tulang-rusuk-priaDua pendapat tentang asal kejadian perempuan (Hawa) —yakni berasal dari tulang rusuk laki-laki (Adam) atau dari jenis yang sama dengan laki-laki yaitu tanah—, juga mewarnai karya tafsir di Indonesia. Tafsir Kebencian karya Zaitunah Subhan dan Argumen Kesetaraan Gender karya Nasarudin Umar termasuk yang sangat tegas menolak pendapat bahwa pertama yang menyatakan wanita dicipta dari tulag rusuk.

Dengan mengutip Rifaat Hasan dan Fatimah Mernissi, Zaitunah mengklaim bahwa pendapat kedua yang rasional. Alasannya, kata Adam dalam istilah bahasa Ibrani berarti ‘tanah’ berasal dari kata Adamah, sebagian besar berfungsi sebagai istilah generik untuk manusia bukan menyangkut jenis kelamin. Memperkuat pendapatnya ini, dia lalu mengutip QS. Al-Isra’:70 dan At-Tin:4. Itu artinya, Zaitunah menolak pandangan bahwa perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk Adam.

Nasaruddin dalam Argumen Kesetaraan Gender lebih kritis lagi memberikan analisis. Dengan analisis linguistik, ia menjelaskan bahwa kata nafs, yang terulang 295 kali dalam Alquran dengan pelbagai bentuknya, tidak satupun yang dengan tegas menunjuk kepada pengertian Adam. Kata nafs, dalam Alquran kadang berarti jiwa (QS. Al-Maidah :32), nafsu (QS. Al-Fajr :27), nyawa atau roh (QS. Al-Ankabut :57), dan asal usul binatang (QS. Syura :11).

Analisis macam ini juga dipakai Nashruddin Baidan dalam bukunya Tafsir bi Ar-Ra’yi.Dengan bahasa yang lugas, diujung analisisnya, dia menyimpulkan bahwa wanita menurut Alquran bukan diciptakan dari tulang rusuk Adam,melainkan dari unsur yang sama dengan Adam, yaitu tanah.

Alasan kedua yang diberikan Nasaruddin Umar adalah bahwa kata nafs wahidah dalam konteks ayat diatas memakai bentuk nakirah atau indefenit, bukan bentuk ma’rifah yang menunjukkan kekhususan, dan diperkuat lagi dengan kata wahidah. Semua ini, lanjut Nasaruddin, menunjukkan pada substansi utama (the first resource) yakni asal (unsur) kejadian Adam, bukan Adamnya sendiri sebagai substansi kedua.

Adapun Quraish Shihab, dalam soal ini tidak bersikap tegas. Memang, dia sangat baik dalam melansir dua pandangan ahlitafsir sebelumnya, tapi dia sendiri tak mengungkapkan pandangannya secara tegas. Bahkan, dalam Tafsir Al-Misbah, ketika menjelaskan Q.S. An-Nisa’ : 1, dia menulis:

“Ayat Al-Hujarat memang berbicara tentang kejadian manusia yang sama dari seorang ayah dan ibu, yakni sperma ayah dan ovum/indung telur ibu. Tetapi, tekanannya pada persamaan hakikat kemanusiaan orang perorang,karena setiap orang walau berbeda-beda ayah dan ibunya, tetapi unsur dan kejadian mereka sama…

Adapun ayat An-Nisa ini, maka walaupun ia menjelaskan kesatuan dan kesamaan orang perorang dari segi hakikat kemanusiaannya, tetapi konteksnya untuk menjelaskan banyak dan berkembangbiakannyamereka dari seorang ayah, yakni Adam, dan seorang Ibu, yakni Hawa. Ini dipahami dari pernyataan: Allah memperkembangbiakkan laki-laki yang banyak dan perempuan. Ini tentunya sesuai jika kata nafs wahidah dipahami dalam arti ayah manusia seluruhnya (Adam as) dan pasangannya (Hawa) lahir darinya laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Kutipan di atas memperlihatka bahwa Quraish cenderung memaknai kata nafs wahidah dalam arti ayah manusia seluruhnya, yakni Adam dan pasangannya, Hawa. Sebab, dari situlah perkembangbiakan manusia, laki-laki dan perempuan, dimulai. Pemaknaannya itu dia dasarkan pada kesesuaian makna dalam konteks wacana yang dibicarakan di dalam ayat tersebut. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL