boros
وَ آتِ ذَا الْقُرْبى حَقَّهُ وَ الْمِسْكينَ وَ ابْنَ السَّبيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذيراً

إِنَّ الْمُبَذِّرينَ كانُوا إِخْوانَ الشَّياطينِ وَ كانَ الشَّيْطانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. al-Isra : 26-27)

———–

 

miskin 3Orang pinggiran, o ya i yo

Ada di trotoar, o ya i yo

Ada di bis kota, o ya i yo

Ada di jembatan, o ya i yo

Anda pasti ingat lirik lagu di atas yang dinyanyikan oleh musisi papan atas Indonesia, Iwan Fals. Sang musisi ini ingin mengingatkan kita bahwa kemiskinan telah merajalela di Negara Republik Indonesia tercinta ini, dan telah sangat meresahkan. Bagaimana tidak? Saat kita berada diangkot, di bis kota, atau di mobil mewah pribadi, yang berhenti di tengah jalanan karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, mendadak anak-anak kecil menghampiri kita dan dengan memukul-mukul botol atau potongan besi dan kaleng, mulai menyanyikan lagu-lagu yang tentu saja kurang enak di dengar telinga. Tidak berapa lama mereka pun menyodorkan tangan untuk meminta uang sebagai balas jasa atas lagu-lagu mereka. Bukan hanya anak-anak, para remaja dan pemuda, bahkan orang tua dan dewasa, juga melakukan hal itu dengan berbagai cara, baik ngamen, meminta-minta, atau bahkan memaksa.

Melihat semua itu, kita bertanya, di mana pemerintah yang menjanjikan kemakmuran rakyat? Dan Di mana orang-orang kaya yang seharusnya menyantuni rakyat?   

Jika kita mencermati, kemiskinan terjadi dikarenakan ketidakadilan yang tercipta di tangah-tangah masyarakat. Jika kita melaksanakan keadilan, maka orang-orang kaya akan senantiasa menyantuni fakir miskin, sehingga hidup mereka dapat terbantu dalam menjalani kehidupan ini. Karena keimanan itu, bukan saja mengingat Allah dalam salat, tetapi juga mengingat penderitaan orang miskin sehingga bergerak membantunya. Keimanan bukan saja saat membaca dan mencium al-Quran, tetapi juga mencium kepala para anak yatim dan terlantar lainnya. Keimanan bukan saja membesarkan Allah dengan teriakn Allahu akbar, tetapi juga membesarkan hati orang miskin agar merasakan kebahagiaan. Allah berfirman : “Tahukah kamu siapa pendusta dalam agama. Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang-orang miskin” (Q.S. al-Maun : 1-3)

Banyak ayat al-Quran dan hadis Nabi saaw yg megingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan orang-orang miskin, para pengemis, dan anak-anak terlantar. Mereka bukanlah orang pinggiran yang harus disingkirkan, tetapi mereka adalah kekasih-kekasih Tuhan yang menjadi tempat-Nya mencurahkan rahmat. Mereka bukanlah orang-orang malas, tetapi adalah orang-orang yang diputuskan dari pekerjaannya. Mereka bukanlah orang-orang bodoh, tetapi hanyalah orang-orang yang tidak diberi kesempatan sekolah karena biaya yang mahal. Mereka bukanlah orang yang ingin tidur di kaki lima jalanan, melainkan terpaksa dikarenakan korban penggusuran. Intinya, mereka bukan memilih untuk hidup miskin, tetapi mereka ditindas dan dibiarkan miskin oleh orang-orang kaya dan penguasa.

Kita harus menyadari, bahwa orang-orang miskin bukanlah musuh-musuh yang harus dijauhi, tetapi mereka adalah saudara yang harus didekati dan disayangi. Sebab, jika orang-orang kaya dan penguasa menjauhi dan menyingkirkan orang-orang miskin sehingga kesenjangan sosial terasa begitu nyata, maka akan terjadi disintegrasi sosial yang menghasilkan perlawanan kaum miskin. Jadi, pada dasarnya, kemiskinan tidak menjadi sebab bagi keresahan masyarakat. Kemiskinan menjadi biang keresahan bila secara kontras berhadapan dengan kemewahan. Jadi, sumber keresahan di tengah masyarakat, bukanlah kemiskinan, melainkan ketidakadilan dan penindasan. Karena itu, sudah saatnya kita menggalakkan bantuan dan solidaritas sosial untuk mengatasi kemiskinan, melawan menindasan, dan berusaha menegakkan keadilan, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. al-Isra : 26-27)

Ayat di atas berisi pesan-pesan penting untuk kemanusiaan dan hubungan sosial antar sesama manusia. Diantara prinsip-prinsip hidup yang diajarkan oleh ayat di atas adalah :

  1. Memberikan hak kepada para kerabat dekat, memberikan hak kepada para fakir miskin, baik yang meminta maupun yang tidak meminta, serta membantu orang-orang yang dalam perjalanan (musafir) yang mengalami kesulitan. Ini berarti, bahwa di dalam setiap harta benda kita terdapat hak-hak mereka dan kita jangan mengkhianati serta mencurangi hak-hak mereka tersebut.
  2. Sebagai orang beriman, kita juga dilarang untuk berperilaku boros dengan cara menghambur-hamburkan harta. Orang yang boros, disebut Alquran sebagai sahabat-sahabatnya setan, dan setan itu merupakan makhluk yang sangat ingkar kepada Tuhan.

Kita mungkin sering mentraktir teman-teman makan dipinggir jalan, atau makan siap saji ala KFC atau Mc Donald, bahkan mungkin direstoran mewah tempat orang-orang berdasi. Kita tanpa sadar dan dengan ikhlas mengeluarkan uang berlebih hanya untuk menyenangkan teman-teman kita yang pada dasarnya mampu membayar makanannya masing-masing. Kita mentraktir mereka padahal mereka adalah orang-orang yang kenyang dan ber-uang. Tapi, berapa seringkah kita mentraktir orang-orang kelaparan utk makan? Berapa uang yang kita lemparkan utk pengemis di pinggir jalan? Kita mungkin malu menyebutkannya karena memang tidak sebanding dengan uang utk mentraktir teman. Begitulah, saya dan juga mungkin anda menyadari bahwa empati dan simpati kita masih sangat tipis pada saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Karena itu siapa yang ingin menjadi sahabat setan, tipsnya mudah, jangan bersedekah, abaikan hak-hak orang miskin, dan berlaku boroslah. Tapi kita hanya perlu khawatir dengan sabda Nabi saaw, “Serahkanlah sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu, orang-oang miskin akan menolaknya sambil berkata, ‘Hari ini kami tidak perlu bantuanmu, yang kami perlukan adalah darahmu.”  (CR/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*