رِجالٌ لا تُلْهيهِمْ تِجارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَ إِقامِ الصَّلاةِ وَ إيتاءِ الزَّكاةِ يَخافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فيهِ الْقُلُوبُ وَ الْأَبْصارُ

“Para laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang (Q.S. an-Nur: 37)

zikrullahZikir merupakan kata musytarak (yang memiliki banyak makna). Kalau kita merujuk pada ayat-ayat Alquran, zikir ternyata memiliki beragam makna lain diantaranya bermakna Alquran (Q.S. al-Hijr: 9); salat jum’at (Q.S. al-Jumuah: 9); ilmu (Q.S. al-Anbiya : 7); dan juga diri Rasulullah saaw (Q.S.at-Thalaq: 10-11).

Zikir adalah mengingat dan menyadari bahwa wujud manusia adalah terbatas dan berada dalam kekuasan Allah swt . Zikir juga akan menghilangkan dosa dari hati manusia; lantaran lalai dan lupa dari mengingat Allah akan menodai dan menghitamkan hati manusia. Berangkat dari sini, salah satu risalah para wali Allah dan kitab-kitab samawi adalah melenyapkan kehitaman dan noda ini. Atas dasar itu pula, zikir  disebut sebagai salah satu sifat Rasulullah Saw, “Qad anzalallah ilaikum dzikra rasulan yatlu ‘alaikum ayatillah…” Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, dan (mengutus) seorang rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah, (Qs. Thalaq [65]:10-11).

Demikian juga salah satu nama Alquran adalah zikir sebagaimana hal itu dinyatakan dalam, “Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun.”Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alqur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs. Al-Hijr [15]:9)

Alasan penamaan Rasulullah Saaw dan Alquran sebagai zikir lantaran keduanya mengingatkan manusia kepada Allah Swt, mengajarkan mana yang benar dan salah, mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Hanya saja umumnya kita memahami zikir sebagai mengingat Allah baik dengan hati maupun menyebutnya dengan lisan dengan kalimat-kalimat tertentu yang populernya adalah tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (la ilaaha illallah), dan takbir (allahu akbar) dan juga shalawatt kepada Nabi dan keluarganya. Kalau kita sudah rajin membaca dan mengucapkan kalimat-kalimat tersebut maka kita merasa telah menjadi ahli zikir.

Namun coba perhatikan sabda Rasulullah saaw berikut ini, “Wahai Ali, terdapat tiga perkara yang menjadi kekuatan istimewa bagi umatku, yaitu : Persahabatan dan kebersamaan dengan saudaranya seiman dalam urusan harta (dermawan kepada saudaranya); berbuat adil terhadap manusia sebagaimana terhadap dirinya sendiri; dan berzikir kepada Allah dalam segala keadaan. Dan bukanlah berzikir itu sekedar mengatakan ‘subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallaah’, tetapi—berzikir itu adalah—jika seseorang berhadapan dengan apa yang diharamkan oleh Allah, ia merasa takut kepada Allah dan tidak melakukan perbuatan tersebut.” (Bihar al-Anwar jilid 93, hal. 15).

Imam Ali as berkata, “Zikir itu ada dua jenis; berzikir kepada Allah saat menghadapi musibah, dan yang paling utama adalah berzikir kepada Allah atas apa yang diharamkan Allah kepadamu. Yang demikian itu menjadi pencegah.” Imam Ja’far Shadiq mendefenisikan, “zikir adalah ketika seseorang berhadapan dengan suatu perbuatan yang telah diperintahkan oleh Allah, maka dia melaksanakannya. Dan jika dilarang oleh Allah, maka dia meninggalkannya.”

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menceritakan sebuah kisah yang menarik tentang seorang pedagang. Suatu hari seseorang menulis surat kepada seorang pedagang yang berbisnis dengannya untuk memberitahukan bahwa musim dingin telah merusak tanaman tebu, dan hal itu akan menyebabkan permintaan terhadap gula menjadi sangat meningkat pada tahun ini dan harganya akan naik. Ketika si pedagang membaca surat temannya tersebut, maka ia pun pergi ke pasar dan memborong semua gula yang ada, dan menimbunnya di gudang miliknya. Dia merasa senang karena akan memperoleh untung yang sangat besar pada tahun ini.

Ketika dia kembali dari pasar, dan berada tenang dirumahnya, maka iman dan nuraninya pun berontak, disebabkan keyakinan dan keislamannya. Hatinya mencela dirinya, “tahukah engkau bahwa apa yang engkau lakukan ini adalah pengkhianatan dan penipuan terhadap manusia.” Sebenarnya dia tidak menipu manusia karena dia membeli gula sesuai dengan harganya, dengan harapan harga gula naik nantinya; namun apa yang dilakukan itu merupakan sebuah rencana penjerumusan terhadap manusia.

Pedagang itu pun tidak bisa tidur semalaman. Selesai azan subuh dan salat jamaah, ia segera mendatangi para penjual gula di pasar yang gula mereka telah diborongnya, dan menceritakan masalahnya. Semua penjual gula tersebut menyatakan kerelaaanya dan tidak membatalkan transaksi yang telah mereka lakukan. Mendengar hal itu, pedagang tersebut pun merasa senang dan lega.

Namun, pada malam kedua dia tetap tak bisa tidur. Ia teringat hadits Rasulullah saaw, “Bukanlah termasuk kaum Muslim orang yang menipu mereka.” Begitu pula diriwayatkan bahwa Rasulullah saaw melewati pasar Madinah dan melihat seorang pedagang buah-buahan dan lainnya yang menata barang dagangan dengan meletakkan di atasnya yang bagus-bagus, dan menyembunyikan di bawahnya yang jelek-jelek. Lalu Rasulullah saaw bersabda, “Apa yang engkau lakukan adalah merupkan pengkhianatan terhadap kaum Muslim.”

Akhirnya, ketika tiba waktu pagi, pedagang itu memohon kepada para penjual gula di pasar untuk bisa mengembalikan gula yang telah dibelinya. Pada malam ketiga, ia bisa tidur dengan pulas, dan dia berkata, “Alhamdulillah, aku telah mampu memelihara agamaku meskipun harus kehilangan keuntungan yang sangat besar.” Mungkin inilah indikasi firman Allah swt, “Para laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah.” (Q.S. an-Nur: 37), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (Q.S. al-Munafiqun: 9). (CR/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL