Oleh : Hasan bin Farhan al-Maliki

hasan-farhanKapan Suatu Istilah Dianggap Bid’ah

Sudah jelas “akidah” adalah suatu istilah baru yang wajib dijauhi oleh kelompok ekstrem karena ia menyebabkan bahaya bagi istilah lain yang syar’i yang telah dia ambil tempatnya. Sebab, setiap istilah atau ungkapan yang baru apabila dimaksudkan untuk memberikan makna syar’i maka ia adalah istilah yang dibuat-buat alias bid’ah bila memenuhi syarat-syarat, terutama syarat berikut :

  1. Sudah terdapat istilah-istilah yang baku dan legal sebagai alternatif
  2. Istilah baru tersebut tidak terdapat dalam Alquran dan sunnah
  3. Istilah baru itu digunakan untuk menginkuisisi umat Muslim dan mewajibkan mereka memakainya secara konsisten.
  4. Istilah itu berpengaruh buruk, yakni mengakibatkan perpecahan dan perselisihan di antara umat Islam.

Keempat syarat tersebut berlaku untuk istilah “akidah”. Oleh karena itu, istilah ini—sejalan dengan ketentuan yang tertuang dalam beberapa kitab akidah—adalah istilah bid’ah. Ini tak ubahnya apabila seseorang menamakan “shalat” dengan “olah raga”, kemudian mewajibkan orang lain menggunakan istilah “olah raga” untuk menyebut shalat; apabila orang-orang yang diwajibkan itu enggan menggunakan istilah “olah raga” untuk shalat yang ia kerjakan maka mereka akan mendapatkan siksaan dari orang yang mencetuskannya.

Kecuali, jika istilah “akidah” ini digunakan sebagai suatu istilah yang telah lumrah penggunaannya di tengah orang banyak dengan tidak memaksakan penggunaannya. Bila keadaannya seperti ini maka penggunaan istilah “akidah” boleh-boleh saja. Berdasarkan hal ini, kami pun menggunakannya dan kami pun tidak memberikan sangsi dan tekanan.

Berdasarkan ini, jika Anda melihat seseorang berkata, “Apa akidahnya Fulan?” Maka katakan kepadanya, “Koreksi dulu pertanyaanmu karena pertanyaanmu tadi bid’ah sebab pertanyaan yang sesuai syariat adalah, ‘Bagaimana perilaku keagamaan si Fulan? Bagaimana pula akhlaknya?’ Nah, yang ini sesuai dengan hadis Nabi Saw, “Apabila datang kepadamu seorang pria yang engkau ridha pada agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia” (H.R. at-Tirmidzi)

Rasulullah saw tidak berkata, “Pria yang engkau ridha pada akidahnya” sebab kata “akidah” ini adalah bid’ah dan tidak punya dasar yang sah dari Alquran dan sunnah. Dengan demikian, istilah “akidah” adalah sesuatu yang harus ditinggalkan demi menghidupkan kembali istilah yang sah yang telah terkubur oleh pertikaian antar mazhab.

Hal ini disebabkan, istilah-istilah yang legal itu sama sekali tidak bermaksud menzalimi seorang muslim yang disifati sebagai orang yang melaksanakan keajiban atau menjauhi perkara yang diharamkan. Sudah barang tentu, istilah-istilah yang legal itu berbeda dengan istilah “akidah” yang dalam pengertiannya mengandung penzaliman terhadap seorang Muslim dan tidak berisi pertanyaan—menurut konteks hadis Rasulullah Saw—shalat, puasa, keadilan, kejujuran, serta akhlak.

Sebaliknya, istilah “akidah” berkonotasi pada sikap Muslim tehadap pertikaian masa silan, saling mencela, pengafiran, dan berbagai kesulitan yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat. Selain itu, istilah ini memaksa orang untuk melakukan berbagai hal yang bukan berasal dari Islam.

Orang yang mendapat karunia akal dan agama dari Allah, niscaya dengan mudah ia dapat membedakan mana yang dikehendaki Allah melalui Alquran terkait makna lafal “iman”, “Islam”, dan “agama” dan mana pertikaian antar mazhab, politik, dan pemaksaan yang dilakukan oleh pengikut mazhab akibat istilah “akidah” yang berujung pada pemaksaan orang-orang untuk meyakini sesuatu yang sangat jauh dari teks-teks Alquran dan sunnah yang sahih.

Untuk itu, sesungguhnya penggunaan kata atau istilah “akidah” yang berstatus asing dalam syariat sebagai pengganti lafal yang sah yaitu “iman” disertai inkuisisi terhadap orang-orang, merupakan perbuatan bid’ah karena hal-hal yang telah kami sebutkan.

Selanjutnya karena lafal “akidah” adalah ungkapan bahasa yang mengambil posisi syar’i bagi lafal yang sesuai syariat, belum lagi istilah “akidah” ini telah ditambahi banyak hal-hal lain yang berseberangan dengan keimanan.

Berdasarkan uraian ini, orang-orang yang melakukan inkuisisi terhadap orang lain atau kelompok lain—dalam masalah akidah—adalah orang-orang yang pertama menyalahi lafal “akidah” serta kandungannya. Akan lebih baik jika mereka menyelidiki diri sendiri dalam hal kesesuaian antara lafal “akidah” dan kandungannya, sebelum mereka menyelidiki orang-orang atas nama “akidah”.

Selain itu, menyelidiki perkara yang abstrak adalah bid’ah. Padahal, orang yang bertanya berkeinginan menghindari bid’ah. Namun pada kenyataannya, justru dialah orang pertama kali melakukan perbuatan bid’ah akibat ketidaktahuannya sendiri; dia tidak mengetahui istilah yang sesuai syariat ditambah pemaksaan yang ia lakukan terhadap orang lain untuk memakai istilah bid’ah, serta menanyakan mereka dengan istilah bid’ah.

FarhanSebenarnya, menanyakan masalah-masalah keilmuan yang tidak ada kaitannya dengan amalan adalah perbuatan sekelompok orang yang disebut “khawarij”. Mereka ini adalah orang-orang yang beroposisi dari kepemimpinan Imam Ali dan menjadi kelompok yang pertama kali melakukan penyelididkan terhadap akidah orang lain. Akibatnya, mereka membantai orang Islam yang tidak sependapat dengan kelompok mereka, dan merekalah yang membelah perut kaum perempuan.

Oleh sebab itu, penyelidikan mereka terhadap keyakinan orang lain sebenarnya adalah perkara bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para khulafa al-rasyidin. Anehnya, kita mengecam ulah kaum khawarij, sementara kita juga melakukan perbuatan yang sama. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Disadur dari buku “Pilih Islam atau Mazhab : Autokritik atas Paham Penuduh Kafir dan Bid’ah” karya Hasan bin Farhan al-Maliki. (hd/liputanislam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL