tulang-rusuk-priaBagi Quraish Shihab, soal asal-usul kejadian perempuan dari tulang rusuk Adam bukanlah sebagai sebab yang sering melahirkan bias gender. Ketika mengutip kritik Rasyid Ridha atas ide keterciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam yang diklaim sebagai pengaruh dari perjanjian lama (Kitab Kejadian II : 21-22), Quraish menulis :

“Perlu di catat sekali lagi bahwa pasangan Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam, maka itu bukan berarti bahwa kedudukan wanita-wanita selain Hawa demikian juga, atau lebih rendah dibanding dengan laki-laki. Ini karena semua pria dan wanita anak cucu Adam lahir dari gabungan antara pria dan wanita, sebagaimana bunyi surat al-Hujurat di atas, dan sebagaimana penegasan-Nya, “Sebagian kamu dari sebagian yang lain” (Q.S. Ali Imran: 195). Laki-laki lahir dari pasangan pria dan wanita, begitu juga wanita.

Karena itu tidak ada perbedaan dari segi kemannusiaan antara keduanya. Kekuatan laki-laki dibutuhkan oleh wanita dan kelemahlembutan wanita didambakan oleh pria. Jarum harus lebih kuat dari kain, dan kain harus lebih lembut dari jarum. Kalau tidak, jarum tidak akan berfungsi, dan kain pun tidak akan terjahit. Dengan berpasangan, akan tercipta pakaian indah, serasi dan nyaman.”

Dari penjelasan di atas, maka terlihat Quraish mejelaskan dua hal.

Pertama, pasangan Adam yang diciptakan dari tulang rusukya, bagi Quraish bukan berarti bahwa kedudukan wanita selain Hawa, lebih rendah ketimbang laki-laki. Semua pria dan wanita anak cucu Adam lahir dari gabungan antara pria dan wanita. Karena itu, tidak ada perbedaan dari segi kemanusiaan antara keduanya.

Kedua, kekuatan laki-laki menurut Quraish dibutuhkan oleh wanita dan kelemahlembutan wanita didambakan oleh pria. Dengan metafor antara jarum dan kain, ia menjelaskan bahwa jarum harus lebih kuat dari kain, dan kain harus lebih lembut dari jarum. Kalau tidak, jarum tidak akan berfungsi, dan kain pun tidak akan terjahit.

Lewat dua alasan itu, Quraish sebetulnya melakukan pewacanaan yang menyembunyikan problem-problem pokok dari relasi laki-laki dan perempuan. Pada alasan pertama, Quraish tidak melihat aspek psikologis dari konstruksi nalar tentang kisah keterciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam. Memang, seperti logika yang dia pakai, kita akan mengakui bahwa generasi anak cucu Adam (baik laki-laki maupun perempuan) lahir dari hasil perkawinan dua jenis manusia: laki-laki dan perempuan.

Namun, pokok persoalannya tidaklah berhenti pada kesadaran semacam ini. Sebab, kisah keterciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam, secara psikologis telah mengonstruksi nalar dan bahkan menjadikan suatu pandangan dunia, bahwa perempuan adalah jenis manusia kelas dua, karena asal-usul keterciptaan Hawa tersebut.

Pada alasan kedua, Quraish telah memberikan pencitraan bias gender. Kelembutan perempuan yang dia gambarkan seperti kain, dan kekuatan laki-laki yang dia gambarkan seperti jarum, yang saling membutuhkan, jelas merupakan soal gender. Sebab, kekuatan dan kelembutan bukanlah dua hal yang bersifat kodrati, tetapi lebih sebagai suatu potensi dari hasil kostruksi pencitraan dalam wilayah sosial-budaya. Oleh karena itu, secara seksual, jarum tidaklah identik dengan jenis kelamin laki-laki, dan kain pun juga tidak identik dengan jenis kelamin perempuan.

Berbeda dengan Quraish yang kurang tegas dalam berpendapat di atas, Alquran dan Tafsirnya dengan tegas memahami kata nafs wahidah dalam arti Adam. Buku tafsir ini juga mengklaim—atas nama mayoritas penafsir—bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. Dari diri Adam inilah diciptakan pasanganya, Hawa. Sikap serupa juga dilakukan Didin Hafidhuddin dalam Tafsir al-Hijri. Namun, ia tidak memberikan penjelasan lebih detail mengenai soal diciptakannya Hawa dari Adam itu; apakah dari tulang rusuk Adam atau dari unsur yang sejenis dengannya.

Di atas semua itu, secara keseluruhan kita bisa melihat bahwa visi gerak karya tafsir di atas merepresentasikan kecenderungan yang berbeda-beda. Semua analisis di atas memberikan pemahaman bahwa eksistensi, ruang sosial penafsir, konteks, dan zaman di mana tafsir itu ditulis, sangat mempengaruhi visi dan arah gerak tafsir. (hd/liputanislam.com)

 

*Sumber : disadur dari buku Khazanah Tafsir Indonesia : Dari Hermeneutika hingga Ideologi karya Islah Gusmian.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL