Jangan Mendahului Allah dan Rasul-Nya

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَ رَسُولِهِ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَميعٌ عَليمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Berikut beberapa intisari tafsir ayat ini:

1. Ayat ini merupakan larangan umum terhadap segala macam kecenderungan buruk yang ekstrim. Sepanjang sejarah, selalu ada saja manusia yang bertindak berlebihan. Ia merasa telah menjadi orang yang baik dan saleh. Akan tetapi, ketika yang dijadikan parameter adalah apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya, perbuatannya tersebut ternyata berbeda dari parameter tersebut. Sebagai contoh, dulu ada sahabat Rasulullah yang mengira bahwa ‘tidak menikah’ adalah bentuk kesalehan dan ketaatan. Rasulullah pun melontarkan kecamannya, dengan mengatakan bahwa prinsip hidup orang itu berlebih-lebihan.

2. Ayat ini juga menunjukkan bahwa kita diperintah untuk menempa diri kita agar berperilaku seperti malaikat. Di dalam Surat Al Anbiya ayat 27 Allah SWT berfirman:

لا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَ هُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ

“Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya”.

Di dalam ayat ini dikatakan bahwa malaikat adalah makhluk yang tidak pernah mendahului perintah Allah. Kita juga diperintahkan untuk menjadi makhluk yang tidak mendahului perintah-Nya.

3. Salah satu kunci kesuksesan dakwah adalah kemampuan kita untuk ‘memetakan’ secara tepat objek dakwah. Dalam ayat ini, objek dakwah adalah ‘orang-orang yang beriman’. Hanya orang-orang yang beriman yang bisa menerima perintah ini. Karena itu, ilmu dan kebenaran yang kita miliki tidak bisa begitu saja disampaikan kepada setiap orang. Harus kita pastikan terlebih dahulu orang macam apa yang akan kita dakwahi itu.

4. Perintah yang disampaikan dalam ayat ini adalah perintah yang lebih terkait dengan masalah akhlak (bukan perintah hukum atau perintah akidah). Perintah yang terkait dengan akhlak harus disampaikan dengan cara yang santun. Pada ayat ini, Allah terlebih dahulu menegaskan (membenarkan dan menghargai) keimanan kaum Muslimin yang diseru. Ini adalah satu pelajaran penting dalam kehidupan berinteraksi dengan masyarakat: sampaikan kebenaran dengan cara yang benar; sampaikan pelajaran akhlak dengan cara yang santun. Jika tidak, jangan salahkan orang lain kalau malah menunjukkan penolakan.

5. Menghukumi ‘haram’ apa yang dihalalkan oleh Allah, dan sebaliknya menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah adalah bentuk ‘mendahului apa yang diperintahkan oleh Allah’. Sebagai mukmin, kita harus bersikap proporsional.

6. Pada ayat ini, Allah melarang manusia untuk mendahului Allah dan Rasul-Nya. Setelah itu, muncul perintah agar manusia bertakwa. Dengan memperhatikan susunan dan urutan kalimatnya, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sikap berlebih-lebihan atau mendahului apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah bentuk ketidaktakwaan.
7. Agar kita bisa menjalankan perintah Allah secara benar dan sempurna, ada dua pilar penting yang harus kita miliki: iman dan takwa.
8. Di dalam ayat ini, Allah memperingatkan kaum mukminin agar jangan mendahului diri-Nya, dan juga jangan mendahului Rasul. Dari ayat ini bisa diambil kesimpulan bahwa hukum yang disampaikan Rasulullah SAWW adalah hukum dari Allah juga. Keduanya tidak mungkin berbeda apalagi bertentangan. Ketidakpatuhan terhadap Rasulullah adalah ketidakpatuhan terhadap Allah.

9. Kita jangan pernah sekalipun mencari-cari alasan pembenaran atas keburukan perilaku kita dalam hal ‘mendahului apa yang diperintahkan oleh Allah’, karena bagaimanapun juga, Allah adalah Zat yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL