islamic_jihad_union_2Slogan penting yang terus menggelinding menyertai pemikiran Islam di sepanjang generasi adalah panggilan jihad. Slogan ini memiliki pengaruh psikologis dan emosional yang kuat dalam diri banyak umat Islam di sepanjang sejarah Islam, ketika umat Islam berada dalam konfrontasi politik dengan negara non Islam. Namun, seringkali pemaknaan jihad dipersempit bahkan diselewengkan menjadi perang, sehingga setiap organisasi yang mengumumkan perang, maka dianggap sebagai organisasi jihad, seperti slogan ala al-Qaida dan ISIS. Sehingga di Barat, istilah ini dimengerti sebagai perang suci (holy war), yang diartikan sebagai perang yang dilancarkan oleh negara Islam terhadap negara non-muslim dalam rangka menyebarkan Islam atau membela diri melawan orang-orang asing atau pengaruh asing. Kata ini muncul berkali-kali dalam Al-Quran dan hadits.

Selama masa awal Islam di Makkah (610-622 M), jihad berarti bekerja untuk menyebarkan agama baru dan melawan orang-orang kafir Makkah yang menolak untuk menerimanya dan menyiksa pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw. Hingga, di bawah kepemimpinannya, mereka hijrah ke kota Yatsrib (Madinah). Setelah Nabi Muhammad saw meraih kemenangan dalam perang Badar dan menaklukkan Makkah kembali, istilah jihad berarti perang suci melawan orang-orang kafir secara umum, bukan hanya orang-orang kafir Makkah.

Cendekiawan liberal Mesir, Asymawi memahami konsep jihad lebih dalam pengertian spiritual, daripada pengertian kaum militan yang menganggapnya sebagai perang melawan orang-orang kafir atau orang-orang yang mengingkari Islam. Ia menafsirkan asal istilah itu sebagaimana yang dijelaskan diatas, sembari mencatat bahwa kata ini berasal dari kata kerja jahada, bersungguh-sungguh. Penggunaan konsep ini bersifat spiritual, yang berarti menahan atau perjuangan seorang Muslim untuk mengontrol diri. Ia berkewajiban untuk melakukan usaha fisik atas nama Allah, agama dan kebenaran dalam perjuangannya melawan orang-orang kafir Makkah. Umat Islam harus menghadapi tekanan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir untuk memusnahkan agama baru dan harus menyingkirkan kejahatan yang diarahkan kepada dirinya.

Asymawi menekankan konsep ini diperluas oleh organisasi jihad hingga menjadi sebuah panggilan bagi dukungan material disamping gagasan perjuangan dan dukungan spiritual. Padahal, Islam sama sekali tidak memiliki hubungan dengan fakta dan cara yang ditempuh oleh anggota-anggota organisasi jihad, yang mana, dalam perjuangan jihadnya, merekamencari finansial dengan menyerang dan merampas toko-toko perhiasan milik orang-orang koptik, membunuh mereka dan mencuri harta kekayaan mereka. Hal ini terkait dengan fatwa yang disampaikan oleh seseorang yang membolehkan hal itu atas nama jihad.

Atas nama jihad Islam, anggota-anggota Organisasi Jihad melakukan tindakan kriminal yang paling buruk. Mencuri, membunuh, dan menyerang orang lain. Mereka menuduh seluruh masyarakat murtad. Setiap orang di dalam masyarakat ini sudah menjadi kafir, sehingga mereka pantas diperangi dan darah mereka lebih murah dibandingkan air, nyawa mereka lebih murah dibandingkan debu, kehidupan mereka lebih murah dibandingkan tiket kereta api. Kekerasan merupakan karakter umum organisasi ini, kekuasaan merupakan fenomena yang paling nyata, teror merupakan ciri khasnya sejak organisasi jihad ala al-Qaida atau ISIS dilahirkan hingga saat dikuburkan.

Padahal, Islam tidak pernah menjadi agama terorisme. Islam tidak ambil bagian dalam membunuh seorang warga negara yang tengah duduk di tokonya dengan aman, menjadikan anak-anak mereka sebagai anak-anak yatim atau menghancurkan rumah-rumah mereka dengan alasan agama mereka berbeda dengan agama anda, atau seorang amir mengeluarkan hukuman dan salah, yang memaksa seorang warga negara membayar teror ini dalam hidupnya.

Pemikir lainnya, Husain Fauzi An-Najjar mencatat bahwa Islam tidak menolak perang sebagai fenomena sosial, tetapi berusaha untuk membersihkannya dari semua motif yang merangsang dan gaya yang ditempuh. Perang dalam Islam merupakan fakta khusus, tetapi tujuannya adalah untuk menghilangkan kejahatan, menghindari tragedi dan mengangkat kebenaran diatas kesalahan. Jadi, alasan-alasan yang mendorong perang dalam Islam adalah pembelaan diri, pembelaan iman dan kebebasan untuk berdakwah bukan demi agresi atau tirani.Islam mengutuk keras tirani dandalam Q.S. Al-Hajj: 39-41 dikatakan agar perang dilakukan untuk memerangi orang-orang yang menindas dan mengusir masyarakat dari kampung halamannya.

Dengan demikian, perang adalah untuk mengakhiri penindasan dan agresi. Perang merupakan suatu kewajiban ketika dilakukan berdasarkan alasan-alasan yang dibenarkan, dan ini adalah pengertian jihad dalam Al-Quran. Dengan demikian jihad adalah perang melawan tirani, penindasan dan agresi hingga umat Islam selamat dan kebebasan untuk mendakwahkan iman mereka dijamin. Jihad bukanlah apa yang dikemukakan secara sengaja oleh orang-orang ketika menafsirkan jihad sebagai penyebaran Islam melalui pedang atau memaksa orang melalui kekuatan senjata agar mereka masuk Islam. Perang merupakan salah satu bentuk jihad, tetapi bukan totalitasnya, karena jihad dalam Islam bukan hanya perang dan bukan perang melawan orang lain atas nama kebenaran saja, tetapi juga perang melawan nafsu pribadi. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL