persatuan islamKetika perang Ahzab, kaum Quraisy dan kabilah Ghathafan bergerak menuju Madinah di bawah pimpinan Abu Sufyan. Mereka mendirikan markas di pinggrian Kota Madinah. Kabar penyerangan tersebut diterima Rasululah saw. Beliau memerintahkan untuk menggali parit di sekeliling Madinah, dan beliau terjun sendiri sebagai penggali parit.

Ketika itu, pasukan kafir mengepung Madinah sekitar satu bulan, muncullah kemunafikan di tengah-tengah pasukan kaum muslimin. Orang-orang munafik bermalas-malasan dan memilih pekerjaan yang ringan-ringan saja bahkan sering diam-diam meninggalkan barisan kaum muslimin tanpa sepengetahuan dan izin Rasulullah saw. Kalau ketahuan Rasul mereka memberikan alasan seperti diabadikan Alquran, “Rumah-rumah kami kosong (tidak ada yang menjaga). Sesungguhnya rumah-rumah (mereka) itu tidak kosong. Mereka itu (sebenarnya) hendak lari” (Q.S. al-Ahzab : 13). Bayangkan ketika Rasulullah saw berhadapan dengan musuh yang ingin menghancurkan “rumah” Islam, mereka khawatir dengan rumahnya sendiri. Ketika Rasul membutuhkan persatuan kaum muslimin mempertahankan “rumah” persatuan Islam, mereka memecah belah persatuan tersebut dengan mengedepankan “rumahnya” (kepentingan pribadi/kelompoknya) sendiri.

Di sisi lain, kaum mukminin sejati, bila benar-benar terpaksa harus pergi meninggalkan “rumah” Islam dan ingin menjenguk rumahnya, maka dia terlebih dahulu memohon izin kepada Rasulullah saw, dan jika diberi izin, dia akan pergi, jika tidak ia akan kembali bekerja. Rasul saw pun memberikan izin kepadanya. Dan apabila keperluannya sudah selesai, mereka dengan secepatnya kembali ke “rumah” Islam dalam barisan persatuan kaum muslimin. Alquran mengabadikan hal ini :

“(Yang disebut) orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sungguh orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. an-Nur : 62).

Ciri orang beriman yang disebutkan oleh ayat tersebut adalah tidak meninggalkan “rumah”persatuan Islam tanpa izin dari Rasul saw di saat kaum muslimin membutuhkan persatuan menghadapi musuhnya. Karena “rumah” Islam adalah tempat membincangkan urusan atau kepentingan bersama (amrun jami’). Ketika diperjuangkan kepentingan bersama, maka belakangkanlah kepentingan pribadi/kelompok kita. Mendahulukan “rumah” (kepentingan pribadi/kelompok) kita dari “rumah” Islam akan merusak persatuan kaum muslimin.

Karena itu orang yang meminta izin kepada Rasulullah saw untuk meninggalkan “rumah” persatuan Islam, dan kemudian diberikan izin oleh Rasulullah saw, dikatakan sebagai orang yang benar-benar beriman dan tidak melakukan dosa. Meskipun begitu, Q.S. an-Nur : 62 di atas, memerintahkan Rasul untuk memintakan ampunan bagi orang tersebut, padahal mereka telah meminta izin kepada Rasulullah saw.

Hal ini tidak lain karena “rumah” Islam adalah “rumah” bersama yang mulia di atas “rumah” apapun, dan urusan bersama yang dibicarakan oleh Rasulullah saw adalah urusan yang paling penting yang tidak ada yang lebih penting dari urusan tersebut. Jadi, orang yang meninggalkan “rumah” Rasulullah saw sekalipun dengan izin Rasululah saw dan tidak berdosa, tetap dianggap telah berlaku tidak layak, karena mendahulukan “rumah” (baca : kepentingan pribadi/kelompok) di atas kepentingan Allah dan Rasulnya. Untuk itulah Rasul saw memohonkan ampunan bagi mereka.

Dalam tafsiran lainnya, bahwa orang-orang yang meminta izin kepada Rasul saw untuk menjenguk “rumahnya” (kepentingan pribadi/kelompoknya) adalah orang yang layak mendapatkan keridhaan Allah swt karena kesopanan mereka kepada Rasul saw, dan sebagai ungkapan terima kasih dan balasan atas perbuatan sopan dan baik mereka kepada Rasul saw, maka Rasul pun memohonkan ampunan bagi mereka.

Tentu saja “rumah” rasulullah sebagai simbol persatuan Islam bukan hanya ketika Rasululah saw masih hidup. “rumah” Rasulullah saw adalah rumah sepanjang zaman. Umat Islam juga punya musuh-musuh yang terus menerus merongrongnya. Mereka berusaha memecah barisan dan persatuan kaum muslimin dengan mengedepankan kepentingan “rumahnya” (pribadi/kelompoknya). Perpecahan dihembuskan dengan berbagai isu dan fitnah. Karena itu, Rasul berusaha kuat menjaga persatuan kaum muslimin dalam melawan musuh-musuhnya yang nyata.

Setiap “rumah” yang di dalamnya dibincangkan komitmen persatuan Islam dalam melawan musuh-musuh Islam, adalah rumahnya Rasulullah saw. Jika kita diundang ke “rumah” Rasul, maka datanglah, dan berusahalah jangan meninggalkannya hanya karena adanya keperluan pribadi atau kelompok kita. Dahulukan “rumah” Rasul saw dan kesatuan Islam daripada “rumah” kita, kepentingan pribadi atau kelompok kita, karena “rumah” Rasul saw tempat bernaungnya seluruh umat manusia, tempat kebaikan dunia dan akhirat.

Namun, anehnya, sekarang ada orang-orang dengan beringasnya melarang “rumah” persatuan Islam hanya karena perbedaan pendapat. Mereka memecah barisan dan persatuan kaum muslimin dengan tuduhan bid’ah, sesat, kafir, dan musyrik. Secara langsung maupun tidak, mereka menciptakan permusuhan di antara kelompok-kelompok kaum muslimin, sementara musuh-musuh Islam sedang mengepungnya dari segala arah untuk setiap saat memangsa mereka. Jika, orang yang meninggalkan “rumah” persatuan Islam karena mementingkan “rumahnya” (baca : kelompoknya) sendiri, masuk dalam kategori kemunafikan, lantas bagaimana dengan orang-orang yang melarang “rumah” persatuan Islam itu sendiri dan menebar fitnah ke sana kemari? Wallahu a’lam bi shawab. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*