“Tidak ada paksaan dalam hal agama, sungguh telah jelas yang mana yang lurus dan yang mana yang menyimpang. maka barangsiapa yang mengkafiri taghut dan beriman kepada Allah, sungguh telah berpegang kepada tali yang kuat yang tidak akan putus”

(Q.S. al-baqarah ayat 256)

kebebasan 4Dalam Islam kita diberi kebebasan dalam berfikir dan memilih yang terbaik bagi diri kita berikut konsekuensinya. Kebebasan manusia dalam berfikir dan beraqidah sangat dihargai. Para Rasul diutus Allah tidak lain hanyalah sebagai penyampai kebenaran, mengenai diterima atau ditolaknya seruan para Penyampai kebenaran tersebut- tergantung kepada para pendakwahnya. Dalam Alquran juga disebutkan : “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”. (QS al-A-ghaasyiyah: 21-22).

Dalam dakwahnya kepada kalangan musyrikin Quraisy maupun bangsa Arab pada umumnya, Rasulullah saw tidak pernah menggunakan cara-cara yang bersifat memaksa, mengancam maupun membujuk agar orang memilih Islam. Melainkan dengan akhlak beliau yang agung, dengan kelembutan jiwa, dan argumentasi yang logis serta seruan yang bijaksana.Beliau tampil dengan keteladanan yang sempurna, sehingga dalam Islam mereka menemukan kebebasan yang sejati.

Sebaliknya kebebasan beragama yang digaungkan oleh Barat sebenarnya hayalah kamuflase belaka. Isu kebebasan beragama yang mereka hembuskan hanyalah sarana manipulasi yang digunakan untuk membenarkan ketidakberagamaan. Sebab, orang yang tidak beragama bahkan jauh dari nilai-nilai masyarakat yag dibenarkan oleh agama mendapat tempat setara dengan yang beragama dalam medakwahkan misi mereka di ruang-ruang publik.

Bila mereka memakai kebebasan beragama sebagai memberi keleluasaan bagi setiap orang, muslim maupun non muslim, teis atau ateis, di tengah-tengah masyarakat dalam berinteraksi sesama mereka dan dengan umat beragama atau umat Islam, maka hal itu bisa kita saksikan aturan dan feomenanya dalam Piagam Madinah yang disusun konsepnya oleh Rasulullah saw pada abad ke-7. Itulah konstitusi tertulis yang pertama di dunia, berabad-abad mendahului Deklarasi tentang Hak-hak Asasi Manusia yang dirumuskan oleh PBB.

Sedangkan jika kebebasan beragama dimaknai sebagai membenarkan semua agama atau menyamakan semua agama, maka itu adalah pendapat yang sangat keliru sekali. Dengan mudah kita akan melihat bahwa agama itu berbeda, dan setiap agama memang memiliki klaim kebenaran dan keselamatan bagi penganutnya. Kita memang harus menghormati setiap agama, tetapi tidak mungkin membenarkan semua agama dalam segala aspeknya padahal antara satu agama dan lainnya saling bertentangan.

Begitu pula, tidak tepat jika kebebasan beragama dimaknai sebagai bebas untuk berpindah-pindah agama. Sebab, hal itu lebih pada megedepakan hasrat selera keberagamaan daripada argumetasi dan bukti. Beragama ada pilihan, tidak eragama juga pilihan. Beragama Islam adalah pilihan, begitu pula dengan beragama Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, Zoroaster, Konghucu, dan lainnya. Namun, memilih agama bukanlah memilih makanan yang hanya disesuaikan dengan selera si penikmat, tetapi melupakan efek-efek yang ditimbulkan dan bahaya makanan. Memilih agama adalah memilih dengan berdasarkan argumentasi dan bukti, bahaya dan keselamatan, kebenaran dan kesalahan dengan analisa yag baik. Bukan coba-coba, sehingga sebentar di agama ini, kemudian ke agama itu, dan berikutnya ke agama sana, sini, dan situ. Berpindah-pindah agama dengan cara seperti itu adalah pelecehan terhadap agama itu sendiri. Apalagi hasil dari cara-cara seperti itu, hanyalah campur aduk ragam ajaran agama-agama.Hal itu tidak dapat disebut sebagai agama, tetapi lebih tepat sebagai gado-gado.

Kebebasan beragama semestinya adalah kita bebas dalam menentukan pilihan untuk memeluk agama yang akan kita yakini dan jadikan sebagai jalan hidup. Juga bebas menjalankan pelaksanaan tradisi dan tatacara dalam ibadah ritual menurut keyakinannya tadi tapa tekanan da paksaaan dari pihak manapun. Juga diberi kebebasan dalam mendakwahkan apa yang diyakininya tadi degan kejujuran ilmiah, dan menjaga batasan-batasan norma yang ada, serta menghormati keyakinan, tradisi dan tatacara bagi mereka yang berbeda dengan kita. Kita tidak perlu seperti kelompok takfiri yang degan mudah menuding dan menuduh mereka yang mencari jalan keselamatan dunia akhirat sebagai orang yang sesat, kafir, musyrik dan sebutan jelek lainnya. Kita harus erpegang pada prinsip, “setiap orang akan memetik hasil dari apa yang diusahakannya”. (hd/liputaislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL