kuburan yunusSalah satu yang cukup menghebohkan belakangan ini adalah penghancuran dan penjarahan makam Nabi Yunus as di Mosul oleh kelompok ISIS. Dengan beringasnya mereka merusak bangunan indah makam tersebut yang tentu saja dibangun sebagai tanda penghormatan kepada Nabi Yunus as. Mereka beralasan bahwa membangun kuburan adalah sebagai bentuk penyembahan kepada makhluk dan kesyirikan yang nyata. Tentu saja pendapat ini bukan hal yang baru, karena pandangan seperti ini dianut oleh kelompok-kelompok takfiri sebelum ISIS berdiri. Karena itu pada kesempatan ini, LI akan menganalisis masalah membangun kuburan para nabi dan rasul, wali, ulama, serta orang-orang saleh lainnya, agar kita tidak terjebak pada sikap ekstrim kaum jihad-takfiri ini yang mengatasnamakan agama. Tulisan ini dibuat dalam beberapa bagian.

 

b. Kuburan Orang Suci Termasuk Syiar Allah

“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya tindakan ini adalah sebagian dari tanda ketakwaan hati” (Q.S. al-Hajj : 32)

Kata sya’air berasal dari kata sya’irah (syiar) secara bahasa berarti tanda, lambang. simbol atau alamat. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa penggunaan kalimat sya’airallah dalam ayat di atas bermakna tanda-tanda agama Allah, program-program umum, tindakan-tindakan, tempat-tempat atau apapun yang mencerminkan agama Allah dan mengingatkan manusia kepada-Nya. Misalnya, di dalam al-Quran disebutkan bahwa bukit Shafa dan Marwa sebagai syiar Allah, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar (dan tanda-tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang melakukan ibadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa (baca: larangan) baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati (di samping kewajiban itu), sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui” (Q.S. al-Baqarah : 158)

Begitu juga dengan manasik haji dan unta disebut sebagai syiar-syiar Allah :

“Demikianlah (manasik haji itu). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya tindakan ini adalah sebagian dari tanda ketakwaan hati” (Q.S. al-Hajj : 32).

“Dan telah Kami jadikan untukmu unta-unta gemuk itu sebagian dari syiar-syiar Allah (pada saat pelaksanaan ibadah haji). Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berbaris (berdiri). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang-orang fakir yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang-orang miskin. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (Q.S. al-Hajj: 36)

Tentu saja bukit Shafa da Marwa, manasik haji dan qurban unta disebut merupakan syiar Allah dikarenakan hal-hal tersebut menunjukkan pada keagungan, ketaatan dan penyembahan kepada Allah swt. Jika bukit shafa, marwa dan binatang unta menjadi syiar Allah, maka tentu para Nabi, wali, ulama dan orang-orang saleh yang menjadi pembawa dan pendakwah agama lebih layak menjadi syiar-syiar Allah yang diagungkan. Dan salah satu cara dari mengagungkan syiar-syiar Allah ini adalah dengan menjaganya dan menjadikannya sebagai pusat-pusat penting pengajaran agama agar terhindar dari kemusnahan dan kerusakan. Terlebih lagi hal itu memberikan pembelajaran sejarah bagi kita akan tempat-tempat dan kehidupan para orang-orang saleh tersebut, dan mengambil pelajaran dari sejarah adalah salah satu ajaran penting menurut syariat dan akal. Karena itu, konsep sya’airallah ini bersifat umum yang mencakup apa saja yang menjadikan manusia ingat pada Allah dan agama-Nya, dan mengagungkan syiar-syiar Allah ini merupakan cermin ketakwaan hati, “Demikianlah (manasik haji itu). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya tindakan ini adalah sebagian dari tanda ketakwaan hati” (Q.S. al-Hajj : 32).

Membangun dan menjaga kuburan para wali adalah salah satu bentuk pengagungan pada agama Allah swt, karena membangun dan menjaga kuburan para wali termasuk dari cara mengagungkan syiar-syiar kebesaran Allah dan agama Islam. Dalam salah satu riwayat Rasul saw bersabda, “Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin alMustamir alUruqi yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhabbab Abu Hamam yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman dari Manshur dari Mujahid dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw bersabda “Di dalam masjid AlKhaif terdapat kuburan atau makam tujuh puluh Nabi” (Musnad al-Bazzar 2/48 no 1177)

Karena itu, peghacuran bangunan-bangunan yang melindungi makam-makam suci dengan tindakan brutal yang dilakukan kaum jihadi-takfiri seperti ISIS adalah bentuk ekstrimisitas dalam beragama dikarenakan kekeliruan memahami berbagai teks dan konteks keagamaan. Sebab teks dan konteks serta sejarah panjang ajaran Islam selalu mengindikasikan penghormatan pada bekas-bekas peninggalan yang memiliki nilai perjuangan dalam mendakwahkan ajaran Tuha. Berikutnya pada bagian ketiga kita akan ulas penghormatan Islam pada bekas-bekas peninggalan sejarah manusia suci. (hd/liputanislam.com)

Baca bagian pertama : http://liputanislam.com/kajian-islam/takfirisme/membangun-kuburan-orang-orang-suci-bolehkah/

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL