alam raya Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al-A’raf : 56)

Fasad atau kerusakan adalah tindakan yang melewati batas kesetimbangan sehingga merusak segala potesi yang ada. Alquran melarang manusia berbuat fasad kepada bumi karena hal itu merusak kehidupan manusia itu sendiri. Bumi dengan segala isinya merupakan ciptaan Allah yang disediakan untuk manusia mencari rezekinya. Kita membutuhkan makanan, dan itu kita peroleh dari tanaman yang tumbuh dibumi. Kita membutuhkan air untuk minum, dan air itu mengalir di bumi. Kita perlu tempat tinggal, bahan bakunya kita dapat dari hasil bumi. Begitu pula, kita membutuhkan pakaian, lagi-lagi hanya bisa diperoleh jika kita mengolah sumber potensi yang ada di alam. Jadi, alam diciptakan Allah memiliki potensi yang baik untuk dikelola demi kemakmuran manusia. Dengan demikian, merusak bumi berarti mengakhiri kehidupan seluruh makhluk Allah swt, terutama kehidupan manusia itu sendiri. Merusak bumi, berarti membuat kita kehilangan bahan makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, yang semua itu merupakan kebutuhan mendesak (primer) yang harus dimiliki.

Begitu pula, ayat di atas juga mengindikasikan kepada kita bahwa Allah swt tidak pernah membuat kerusakan pada alam ciptaan-Nya. Dia adalah Rabbul ‘alamin, Tuhan yang menciptakan dan memelihara alam semesta, karena itu, beragam peristiwa di alam semesta yang secara zahir kita saksikan menyebabkan kerusakan-kerusakan seperti gempa bumi, pada dasarnya bukanlah tindakan fasad dari Allah swt. Tetapi merupakan sistem hukum alam yang diciptakan Allah swt, agar alam senantiasa memperbaiki dirinya sendiri. Karenanya ayat di atas menyatakan , “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…”

Kemudian juga, Allah swt menghubungkan antara fasad dan doa, yang mana ayat di atas mengajarkan kepada manusia agar tidak berbuat fasad (melampaui batas) dalam berdoa. Diantara perbuatan fasad dalam berdoa adalah perasaan bahwa doa kita tidak boleh ditolak oleh Allah swt, tetapi harus senantiasa di kabulkan-Nya tanpa syarat. Hal ini adalah kesombongan dan pemaksaan pada kekuasaan Allah. Begitu pula, termasuk fasad dalam berdoa, jika kita tidak memiliki harapan akan terkabulnya doa, karena hal ini berarti sama saja dengan menyatakan bahwa berdoa tidaklah perlu, karena hal itu adalah kesia-siaan. Jadi, manusia harus bersikap moderat dalam berdoa. Sikap moderat itu ditandai dengan dua ciri penting, yaitu khauf (rasa takut doanya ditolak) dan raja’ (senantiasa berharap doanya terkabul), Ayat di atas menyebutkan, “..berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” Orang yang menjaga bumi dan bersikap moderat dalam berdoa, inilah yang dekat dengan rahmat Allah swt. Merekalah yang disebut al-muhsinin, orang-orang yang berbuat perbaikan, yakni orang-orang yang menjaga kelestarian alam semesta dan menjaga kelestarian ajaran agama, yang merupakan lawan dari al-mufsidin, orang-orang yang membuat kerusakan.

Oleh sebab itulah, dalam ayat lain Allah swt mengingatkan kepada kita, bahwa setiap kerusakan lingkungan yang terlihat di alam semesta adalah akibat perbuatan kita sendiri dan efek dari kerusakan alam itu seperti pemanasan global, banjir, kebakaran hutan, kekeringan, longsor, dan bencana lainnya juga akan menimpa kehidupan kita sendiri, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. al-Rum : 41-42).

Menariknya dalam ayat ini, Allah swt menginformasikan bahwa bencana alam yang membinasakan komunitas manusia telah terjadi dalam sejarah dunia dan hingga kini masih bisa kita saksikan. Dan Allah swt, menggambarkan relevansi antara perbuatan merusak alam sama dengan rusaknya akidah mereka dengan menyebut paraperusak alam (al-mufsidin) kebanyakan orang-orang  musyrik, yang mempersekutukan Allah swt. Ini berarti adanya keterkaitan yang erat antara keimanan kepada Tuhan, hubungan  kemanusiaan, dan penjagaan semesta alam. Semakin orang beriman dan bertakwa, maka semakin ia menjaga lingkungannya. Semakin tidak beriman, semakin mudah merusak jagat raya. Jadi, jika kita merusak alam, pada dasarnya kita sedang menjadi orang musyrik, karenanya, beragam bencana yang timbul berfungsi sebagai pemberi peringatan atau hukuman kepada kita untuk kembali pada jalan yang benar, yakni ketauhidan. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL