tarjumanTafsir lengkap berbahasa Melayu tertua yang masih ada saat ini berasal dari akhir abad ke-17 M. Adalah Abdurrauf al-Singkeli (1615-1693 M) yang menulis Tarjuman al-Mustafid di Aceh sekitar tahun 1675 M. Kitab ini merupakan adaptasi dari tafsir al-Jalalayn, meskipun telah lama dianggap sebagai terjemah dari tafsir alBaidhawi. Tafsir Jalalayn dijadikan al-Singkeli sebagai panduan untuk kitabnya. Ia memilih kitab ini karena ia bermaksud menulis tafsir yang bisa dipahami oleh kalangan luas mengingat al-Jalalayn merupakan tafsir yang cukup ringkas dan mudah dicerna. Di samping itu, al-Jalalyn sendiri sudah merupakan kitab tafsir yang paling banyak dipelajari di kawasan Nusantara waktu itu.[1]

Dalam hal ini, ada sejumlah hal yang dilakukan Singkeli terhadap Tafsir al-Jalalayn dalam menyusun karya tafsirnya.

  1. Membuang penjelasan mengenai i’rab.
  2. Membuang penjelasan mengenai pengertian kata dari tinjauan semantik.
  3. Membuang sebagian interpretasi yang panjang.
  4. Membuang interpretasi yang sulit dicerna.
  5. Membuang penjelasan yang tidak terdapat dalam tafsir induknya, al-Khazin.
  6. Mengkonkritkan kata ganti atau menyesuaikan redaksi.
  7. Sesekali menambahkan penafsiran.
  8. Sesekali mengganti pendapat yang tidak ia sepakati.
  9. Sesekali meninggalkan beberapa penafsiran begitu saja.[2]

Awalnya, Singkeli meninggalkan penjelasan mengenai asbab nuzul dan perbedaan qiraat, akan tetapi ia menyuruh muridnya, Dawud Jawi al-Rumi untuk menambahkan penjelasan mengenai keduanya. Kebanyakan penjelasan tentang asbabun nuzul dinukilkan al-Rumi dari tafsir al-Khazin, sementara penjelasan tentang qiraat ditambahkannya berdasarkan yang ia pelajari dari Singkeli.

Namun tidak bisa dipungkiri peran tafsir Tafsir al-Jalalyn, Tafsir al-Baidhawi dan Tafsir al-Khazin menjadi tiga rujukan penting penting Tarjuman al-Mustafid. Bedanya, nama al-Baidhawi jarang disebut, sementara nama al-Khazin lebih sering disebut.[3]

Kendati hanya Tarjuman al-Mustafid sebagai karya tafsir lengkap pertama di dunia Melayu, namun tradisi pengajaran tafsir al-Quran al-Karim sudah hidup di pelbagai pondok pesantren di Nusantara sejak akhir abad ke-16 M, dan semakin marak mulai abad ke-18 M. Ini diindikasikan dari beberapa manuskrip kitab tafsir yang berasal dari abad ke-16 M dan ke-17 M serta manuskrip yang jauh lebih banyak jumlahnya dari abad ke-18 M. Secara berurutan, tafsir al-Jalalyn, tafsir Khazin dan tafsir al-Baidhawi adalah yang paling banyak jumlah manuskripnya. Hanya saja, kuantitas tafsir al-Jalalayn lebih banyak dibandingkan kedua tafsir lainnya.

Sebelum dan setelah abad ke-18 M, ditemukan pula sejumlah kitab yang berkenaan dengan al-Quran seperti manuskrip Kitab al-Tahzib al-Quran karya al-Bayhaqi bertahun 1652 M, dan suatu fragmen tafsir mistik, Tashdiq al-Ma’arif, manuskrip Khasyiyat al-Quran bertahun 1770 M, yang diterjemahkan oleh Kemas Fakhruddin dari al-Khawash al-Quran al-Azhim karya Ahmad bin Muhammad al-Tamimi. Dari abad ke-19 M, ditemukan kitab Mir’at al-Quran fi Tashil Ma’rifat al-Tajwid bertahun 1879 M.[4]

Dari abad ke-18 M, tidak banyak perkembangan tradisi studi al-Quran. Mungkin hanya dua ‘suluk’ yang berisi ‘tafsir sufistik’ atas surat al-Fatihah, yakni Suluk Tegesipun Patekah dan Suluk Suraosipun Patekah yang disusun dilingkungan keraton Surakarta. Selain itu, segala hal yang dilakukan ulama-ulama penting abad ini tidak lebih dari seperti apa yang dilakukan al-Sumatrani dan al-Raniri. Namun, ulama-ulama produktif abad ini tidak lagi muncul dari Aceh, melainkan dari Palembang seperti Kemas Fakhruddin dan Abd al-Shamad.[5]

Awal abad ke-19 M, aktifitas terjemah/tafsir mulai marak. Sejumlah karya terjemah/tafsir sederhana muncul dalam bahasa Jawa. Misalnya terjemah al-Quran bahasa Jawa berjudul Kitab Quran: Tetedhakanipun ing Tembung Arab Kajawekaken setebal 462 halaman. Kitab ini ditulis dengan huruf pegon dicetak oleh Lange & Co, Batavia pada tahun 1858.[6]

Pada akhir abad ke-19 M, seorang ulama Jawa bernama Nawawi al-Bantani (1815-1898 M) menulis sebuah karya tafsir berjudul Marah Labib Tafsir an-Nawawi atau Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil. Tafsir ini selesai ditulis pada tahun 1884 M, dan agaknya lebih sempurna ketimbang Tarjuman al-Mustafid. Tafsir Marah Labib ditulis dalam bahasa Arab, dan penulisannya merujuk kepada lima tafsir yakni al-Futuhat al-Ilahiyah karya Sulaiman al-Azhari yang merupakan syarah dari Tafsir al-Jalalayn, Mafatih al-Ghayb karya Fakhruddin al-Razi, al-Siraj al-Munir karya Muhammad al-Syirbini, Tanwir al-Miqbas yang merupakan tahqiq dari tafsir Ibn Abbas, serta Tafsir Abi al-Su’ud.[7]

Pada abad ke-20 M, kajian-kajian tafsir semakin marak di Indonesia. Syeikh H. Abdul Halim Hasan Binjai, Tafsir al-Ahkam, (Jakarta: Kencana, 2006); Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir an-Nur;HAMKA, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983); Bachtiar Surin,kitab Adz-Dzikra; Terjemah dan Tafsir Quran; kitab Al-Kanz: Terjemah dan Tafsir al-Quran, (Bandung: Angkasa, 1993); Prof. H. Bustami A. Ghani, dkk, Al-Quran dan Tafsirnya, (Yogyakarta: UNP, 1995); dan lainnya.

Pada akhir abad ke-20 M dan awal abad ke-21 M, sejumlah ‘ulama tafsir banyak menulis karya tafsir. Misalnya Umar Shihab, Kontekstualitas al-Quran: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam al-Quran, (Jakarta: Penamadani, 2005); Said Husein Agil al-Munawar, Al-Quran: Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta: Ciputat Press, 2002). Ulama tafsir terkemuka pada masa ini adalah M. Qurasih Shihab yang menulis sejumlah kitab tafsir seperti Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera, 2002); Membumikan al-Quran; Fungsi Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2004); Wawasan al-Quran; dan Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 2000). Pada abad ini, para ‘ulama tafsir Indonesia menggunakan metode tafsir yang bervariasi, mulai dari metode tafsir tahliliy hingga metode tafsir maudhu’i. Bahwa metode tafsir maudhu’i mulai marak digunakan sebagai sebuah metode tafsir terbaru. (hd/liputanislam.com)

Catatan :

[1] Lihat: Azyumardi Azra, Jaringan ‘Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII; Akar Pembaruan Islam Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2004), hlm 246-250.

[2] Salman Harun, Hakikat Tafsir Tarjuman al-Mustafid, (Jakarta: Disertasi IAIN Syarif Hidayatullah, 1988), hlm 47-48; Bandingkan: Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm 125-126.

[3] Izza Rohman Nahrowi,Profil Kajian al-Quran di Nusantara Sebelum Abad Keduapuluh”, dalam, Jurnal Al-Huda, Volume II, Nomor 6, 2002, hlm 13.

[4] Nahrowi,Profil Kajian al-Quran…”, hlm 14.

[5] A.H. Johns,“Islam di Dunia Melayu: Sebuah Survei Penyelidikan dengan Beberapa Referensi kepada Tafsir al-Quran”, dalam Azyumardi Azra (ed.), Perspektif Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989), hlm 110-111.

[6] B.J. Boland dan I. Farjon, Islam in Indonesia: A Bibliograpical Survey 1600-1642 with Post-1945, (Holland and USA: Foris Publication, 1983).

[7] Lihat: A. Steenbrink, Beberapa Aspek …, hlm 126; Nahrowi,Profil Kajian al-Quran..”, hlm 15; Bandingkan: Abdurrahman Mas’ud, Dari Haramain ke Nusantara; Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm 28-134.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL