita membuat satu daftar kelompok yang tidak sesat, maka tidak akan dapat kita temukan dalam daftar tersebut satu kelompok saja pun yang disepakati oleh semua golongan sebagai golongan yang selamat dari kesesatan.

Yang lebih pelik lagi, bila kita membenarkan klaim suatu golongan bahwa kelompok lain itu sesat, dan kemudian kita juga membenarkan klaim kelompok lain bahwa yang sebenarnya sesat adalah kelompok yang melontarkan tuduhan, kita akan menarik kesimpulan : sesungguhnya klaim kedua kelompok itu sama-sama benar, bahwa mereka itu sama-sama “sesat”. Maka kelompok siapa sebenarnya yang tidak sesat?

Kemudian ada lagi anggapan, kelompok yang menyimpang itu adalah aliran pemikiran yang berbeda dari arus utama suatu komunitas, tapi anehnya mereka mengatakan bahwa tidak selamanya arus utama itu pasti benar. Bagaimana pula jika ada dua atau lebih arus utama yang berbeda atau bahkan bertolak belakang satu sama lain dalam suatu komunitas, mana arus yang benar-benar “Benar” ?

Juga ada anggapan yang mengatakan bahwa aliran sesat itu adalah pemahaman atau kegiatan yang mengundang keresahan masyarakat. Menurutku ini adalah pendapat yang sangat ngaco. Standar “meresahkan” maupun “menyenangkan” masyarakat itu sangat subjektif sekali. Dalam masyarakat yang gemar kemaksiatan, pemahaman ataupun sikap dan tindakan yang baik itu akan sangat meresahkan mereka. Suatu tatanan yang sudah dianggap mapan dalam suatu komunitas akan merasa resah bila muncul pemahaman baru yang mereka anggap potensial merombak tatanan tersebut.

Dengan membaca sejarah kita bisa melihat betapa resah masyarakat kota Makkah dengan misi kenabian Muhammad SAW yang akan merombak tatanan jahiliyah mereka yang sudah mapan. Berdasarkan anggapan masyarakat saat itu Muhammad adalah orang gila, pembohong dan tukang sihir. Perlu diingat, sebelumnya mereka sepakat memberi gelar kepada Muhammad SAW “orang yang terpercaya (al-amin)”. Mereka tidak resah dengan keberadaan Muhammad SAW sebelum mengemban Risalah Allah, namun mereka resah ketika Beliau mendakwahkan Islam. Apakah Beliau sesat sesudah mendakwahkan Islam karena meresahkan masyarakat?

Begitu juga pada awal abad 20, berdirinya organisasi Muhammadiyah juga meresahkan masyarakat bahkan para ulama tradisional kala itu. Walau sekarang telah menjadi salah satu di antara arus utama (mainstream) di dalam kalangan muslim Indonesia. Namun pada saat itu, Persyarikatan Muhammadiyah dituding sebagai agama baru, padahal organisasi ini melakukan reformasi dalam pemahaman Islam. Dengan jargon “kembali kepada Al-Quran dan Sunnah” , Persyarikatan Muhammadiyah telah memberikan sumbangsihnya yang besar dalam memberantas tahayul, bidah dan khurafat yang mendominasi akidah ummat Islam Indonesia, juga membebaskan ummat dari taqlid buta terhadap tradisi dan menghidupkan kembali semangat tajdid (pembaharuan). Apakah pada saat itu Persyarikatan Muhammadiyah sesat karena berbeda arus dengan mainstream, dan sekarang tidak lagi karena sudah menjadi mainstream?.

Problem catur Anatoli Karpov, dalam beberapa hari mungkin akan berhasil aku pecahkan, namun problem “manakah aliran yang tidak sesat?” hingga saat ini masih belum dapat aku temukan pemecahannya, dan aku yakin aku tidak akan mampu dengan keterbatasan yang ada padaku. Dalam pencarian ini aku sangat tidak mengaharapkan tudingan sebagai orang yang sesat, walau mungkin saja aku masih belum berada di jalan-Nya.

Begitupun, bukanlah berarti aku memahami kebenaran itu bersifat relatif. Aku yakin adanya kebenaran mutlak, dan pemilik kebanaran mutlak itu hanyalah Yang Maha Mutlak. Betapa Maha Bijaksana Dia yang mengajar kita memohon kepadanya : “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.(QS Al-Fatihah (1) :6) . Dan aku yakin, dengan petunjuk-Nya, kita akan berada di atas kebenaran walau seluruh manusia di atas dunia ini menuduh kita sesat. Sebaliknya, kita tetaplah sebagai orang atau kelompok yang sesat apabila kita menolak petunjuk-Nya, walau seluruh dunia sepakat mengatakan bahwa kita adalah orang yang mendapat petunjuk.

Satu hal lagi yang aku yakin, Allah SWT tidak pernah meminta pertimbangan seseorang dalam menentukan pilihan mengenai siapa yang akan ditunjuki-Nya, dan tidak menerima keberatan seseorang ketika menetapkan tentang kesesatannya. Ketentuan siapa yang sesat dan siapa yang mendapatkan petunjuk adalah hak prerogatif-Nya semata. Kita hanya senantiasa mengharap bimbingan-Nya. Kita tidak diperintahkan untuk menuding dan menuduh seseorang ataupun kelompok lain sebagai sesat. “Adakan perhitungan oleh diri kalian sendiri sebelum diadakan perhitungan terhadap diri kalian”, demikan pesan Khalifah Umar r.a. Wallahu a’lam. (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL