وَ وَصَّيْنَا الْإِنْسانَ بِوالِدَيْهِ إِحْساناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَ وَضَعَتْهُ كُرْهاً وَ حَمْلُهُ وَ فِصالُهُ ثَلاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَ بَلَغَ أَرْبَعينَ سَنَةً قالَ رَبِّ أَوْزِعْني أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلى والِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صالِحاً تَرْضاهُ وَ أَصْلِحْ لي في ذُرِّيَّتي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَ إِنِّي مِنَ الْمُسْلِمينَ

أُولائِكَ الَّذينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ ما عَمِلُوا وَ نَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئاتِهِمْ في أَصْحابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذي كانُوا يُوعَدُونَ

 “Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhan-ku, berikanlah taufik kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal terbaik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka”

(Q.S. Al-Ahqaf : 15-16)

pemimpinAsghar Ali Engineer pernah mengatakan bahwa di dalam dunia politik, tujuan-tujuanlah yang harus dijadikan pusat perhatian, bukan kata dan istilah-istilah. Ini berarti, kita jangan disesatkan oleh istilah-istilah yang digunakan para politisi, tetapi malahan harus mencoba untuk menggali tujuan-tujuannya di balik istilah-istilah tersebut. Orde lama, orde baru, dan reformasi adalah istilah-istilah politik yang di satu sisi menunjukkan babakan sejarah namun di sisi lainnya adalah menunjukkan isi dari sejarah itu. Secara historis, kita semua nyaris termasuk kaum orde baru, tetapi sekarang banyak yang tidak senang jika di bilang sebagai ‘orang orde baru’. Rawan pangan adalah istilah politik untuk menyatakan adanya kelaparan.

Dan kini, istilah ‘saatnya kaum  muda memimpin’ menjadi istilah politik karena malu untuk terus terang mengatakan dalam bahasa akademik bahwa kita sedang mengalami krisis kepemimpinan, atau dalam bahasa keluhan dikatakan ‘kok pemimpin kita itu-itu saja’. Inilah problem serius yang dihadapi bangsa ini, dan uniknya belum diambil langkah-langkah serius untuk mengatasinya. Mengapa? Karena ambisi ‘penguasa tua’ yang selalu menganggap kaum muda sebagai orang yang tidak berpengalaman. Meskipun kita juga sulit menguji pengalaman mereka, apakah pengalaman dalam mereformasi atau pengalaman dalam manipulasi dan tentunya basa-basi?

Pertama-tama, penting sekali mengetahui kapan dan siapa yang menggunakan istilah tersebut, jika kita ingin menyelidiki tujuan sesungguhnya di balik istilah tersebut. Di lihat secara kasar, istilah-istilah ini digaungkan oleh orang-orang yang non-pemerintah, non-partai, akademisi, dan media massa ketika pemilu mulai mendekat. Perlu kita sadari, istilah ini telah menghasilkan dikotomi dan kontroversial bahkan fenomena saling serang dan saling caci antara satu sama lainnya, yakni generasi lama dengan generasi baru, ‘kaum tua’ dengan ‘kaum muda’ atau antara generasi yang mengaku berpengalaman, dengan generasi yang dianggap belum berpengalaman. Apakah isu ‘saatnya kaum muda memimpin’ telah menjadi senjata ampuh bahkan mematikan yang digunakan untuk menggagalkan statusquo dan menghadapi para penguasa.

Kemudian, kita menyadari bahwa kebanyakan negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, langsung atau tidak senantiasa didominasi dan tergantung pada kekuatan asing (Barat). Sekelompok orang sering berteriak, ‘apapun yang dialami bangsa ini, tidak lain ulah dari negara-negara asing yang sok berkuasa’. Anda bayangkan, hanya karena krisis ekonomi di Amerika sehingga melemahkan dolar, akhirnya melambungkan harga minyak dunia. Implikasinya, Indonesiapun harus mengikuti untuk menaikkan harga BBM. Begitu pula dengan perkembangan politik di Indonesia, persepsi para politisi kita masih banyak dibentuk melalui persepsi Barat yang disuarakan melalui corong-corong pemerintah, lembaga non-pemerintah, akademisi, dan tentunya media massa. Jadi, kita juga dihinggapi keraguan, Apakah suara ‘saatnya kaum muda memimpin’, juga didominasi oleh para ‘pekerja’ yang berkiblat ke Barat, seperti halnya juga generasi tua. Setidaknya, kebanyakan mereka adalah alumnus dari ‘sekolah-sekolah’ Barat, kata rekan saya yang berjiwa ketimuran itu.    

Menariknya, kelompok ‘anti Barat’ ini juga menyabet isu ‘kepemimpinan’, tetapi dengan mengesampingkan isu-isu sosial ekonomi politik yang mendasar dan merubahnya hanya menjadi isu keagamaan dengan saling sesat menyesatkan seperti bubarkan ahmadiyah, tolak ajaran syiah, awasi kristenisasi dan juga ‘islamisasi’, atau yang lebih mencekam lagi, yaitu bubarkan Indonesia yang Pancasila dan ganti dengan khilafah islamiyah. Hasilnya, isu-isu pinggiran ini menjadi booming dan menyita perhatian khalayak serta menyulut pergerakan massal, sehingga menguburkan persoalan mendasar bangsa dan negara ini.

Karena itu, ‘saatnya kaum muda memimpin’ harus dipahami dan bertujuan benar. Ia bukan sekedar munculnya generasi baru, tetapi yang terpenting adalah munculnya ide-ide brilian dan paradigma baru untuk membawa bangsa lebih maju. Karena itu, ‘kaum muda’ bukanlah ukuran usia, sebab banyak juga orang muda usia yang pikirannya statis, kolot, dan usang. Melainkan orang-orang yang memahami perkembangan zaman, sehingga memiliki paradigma baru dalam berpikir, baik usia muda ataupun orang lanjut usia yang memberikan inspirasi bagi gerakan kaum muda.

Begitu pula, istilah ‘saatnya kaum muda memimpin’ tidak boleh menghasilkan dikotomi usia, tetapi adalah generasi yang menghargai karya para pendahulunya dan berusaha untuk lebih baik pada zamannya dan mempersiapkan pula untuk generasi berikutnya. Di dalam al-Quran disebutkan, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya.. sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal terbaik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka (Q.S. Al-Ahqaf : 15-16)

Ayat ini melukiskan cara berpikirnya ‘kaum muda’ (yang disimbolkan dengan usia 40 tahun), yaitu adanya semangat keimanan dan semangat berterima kasih kepada orang tuanya (simbol para pendahulunya/generasi tua), lalu ia meminta dirinya agar di beri kekuatan mengerahkan semua kemampuannya untuk membawa umat pada kebaikan (simbol kepemimpinan) dan memperhatikan anak cucunya (simbol generasi berikutnya) untuk dipersiapkan menjadi ‘kaum muda yang baru’ di masa depan. Ada beberapa riwayat menjelaskan bahwa ayat ini salah satu doa kenabian agar regenerasi kepemimpinan berjalan dari keturunannya )anak cucunya) dan tentu saja keturunan itu adalah manusia terbaik seperti dilukiskan juga dalam doa Nabi Ibrahim as bahwa janji Allah swt tentang kepemimpinan tidak berlaku bagi orang yang zalim (Q.S. al-Baqarah : 124).

Adapun ‘kaum muda’ yang tersesat disimbolkan al-Quran dengan ‘kaum muda’ yang tidak tahu berterima kasih dan tidak mau memperhatikan nasehat para pendahulunya sehingga dikutuk oleh ‘kaum tua’, “Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya…lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.(Q.S. al-Ahqaf : 17)

Jadi, seperti zaman dulu di Sumatera Barat ada istilah ‘kaum muda’ yang ingin merubuhkan statusquo dan mitosnya penguasa adat yang disebut sebagai ‘kaum tua’, maka apakah ‘kaum muda’ masa kini ingin pula merubuhkan statusquo penguasa yang bertahan meskipun usia sudah beranjak ‘senja’? Atau lebih difokuskan pada perlunya model kepemimpinan baru sebagai simbol kebangkitan bangsa? Semuanya terserah anda! (CR/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL