Oleh : Bob Piliang*

bob - CopyTidak berlebihan juga kiranya umat Islam boleh berbangga dengan peradaban Islam masa lampau, karena peradaban Islam masa lampau tersebut mengisahkan tentang kemajuan dunia Islam dalam bidang sains, politik, sosial budaya, ekonomi, serta intelektual dan pendidikan yang membuat belahan dunia Barat saat itu terpukau dan berbondong-bondong belajar menimba ilmu kepada dunia Islam. Memang fakta sejarah yang tidak bisa dilupakan dan sampai sekarang pun masih dielu-elukan, sehingga sebagian kalangan Islam ingin kembali bernostalgian dengan memunculkan peradaban kekhalifahan Islam masa lampau tersebut di masa kini, meskipun terkadang dengan cara-cara yang tidak layak. Misalnya, dengan melakukan tindakan kekerasan dan terorisme.

Selain itu, perlu pula diingat, bahwa puncak peradaban Islam masa lalu juga dibarengi dengan krisis faksi-faksi politik, yang mana prahara konflik faksi-faksi tersebut tidak sedikit melahirkan pertumpahan darah.Tentu saja, krisis pada masa-masa tersebut adalah sejarah Islam yang memalukan, mengingat Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin” (rahmat bagi seluruh alam). Bagaimana mungkin, sesama antar manusia yang mengaku muslim hanya demi kekuasaan rela menumpahkan darah saudara seagamanya.

Namun, meskipun begitu, sejarah kelam masa lalu umat Islam tentunya tidak boleh menghambat umat masa kini untuk menentukan harapan-harapan masa depannya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ziauddin Sardar, bahwa masa depan adalah fondasi bagi harapan-harapan dan aspirasi umat Islam, dengan segala kekuatiran dan kegelisahannya. Masa depan umat ini, sambungnya, bergantung tidak hanya pada masa lalu masyarakat-masyarakat Muslim, melainkan juga pada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mereka canangkan di masa kini, serta visi untuk masa depan. Masa depan adalah ladang ketidakpastian, dia juga merupakan bagian atas mana kita mempunyai sedikit kekuasaan. Kemampuan untuk membentuk masa depan sendiri dimiliki oleh semua individu dan masyarakat. Dengan demikian, ketidakmampuan kita untuk mengetahui fakta-fakta masa depan diimbangi oleh kemampuan kita memberi masukan bagi pembentukan fakta-fakta ini.

Pola kemajuan peradaban dunia yang berkembang dalam sejarahnya ditandai dengan era modernisme, neo-modernisme, disusul dengan post modernisme yang memberikan keterbukaaan pada sleuruh umat mengakses apapun tanpa terhalang dengan batas-batas geografis (globalisasi) yang mengakibatkan umat Islam yang tidak siap menghadapinya akan dilanda kegamangan dan grogi. Kondisi ini akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar karena menempatkan umat Islam sebagai penonton ketimbang pemain. Sebagai penonton, maka umat Islam tak akan mampu memberikan masukan-masukan penting bagi perbaikan dunia, sehingga gambaran masa depan Islam bisa saja lebih suram dari hari ini. Hal ini disebabkan, tindakan-tindakan sebagian komunitas Muslim dan organisasi internasionalnya yang menampilkan radikalisme dan kekerasan, dan terorisme, sehingga krisis kepercayaan Internasional terhadap umat Islam semakin terasa dan Islam didiskreditkannya sebagai agama yang keras, agama teroris, atau agama bar-bar. Lihatlah tindakan terorisme ISIS yang bertopengkan agama mendapatkan kecaman di seluruh dunia. Problema-problema sosial ini harus secepatnya diatasi dan tidak bisa didiamkanbegitu saja.

Alternatif-alternatif masa depan, menurut Sardar, hanya dapat diwujudkan jika langkah-langkah pragmatis ditujukan pada alternatif-alternatif ini sejak sekarang. Kita perlu memiliki cukup pengetahuan tentang pilihan-pilihan yang ada saat ini, sebelum masa depan datang. Kita perlu memiliki cukup pengertian tentang masa depan, agar kita dapat mengambil tindakan yang tepat untuk mengubahnya menjadi fakta-fakta. Berjalannya waktu tidak akan membuat masa depan yang diinginkan menjadi suatu kenyataan, pun tidak akan meningkatkan pengetahuan kita akan masa depan.

Masa depan seiring dengan pembentukan karakter yang betul-betul matang tentu saja bisa mempersiapkan hasil yang gemilang, bukan dengan cara yang instan tapi dengan pengetahuan yang betul-betul dipersiapkan.Tawaran ini bukanlah hal yang sembarangan dan juga bukan berlebih-lebihan. Fakta-fakta masa depan yang dipersiapkan dengan pengetahuan bisa dipertanggungjawabkan dan diwarisi generasi mendatang. Untuk ini umat Islam kembali berkaca diri dengan melihat eksistensi dirinya berupaya kembali menggali peradabannya. Lantas bagaimana masa depan Islam? Jawabannya bisa beragam, dan aplikasinya pun banyak corak dan warna yang bisa ditawarkan sebagaimana para ilmuan Islam sudah menulis buku tentang itu di era informasi ini. Tapi yang paling penting masa depan Islam harus dibentuk melalui mekanisme tanpa kekerasan, tanpa kebencian sektarianisme dan terorisme yang bertopengkan agama. Semoga! (hd/liputanislam.com)

*Bob Pilinag adalah aktivis dan penggiat kajian politik Islam.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL