Oleh : Abu Ikhwan Asy-Syatthary

al-kautsarrBila kita ingin menghitung betapa besar Allah menganugerahkan berbagai kenikmatan kepada kita, kita pasti tidak akan sanggup melakukannya. Betapa tidak terbatasnya kemurahan Allah SWT bagi kita yang kita tidak akan mungkin sanggup untuk membalasnya.

Ketika Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu, hal itu bukanlah karena Dia membutuhkannya. Allah SWT tidak membutuhkan apapun dari hamba-Nya. Apapun yang diperintahkan-Nya kepada kita ternyata semata-mata kebaikannya adalah bagi kita juga.

Diantara perintah-Nya adalah, “Maka salatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah”(Q.S al-Kautsar : 2). Kalimat tersebut merupakan rangkaian dari ayat sebelumnya yang menjelaskan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Muhammad (juga kepada kita tentunya) kenikmatan yang banyak. Karena Dia telah menganugerahkan kenikmatan yang besar, Dia memerintahkan kepada kita untuk salat dan menyembelih (hewan ternak).

Shalat kepada Tuhan—sebagaimana makna dasar shalat adalah shalla artinya menghubungkan–kita membangun hubungan spiritual dengan Sang Maha Pembimbing dengan membangun kesadaran yang Qurani yang bentuk pembinaan formalnya adalah melaksanakan ibadah ritual salat.

Ajaran Islam adalah ajaran yang sistematis, yang satu sama lain dalam rangkaian sistem rabbani merupakan kesatuan yang integral. Tidaklah mungkin bisa dipisahkan antara kesadaran spiritual dengan tradisi moral kenabian.. Oleh karena itu perintah salat kepada Sang Pembimbing mencakup juga perintah untuk menghubungkan kesadaran moral dan melanjutkan tugas-tugas risalah kenabian.

Ungkapan verbal Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad adalah ungkapan kesadaran manusia yang siap hidup dengan menjalin hubungan moral dan melanjutkan missi suci kenabian. Dan dapat dipastikan, akan terbangun kehidupan yang selamat dan menyelamatkan apabila setiap mukmin menghayati dan menerapkan dalam hidup dan kehidupannya konsep moral dan missi kenabian ini.

Terbangunnya kehidupan yang aman, damai selamat dan sejahtera diawali dengan terbangunnya pribadi-pribadi yang berkesadaran Qurani serta bermoral dan melanjutkan missi kenabian. Transparansi mental yang merupakan karakter pribadi-pribadi anggota masyarakat adalah modal dasar dalam membangun peradaban yang gemilang. Silaturrahmi adalah sebagai perwujudan berikutnya dari konsepsi sholat menurut sistematika Sang Pengatur Kehidupan Alam Semesta.

Beriringan dengan perintah sholat dalam ayat tersebut adalah “…dan menyembelihlah”. Menyembelih adalah salah satu diantara bentuk-bentuk pengorbanan. Namun bukan berarti secara otomatis, apabila kita telah melakukan penyembelihan berarti kita telah melakukan pengorbanan. Bagaimanapun penyembelihan yang kita lakukan atas nama Allah dan demi pengagungan Allah, adalah sebagai upaya pendekatan kepada Allah Sang Maha Pengatur Alam Semesta, bukan sebagai korban sesajian kepadaNya. Sebagai bahan ilustrasi bagi kita, makna Qurban adala pendekatan, dari kata dasar qariba artinya dekat.

Dalam penyembelihan hewan qurban tersirat pemahaman bahwa untuk melakukan pendekatan kepada Allah, sebelumnya segala bentuk kesadaran hewani harus disembelih dari diri kita. Kita harus hidup dalam kesadaran kemanusiaan seutuhnya. Kecintaan yang timbul dari dorongan hawanafsu, pengharapan yang digantungkan kepada selain Tuhan, kecemasan terhadap hal-hal yang tidak pantas, ketergantungan kepada sesuatu yang lemah, penghambaan kepada sesuatu yang hina, ketaatan kepada sesuatu yang memiliki kebutuhan; semua itu muncul dari kesadaran hewani. Kita harus mati dari kesadaran hewani tersebut dan hidup dalam ketaqwaan, ”Daging-daging dan darah unta itu sekali-kali tidaklah sampai kepada Allah, melainkan ketaqwaan dari kalianlah yang akan sampai kepada-Nya…” (QS al-Hajj : 37).

Tidak sebatas kesadaran saja pemaknaan dari penyembelihan hewan qurban, namun juga mencakup pemaknaan sikap mental dan juga moral sosial. Sikap mental manusia yang tidak peduli dengan orang lain apalagi sampai membuat orang lain menderita, berbuat hanya demi kemaslahatan diri sendiri bahkan sampai mencelakakan orang lain, menyebarluaskan kedengkian serta kebencian dan permusuhan, adalah sikap-sikap mental dan moral kebinatangan yang harus kita sembelih. Sikap mental dan moral yang benar-benar “sebagai bagian dari ummat terbaik” hanya dapat dibangun apabila moral kebinatangan ini telah ambruk.

Peradaban akan bangkit apabila manusia-manusia sebagai anak-anaknya mempersembahkan yang terbaik dalam membangunnya. Peradaban yang agung dengan kekokohan budayanya hanya dapat dihasilkan oleh pribadi-pribadi agung, tradisi kehidupan yang “tegas kepada segala bentuk kekafiran dan berkasih sayang di antara mereka, kamu lihat mereka itu rukuk dan sujud, menginginkan anugerah keutamaan dari Allah dan keridhaanNya, tampak pada wajah (aktifitas kehidupan) mereka pengaruh dari sujud, demikianlah (telah digambarkan) permisalan tentang mereka dalam Taurat dan Injil…” (QS. Al-Fath : 29).

Budaya kekufuran yang serba boleh dan bebas tak terkendali, pertentangan dan perpecahan antara kelompok, budaya saling sikut dan saling tindas demi meraih kekayaan dan atau kekuasaan sehingga memicu fitnah, mencari-cari dan mengekspose aib dan cela orang lain (ghibah), memproduksi dan memasarkan issu-issu menyesatkan (namimah) ; tampak dengan vulgar terpampang di tengah-tengah kita.

Krisis demi krisis yang bersumber dari krisis pemikiran dan krisis moral akibat dari kekufuran, bukan lagi menggejala namun telah menjadi kebijakan bahkan telah membudaya. Bahkan krisis ekonomi yang juga melanda negara-negara lain yang bersamaan waktunya dengan kita, mereka telah terbebas dari itu, namun kita masih terus berkutat dan jalan di tempat. Dan muara dari semuanya itu adalah krisis peradaban. Bangsa kita telah menjadi “Orang Sakit dari Tenggara Millenium 3”.

Kehinaan, kelemahan, kebodohan dan keterjajahan budaya telah menjadi pakaian kehidupan kita. Pertentangan, permusuhan, teror dan kebencian masih menjadi borok bagi bangsa kita. Korupsi dan kolusi masih mengalir dalam urat nadi para pengelola bangsa kita sebagai virus yang menempel dalam sel-sel darah merah perekonomian bangsa ini.

Budaya-budaya hewani seperti tersebut di atas adalah virus-virus yang harus dimusnahkan. Maka kita harus menyembelih budaya hewani dalam budaya kita, dan kita bangun hidup dalam budaya kasih sayang, saling membela, saling menghormati, menghargai, keterbukaan, transparansi, toleransi, dan saling peduli. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL