tulang-rusuk-priaBicara soal posisi perempuan, kita akan diarahkan lebih dulu untuk melihat pandangan Alquran tentang asal kejadiannya. Sebab, dari arah inilah klaim-klaim, baik yang bernada positif atau negatif, tentang perempuan muncul.

Secara kronologis, asal usul kejadian manusia tidak dijelaskan oleh Alquran. Cerita penciptaan manusia, banyak diketahui melalui hadits, kisah israiliyat, dan riwayat yang bersumber dari kitab Taurat, Injil, dan Talmud. Substansi asal usul kejadian Adam dan Hawa juga tidak dibedakan secara tegas. Memang, ada isyarat bahwa Adam diciptakan dari tanah kemudian dari tulang rusuk Adam ini diciptakan Hawa, namun isyarat ini diperoleh dari hadits. Kata Hawa yang selama ini dipersepsikan sebagai perempuan yang menjadi istri Adam, sama sekali tidak pernah disinggung dalam Alquran. Bahkan, klaim bahwa Adam sebagai manusia pertama dan berjenis kelamin laki-laki masih dipertanyakan oleh beberapa kalangan.

Satu-satunya ayat yang mengisyaratkan soal ini adalah QS. An-Nisa’:1. Kata kunci yang menjadi sumber analisis dalam ayat ini yang kemudian melahirkan perdebatan adalah kalimat: (1) nafs wahidah (diri yang satu); (2) objek yang ditunjuk dengan kata ganti minha (darinya), dan; (3) apa yang dimaksud dengan kata : zaujaha (pasangan).

Para mufassir, setidaknya terpecah dalam dua pemahaman. Pertama, seperti dapat dilihat dalam tafsir Al-Qurtubi, tafsir Ibnu Katsir, tafsir ruh Al-Bayan, tafsir Al-Kasysyaf, tafsir Jami’ Al-Bayan, dan tafsir Al-Maraghi, manafsirkan kata: nafs wahidah dengan “Adam”, kata ganti: minha dengan “dari bagian tubuh Adam”, dan kata zaujaha dengan “Hawa”. Alasan mereka adalah karena adanya hadits yang mengisyaratkan bahwa perempuan (Hawa) diciptakan dari Adam, Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, jika kalian mencoba meluruskannya dia akan patah. Tetapi jika kalian membiarkannya, maka kalian akan mematikannya dengan tetap dalam keadaan bengkok”.

Kedua, memahami asal usul kejadian perempuan bukan dari tulang rusuk Adam, tapi dari jenis (jins) Adam. Ar-Razi termasuk kedalam kelompok ini. dengan mengutip pendapat Abu Muslim Al-Isfahani, dia mengatakan bahwa kata ganti: ha, pada kata minha dalam ayat diatas, bukan bagian tubuh Adam, tetapi “dari jenis” Adam. Dia membandingkan pendapatnya ini dengan menganalisis kata nafs yang digunakan dalam Q.S. An-Nahl:78, Ali Imran:164, dan At-Taubah:128.

Muhammad Abduh, dengan logika yang berbeda, juga termasuk kedalam kelompok ini. dalam Al-Manar, dia mengemukakan alas anberikut. Ayat itu diawali kata ya ayyuhannas (wahai sekalian manusia). Ini berarti ditujukan kepada seluruh manusia. Bagaimana mungkin itu dikatakan Adam, sementara Adam tidak populer dan tidak diakui keberadaannya oleh semua ummat manusia sebagai manusia pertama. Oleh karena itu, menurutnya, pengertian min nafs wahidah dalam ayat ini, mestinya yang dapat diakui secara universal.

Kemudian, bila memang yang dimaksud adalah Adam, mengapat menggunakan bentuk nakirah pada kata rijal, bukan bentuk ma’rifah: ar-rijal wa an-nisa’. Dengan mengutip pendapat para filosof, Abduh lalu menganggap kata nafs mempunyai arti yang sama dengan kata ruh yaitu sesuatu yang berupa nonmateri. Ini artinya nafs tidak bisa diartikan Adam yang berkonotasi materi. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL