maani alquranKeberadaan al-Quran memiliki kegunaan praktis bagi umat manusia dalam menjalani kehidupannya. Hal ini dikarenakan al-Quran al-Karim berisikan dasar-dasar dan undang-undang kehidupan. Al-Quran Al-Karim berisikan pelbagai ajaran yang dapat membimbing umat manusia menuju ke puncak kebahagiaan. Karena itulah, Allah SWT menurunkan al-Quran melalui nabi Muhammad SAW kepada umat manusia agar mereka dapat mengail manfaat dari al-Quran. Secara umum, al-Quran mengandung sejumlah sumber dasar Islam, yakni dasar-dasar akidah, akhlaq, dan hukum-hukum syara’, serta perbuatan yang dasar-dasarnya telah dijelaskan oleh al-Quran. Pelbagai hal ini dipandang patut diketahui oleh umat manusia agar mereka dapat menjalani kehidupannya sebagaimana kehendak-Nya, bahkan kesemua hal tersebut dapat membantu mereka menggapai kebahagiaannya, baik di dunia maupun akhirat. Sebagai konsekuensinya, umat Islam dituntut untuk mampu memahami al-Quran secara baik dan benar, agar mereka dapat menemukan pesan-pesan al-Quran yang bermanfaat bagi kehidupannya.

Namun, upaya menafsirkan al-Quran al-Karim memang tidak semudah membalikkan kedua belah telapak tangan, sehingga hal tersebut membuat tidak semua umat Islam dapat menafsirkan al-Quran. Jika demikian, maka mereka akan sulit menemukan pesan-pesan dimaksud sehingga hal ini membuat mereka tidak dapat memahami al-Quran dengan baik dan benar. Pada priode kenabian, nabi Muhammad SAW menjadi penafsir ‘tunggal’ terhadap al-Quran, sehingga umat Islam ketika itu dapat memahami al-Quran sesuai dengan petunjuk nabi Muhammad SAW. Setelah nabi wafat, maka penafsiran diteruskan oleh sejumlah sahabat dan tabi’in. Pada priode berikutnya, kebutuhan terhadap pemahaman atas al-Quran membuat para ahli tafsir mengembangkan metode penafsiran tersebut sedemikian rupa.

Alhasil, lahirlah sebuah ilmu yang dikenal sebagai ilmu tafsir. Ilmu ini dikembangkan oleh para ‘ulama tafsir agar mereka dapat menafsirkan al-Quran, agar mereka dapat memahami makna al-Quran dengan baik dan benar mencakup hukum-hukumnya, hikmah-hikmahnya, akhlaq-akhlaqnya, serta petunjuk-petunjuknya, sehingga umat Islam sebagai konsumen utama produk penafsiran Mufassir tersebut dapat memperoleh manfaat darinya. Karenanya, umat Islam dapat memahami al-Quran, sehingga pada akhirnya mereka dapat meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ilmu tafsir, maka para Mufassir dapat terpelihara dari kesalahan dalam memahami al-Quran.

Sejarah perkembangan tafsir dapat dibagi menjadi tiga priode.

Pertama, Priode Rasulullah SAW, Sahabat, dan awal masa Tabi’in. Pada priode ini, tafsir belum ditulis dan secara umum periwayatan tersebar secara oral (baca: lisan).

Kedua, Priode ketika ‘Umar bin Abdul ‘Azis (99-101 H) memulai mengkodifikasikan hadits secara resmi. Pada priode ini, penulisan tafsir masih bergabung dengan penulisan hadits-hadits, dan dihimpun dalam satu bab seperti bab-bab hadits. Umumnya penafsiran tersebut dikenal sebagai Tafsir bi al-Ma’tsur.

Ketiga, Priode penyusunan kitab-kitab tafsir secara khusus dan berdiri sendiri. Sementara ahli menduga bahwa penyusunan kitab tafsir secara khusus di telah mulai oleh Al-Farra (w. 207 H), penulis kitab Ma’ani al-Quran. Berdasarkan pembagian ini, maka kitab tafsir baru disistematisasikan pertama sekali pada abad 2 H, yakni ketika Al-Farra (w. 207 H) menuliskan sebuah kitab tafsir secara khusus dan sistematis. Penulisan ini pun dilakukan di Timur Tengah.

Akan tetapi, bukan berarti Al-Farra (w. 207 H) sebagai ahli tafsir pertama. Sebagaimana pembagian periodesasi perkembangan tafsir di atas, ilmu tafsir al-Quran telah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pembagian di atas hanya dilihat dari segi penulisan kitab tafsir secara khusus dan mandiri. Sementara ilmu tafsir telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, kemudian dikembangkan oleh sahabat, tabi’in, tabiit tabi’in, dan seterusnya. Dengan kata lain, tafsir sebagai sebuah ilmu telah dikenal sejak permulaan kelahiran Islam.

Asia Tenggara dikenal sebagai salah satu kawasan Dunia Islam. Di antara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara berpenduduk Islam terbesar di dunia. Agama Islam diakui telah masuk ke kawasan ini sejak abad 1 H/8 M. Di Indonesia, tradisi intelektual berkembang secara perlahan, namun pasti. Dalam konteks ini, kajian tafsir pun berkembang seperti itu pula. Kajian-kajian tafsir, dalam artian luas, mulai berkembang sejak agama Islam mulai ‘unjuk gigi’ di kawasan Jambrut Khatulistiwa ini. Pada priode seterusnya, kajian tafsir di Indonesia terus mendapat angin. Hal ini ditandai oleh keberadaan sejumlah kitab tafsir disertai kitab-kitab ilmu tafsir produk khas dari ‘ulama tafsir Indonesia. (hd/liputanislam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL