BeritaSeseorang berasal dari Syam datang ke Madinah untuk menziarahi makam Rasululah saaw. Saat berziarah, dia melihat seorang penunggang kuda yang begitu mulia dan hebat serta menarik perhatian. Penunggang kuda itu diikuti oleh pengikutnya dari segala arah, dengan sabar menunggu bimbingannya. Orang Syam itu merasa heran. Dia diberitahu bahwa orang tersebut adalah Hasan bin Ali bin Abi Talib.

Apakah dia anak Abu Turab, Khariji?” Tanya orang Syam tersebut. 

“Benar!” jawab para sahabat Imam Hasan.

Mengetahui hal itu, diapun kemudian melaknat dan menghina Imam Hasan dan ayahnya Ali bin Abi Thalib. Sahabat-sahabat Imam Hasan marah dan menghunus pedang untuk membunuh orang Syam itu, tetapi dilarang oleh Imam Hasan. Kemudian, Imam Hasan turun dari kudanya, menyambut mesra orang Syam itu, dan dengan sopan bertanya kepadanya, “Kelihatan anda orang asing di daerah ini?”

“Ya, saya dari Syam,”jawabnya.

Imam Hasan kepadanya, “Kamu adalah tamu saya.’”

Orang Syam itu menolak, tetapi Imam Hasan terus mendesaknya sehingga dia setuju.

Imam Hasan melayani orang tersebut dengan pelayanan yang terbaik. Pada hari keempat, orang Syam itu mulai menunjukkan tanda-tanda penyesalan dan bertaubat atas kelakuannya yang telah menghina Imam Hasan bin Ali bin Abi Talib. Dia teringat bagaimana dia telah menyumpah dan menghina beliau, sedangkan beliau disini terlalu baik dan pemurah. Dia meminta Imam Hasan untuk memaafkan segala kelakuannya yang lalu.

Imam Hasan bertanya, “Adakah kamu membaca Alquran”?

“Saya telah menghafal keseluruh teks Alquran,” jawabnya.

Imam Hasan bertanya kembali, “Tahukah Anda siapa Ahlul Bait yang Allah telah menghapuskan segala kekotoran dan yang telah disucikan dengan kesucian yang sempurna?”

Orang Syam itu menjawab, “Mereka adalah Muawiyah dan keluarga Abu Sufyan”.

Mereka yang hadir disitu amat terkejut mendengar jawaban tersebut.

Imam Hasan tersenyum dan berkata kepada orang itu, ‘Saya adalah Hasan bin Ali bin Abi Thalib.  Ayah saya adalah sepupu dan adik Rasulullah Saw; ibu saya adalah Fatima az-Zahra sayyidat al-nisa al-alamin (pemimpin seluruh wanita di semesta alama); Datuk saya adalah Muhammad Rasululah Saw sayyid al-anbiya (pemimpin seluruh nabi). Paman saya adalah Hamzah dan Jafar al-Tayyar as-Syahid. Kami adalah Ahlul Bait yang Allah swt telah sucikan dalam kitabnya ‘Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’ (Q.S. al-Ahzab : 33), dan Allah limpahkan kebaikan kepada kami. Pada kami lah Allah dan para malaikat-Nya berselawat, dan memerintahkan kaum Muslimin supaya berselawat kami, ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bersalawat kepada Nabi, hai orang-orang beriman sampaikanlah salawat dan salam kepadanya’. Aku dan saudaraku Husain adalah pemimpin para pemuda di surga,” ungkap Imam Hasan.

Kemudian Imam Hasan menjelaskan satu persatu kemuliaan Ahlul Bait Nabi Saw, dan mengenalkannya kebenaran kepadanya. Mendengar semua penuturan Imam Hasan, orang Syria itu pun dapat melihat cahaya kebenaran, maka dia menangis dan terus mencium tangan Imam Hasan dan meminta maaf atas kesalahannya.

Dia berkata, “Demi Allah, Tuhan yang Maha Esa! Saya memasuki Madinah dan tiada siapa dimuka bumi ini yang saya benci malainkan kamu, tetapi sekarang saya mencari kedekatan kepada Allah swt dengan mencintai kamu, patuh kepada kamu, dan menjauhkan diri dari mereka yang memusuhi kamu.”

Imam al-Hasan menghadap kepada para sahabatnya dan berkata, “Apakah kamu mau membunuhnya walaupun dia tidak bersalah? Jika dia telah mengetahui yang sebenarnya, tentu dia tidak menjadi musuh kita. Kebanyakkan Muslim di Syam adalah orang seperti dia yang mendapat informasi keliru. Jika mereka mengetahui informasi yang sebenarnya, mereka akan mengikutinya.”

Kemudian beliau membacakan ayat yang berbunyi, “Tidak sama perbuatan yang baik dengan perbuatan yang jahat, tolaklah [kejahatan] dengan apa yang baik, maka orang yang ada permusuhan dengan engkau akan menjadi sahabat yang karib.” (Q.S. Fushilat : 34)

Islam adalah agama universal yang sempurna diperuntukkan bagi seluruh manusia. Islam mempunyai Tuhan yang satu (Allah swt), Nabi yang satu (Muhammad Saw), dan kitab yang suci yang satu (Alquran). Namun, dalam memahami dan menjelaskan persoalan ketuhanan, kenabian dan kitab suci, bisa saja terjadi perbedaan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Hal inilah yang terjadi dalam sejarah Islam, sehingga kita ketahui dalam sejarahnya, umat Islam terpolarisasi menjadi beberapa kelompok aliran atau mazhab.

Kekayaan khazanah itu sebenarnya patut disyukuri, namun sepanjang sejarah itu pula, isu antar mazhab menjadi meruncing dengan adanya gerakan-gerakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang tanpa sengaja atau tidak telah membawa hingga ketingkat konflik dan kerusuhan agama. Sering terjadi perselisihan dikarenakan saling tidak mengenal dan infromasi keliru.

Tak jarang sebagian kelompok ini memberikan berita yang disimpang siurkan bahkan diselewengkan. Dalam kondisi ini, masyarakat kebingungan karena dibanjiri informasi tanpa kemampuan analisis yang memadai. Kondisi Suriah yang beberapa tahun belakangan ini mencekam, ditambah lebih mencekam dengan berita-berita yang tidak sesuai dengan keadaan lapangan. Anehnya, berita-berita itu bukan saja dari media-media Barat yang memusuhi Islam, tetapi juga dari media-media yang mengaku dan berlabel Islam. Begitu pula, informasi tentang berbagai aliran, organisasi, komunitas bahkan pribadi, juga sering dijadikan komoditas menebar fitnah dan kebencian oleh media-media yang tak berperadaban.

Tidak jarang, hasil dari penyelewengan berita dan kekeliruan informasi itu adalah caci maki, pelabelan sesat, hingga pengkafiran bahkan penyerangan fisik dan pengusiran. Kisah Imam Hasan di atas memberikan pelajaran bagi kita bahwa kebencian dan permusuhan bisa terjadi karena ketidaktahuan atau berita yang diselwengkan. Bayangkan, karena berita yang diselewengkan, Ahlul Bait Nabi saaw yang disucikan menjadi manusia yang dikafirkan. Padahal jika informasi yang dberikan itu valid dan otentik, maka yang terjadi bukanlah saling benci tetapi saling menghargai; bukan menjadi lawan konflik tetapi sahabat karib.

Karenanya, kepada ulama, organisasi, penulis, terutama media berilah informasi yang jujur dan koreksilah kepada sumbernya. Seperti orang Syam tersebut, setelah mendapatkan informasi dari sumbernya, ia berkata, “Kemarin engkau yang paling kubenci, tetapi sekarang engkau yang paling kucintai.” Karenanya, jangan selewengkan berita. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Comments are closed.

Positive SSL