Oleh : Hasan bin Farhan al-Maliki

hasan-farhanSegala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya.

Seorang Muslim pada zaman Rasulullah saw belajar agama secara menyeluruh, mencakup sekaligus : keimanan, hukum, akhlak, serta amalan sehari-hari yang diperintahkan dan larangan. Tidak ada pemisahan antara iman dan akhlak, serta hukum Islam.

Apa yang disebut akidah pada zaman sekarang tak lebih dari rukun iman yang sudah kita kenal : iman kepada Allah, iman kepada para Malaikat, iman kepada kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, serta iman kepada qadha dan qadar : baik dan buruknya. Bahkan, rukun iman yang enam ini—prinsip keimanan—tidak dirinci secara panjang lebar sampai membingungkan sebagaimana terjadi pada masa perseteruan teologis (kalam).

Para sahabat mengimaninya secara global, tanpa masuk ke perincian ilmu kalam yang rumit dan membingungkan, yang menyebabkan perselisihan dan kebimbangan, yang sama sekali tidak berefek positif pada perbuatan dan tingkah laku.

Seorang Arab Badui datang kepada Baginda Rasulullah Saw. Rasulullah Saw mengajarkan Islam kepadanya dalam waktu yang sangat singkat. Kemudian orang Arab badui tersebut pulang ke kampung halamannya sebagai seorang Muslim. Tidak ada yang meragukan keislaman dan keimanannya—atau dalam istilah ulama belakangan : “akidahnya”.

Padahal, orang Badui tersebut sama sekali tidak mengetahui masalah-masalah akidah yang spesifik, sebagaimana diuraikan pada masa selanjutnya baik oleh kelompok ahlussunnah maupun kelompok yang berbeda dengan mereka, sebagai akibat perselisihan politik dan mazhab, yang selanjutnya dijadikan sebagai dasar akidah oleh sebagian orang.

Pertentangan politik dan mazhab telah menyebabkan masalah-masalah akidah menjadi meluas. Para penganjurnya terpecah menjadi kelompok-kelompok yang satu sama lain saling mengafirkan, saling membid’ahkan, bahkan saling menghalalkan darah.

Akibatnya, akidah telah keluar dari fungsinya yang sebenarnya dalam beribadah kepada Allah swt, mengenal keagungan-Nya, kasih sayang-Nya, dan ketatan kepada-Nya. Selanjutnya, akidah menjadi aktivitas pemikiran, menjadikan hati keras, bimbang, dan menyebabkan umat menjadi terpecah belah dan saling membenci.

Akidah pada masa kini, menurut penilaian mayoritas, tak lebih dari sekadar taklid kepada sebagian umat Islam—seperti saafiyyah dan Asy’ariyah—yang selalu memperhatikan titik-titik perbedaan konsep pemikiran yang ada di kelompok lain. Mereka lupa kekeliruan yang ada pada mereka. Kemudian, taklid ini diikuti pula dengan mengafirkan, membid’ahkan, menuduh sesat, serta menganggap fasik. Bahkan, tidak jarang terlontar pernyataan permusuhan, baik secara politis atau antar golongan. Menariknya sering kali, orang-orang yang suka mengakfirkan atau mdnuduh sesat ini menggunakan satu kesimpulan yakni karena tidak “seakidah” atau berbeda “akidah”. Padahal istilah akidah adalah istilah yang mereka ciptakan dan diberi muatan makna sendiri untuk mendeskriditkan kelompok lain. Sebab dalam sejarah Islam awal, tidak dikenal istilah “akidah” untuk urusan kesesatan atau pengkafiran. Untuk itu kita akan melacak istilah akidah dalam sumber-sumber utama Islam.

“Akidah” dalam Alquran

Dalam kuliah Qiraah fi Kutub al-Hanabilah (literatur Mazhab Hanbali : Telaah Kritis), terdapat satu hal yang memancing perhatian, yaitu tidak adanya kosakata “akidah” dalam teks-teks klasik, baik dalam Alquran, sunnah, maupun kitab-kitab yang terkenal pada tiga abad pertama hijriah.

Kami akan mengupas istilah “akidah” secara singkat dengan menelusuri kata-kata yang seakar dengannya dalam Alquran, sunnah, maupun ucapan para sahabat dan tabiin. Harapannya, kita mengetahui apakah istilah ini berdasarkan sunnah atau justru bid’ah.

Di dalam Alquran dan Sunnah, sama sekali tidak ditemukan kata “akidah” yang mengandung pengertian seperti yang terkenal pada abad-abad terakhir. Akar kata a-qa-da dalam Alquran terdapat pada tujuh ayat :

  1. Surah an-Nisa : 33, “Dan orang-orang yang telah bersumpah setia (aqadat) kepadamu maka berikan bagian mereka.”
  2. Surah al-Maidah : 1, “Hai orang-orang yang beriman penuhilah janji-janji (al-uqud.
  3. Surah al-Baqarah : 234 dan 235, “Dan janganlah kamu menetapkan akad (uqdat) nikah.”
  4. Surah Thaha : 27, “Dan lepaskanlah kekakuan (uqdatan) dari lidahku.”
  5. Surah al-Maidah : 89, “Tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah yang kamu sengaja (aqqadtum).
  6. Surah al-Falaq, “Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang menghembuskan pada tali (al-uqad).”

Al-Raghib al-Isfahani dalam ufradat Gharib Alquran, halaman 576, “Entri a-qa-da,” berkata, “kata al-aqdu artinya menggabungkan ujung-ujung sesuatu. Kata ini digunakan untuk “mengikat” benda keras, seperti “simpul tambatan” dan “mengukuhkan bangunan”. Kemudian, digunakanlah kata ini secara isti’arah (personifikasi) untuk makna-makna lain. Contohnya: “aqadtuhu (aku telah mengesahkannya)”, “ta’aqadna (kami mengadakan transaksi)”, dan “aqadtu yaminahu (sumpahnya telah diambil di depanku).” Dari kata inilah dicontohkan “li fulan ‘aqidah” (Si Fulan punya keyakinan).

Jadi, akar kata ‘a-qa-da dalam Alquran tidak mengandung makna “keimanan”. Makna kata-kata itu lain, seperti nikah, janji, sumpah, sihir, dan kekeluan dalam berbicara. Juga, di dalam Alquran tidak tercantum kata al-aqidah, i’-ta-qa-da atau ya’-ta-qi-du, dan kata-kata lain yang menyerupai. Jadi, kata “akidah” pengertiannya bukan berasal dari Alquran. Bahkan, tidak ada kosakata “akidah” dalam Alquran , juga tidak ada pengertiannya di dalam Alquran.

“Akidah” menurut kelompok ultra-salafi, adalah sesuatu yang paling penting dalam kehidupan seorang Muslim. Apa mungkin akal dapat menerima bahwa Allah swt menurunkan Alquran tidak menyertakan penjelasan terkait hal yang paling penting, padahal ia berpredikat “menjelaskan segala sesuatu” (Q.S. an-Nahl : 89). Atau, apakah justru kita yang telah meninggalkan perkara yang paling penting dan mendesak itu? Yaitu iman atau Islam dalam cakupan maknanya yang luas. Lalu beralih ke kosakata dan istilah buatan, yakni kosakata “akidah” yang di tangan orang-orang ekstrem ibarat pedang di tangan orang-orang gila? (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*