Oleh : Hasan bin Farhan al-Maliki

hasan-farhanAkidah Menurut Sunnah Nabi Saw

Istilah “akidah” juga tidak terdapat dalam hadis yang sahih, hasan, dhaif, maupun maudhu’ (palsu). Fi’il (kata kerja) a-qa-da yang tertera dalam sunnah mempunyai makna lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah keimanan atau masalah-masalah keilmuan.

Berikut contoh penggunaan kata ini dalam hadis-hadis Rasulullah Saw :

  1. Nabi Saw aqada (telah mengikatkan) bendera bagi si Fulan.
  2. Rasulullah aqada (telah menggabungkan) jari tangannya seperti angka lima puluh tiga (dalam angka Arab)
  3. Rasulullah aqada (telah meneguhkan) hatinya ketika bersumpah
  4. Rasulullah aqada (telah menetapkan) dzimmah (perlindungan) bagi pemeluk agama (lain)
  5. Setan itu yuaqqidu (akan mengikat) tengkuk kalian)
  6. Allah akan menugasi kalian pada hari kiamat yuaqqidu (dengan membuat lengkungan) di antara dua belahan rampbut yang sangat kecil.
  7. Rasulullah yuaqqidu (menyimpulkan jarinya) ketika bertasbih
  8. Rasulullah aqada (mengikat) kain sarungnya
  9. Kuda itu ma’qudun (terikat) kebaikannya di ubun-ubunya
  10. Barangsiapa yang senang masuk pada aqd (ikatan perjanjian) Muhammad
  11. Pada uqdatihi (akalnya) terdapat kelemahan
  12. Ahl al-aqd (yang mempunyai ototritas pengesahan) adalah para pemimpin (kemudian dikenal dengan sebutan ahl al-hall wa al-aqd)
  13. Sungguh, itu adalah harta yang pertama kali i’tiqadtuhu (aku buatkan transaksi).

Jadi, menurut kami, istilah akidah sama sekali tidak ada dasarnya dalam sunnah Nabi saw. Adapun istilah “iman” sangat banyak sekali dalam Alquran dan sunnah, yaitu sesuai maknanya yang syar’i (legal menurut ajaran agama). Bahkan, beberapa ulama telah menyusun karya-karya yang menjelaskan kosakata atau istilah ini. Mereka juga menulis karya yang berkaitan dengan berbagai pembahasannya. Barangkali ulama paling terkenal itu adalah Imam al-Baihaqi melalui kitabnya yang monumental, Syu’ab al-Iman.

Lebih-lebih istilah ini telah digunakan dalam kitab-kitab yang terkenal karya ulama Muslim dalam bidang hadis, seperti al-shahihain (Bukhari dan Muslim) dan kutub sittah (enam kitab hadis). Judul pembahasannya dalam kitab-kitab tersebut, Kitab al-Iman.

Akidah Menurut Pandangan Sahabat

Istilah “akidah” ini tidak pernah terucap oleh sahabat—Muhajirin dan Anshar—atau pengikut mereka yang sempat melihat Rasulullah saw. Istilah ini juga tidak pernah mereka katakan, sebagaimana terlihat dalam riwayat dari mereka baik dengan sanad yang sahih, hasan, maupun lemah. Bahkan yang palsu sekalipun tidak memuatnya.

Akidah Menurut Tabiin

Istilah ini juga tidak pernah terucap oleh seorang tabiin. Sepengetahuan kami, kata ini tidak diucapkan dengan sanad sahih, hasan, dhaif, atau palsu. Bahkan, yang amat palsu juga tidak ditemukan. Bahkan, sepengetahuan kami pengikut thabiin yang dikenal dengan tabi’it tabi’in, juga tidak mengatakan kata atau istilah “akidah” ini.

Kesimpulan

Jadi, kosakata “akidah”, baik lafal maupun maknanya, tidak kita temukan dalam Alquran, hadis Nabi Saw, jejak para salaf kalangan sahabat, dan tabiin senior. Yang kami maksud dengan “lafal dan makna” di sini adalah tidak adanya pemakaian kata “akidah” yang mengandung makna seperti yang dimaksudkan oleh beberapa kelompok pada masa belakangan.

Sebagai contoh ungkapan berikut ini :

  1. Fulan hasan al-mu’taqad (Fulan baik akidahnya)
  2. Kana dhallun fi al-aqidah (Fulan sesat akidahnya)
  3. Fulan kana shalban fi al-aqidah (Fulan mempunyai akidah yang kuat)
  4. Kana sayyi’ al-aqidah (Dia buruk keyakinannya)

Masih ada beberapa contoh lain yang seperti ini.

Makna-makna ini tidak pernah ditemukan pada kata “akidah”, pada masa Nabi Saw, sahabat, dan tabiin. Padahal, segala sesuatunya sangat mendukung karena pada zaman Nabi Saw, sahabat, dan tabiin terdapat kaum munafik dan kaum sesat. Oleh karena itu, ada kemungkinan makna kata “akidah” pada masa-masa awal itu terdapat di dalam kosakata lain yang syar’i, misalnya kata “iman”.

Kemungkinan lainnya kosakata seakarnya memang ada, tetapi makna kata-kata tersebut tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan makna-makna keimanan atau keilmuan. Seperti, “mengikatkan bendera,” “menggabungkan jari-jari tangan untuk menjelaskan bilangan,” dan “mengikatsarung”, “menekadkan sesuatu, baik yang berhubungan dengan urusan dunia atau akhirat”, “mengikat perjanjian atas sesuatu”, bisa juga bermakna “janji”, dan “memantapkan hati baik itu karena urusan agama atau dunia”.

Atau boleh jadi, beberapa teolog Muslim mengambil makna kosakata “akidah” dari makna yang disebut terakhir, kemudian mereka secara khusus menyematkan beberapa makna keilmuan dan keagamaan dalam kosakata ini. Tentu saja, penyematan makna-makna khusus pada kosakata “akidah” ini adalah suatu hal yang dibuat-buat. Sebab, kata-kata yang syar’i yang terdapat dalam Alquran lebih utama digunakan, lebih tepat indikasinya, lebih berpotensi menyatukan umat Islam. Kosakata “iman” itu sudah cukup. Dengan kosakata “iman” kita sebenarnya tidak lagi memerlukan kosakata atau istilah lain yang tidak jelas dan dibuat-buat oleh aliran-aliran teolog yang berseteru pada masa belakangan.

Oleh karenanya, kata “akidah” tidak mempunyai dasar syar’i, baik itu dalam Alquran, sunnah, atsar para salaf (kaum Muhajirin dan Anshar) serta orang-orang yang mengikuti mereka, atsar thabiin juga tidak, bahkan ulama besar pada tiga abad pertama juga tidak mencetuskan term ini. (hd/liputanislam.com)

Farhan

*Sumber : Duadur dari buku “Pilih Islam atau Mazhab : Autokritik atas Paham Penuduh Kafir dan Bid’ah” karya Hasan bin Farhan al-Maliki.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*