evolusi manusiaTeori ‘mutasi genetika’, sebagaimana dipaparkan di atas, mengisyaratkan bahwa sebelum Adam tersebut tercipta, bumi ini telah dihuni oleh makhluq yang menyerupai manusia, namun belum dinggap sebagai manusia. Kemudian Tuhan menghendaki mutasi genetika di kalangan makhluq itu, maka sesuai dengan firman-Nya di atas terwujudlah manusia itu. Lalu Adam lahir sebagai spesies baru yang bernama manusia dan sangat berbeda dari makhluq-makhluq sebelumnya dalam berbagai hal, terutama kemampuan menalar. Dalam kaitan ini, Tuhan menyatakan di dalam Q.S. al-Baqarah: 30,

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah : 30)

Ayat ini dengan jelas menginformasikan kepada kita bahwa sebelum Adam diciptakan Tuhan, bumi telah dihuni oleh spesies yang berkarakter jelas seperti kejam, buas, merusak lingkungan, suka bunuh-bunuhan, suka berperang, dan sebagainya. Itulah sebabnya para malaikat mempertanyakan kepada Tuhan tentang khalifah yang hendak yang hendak diciptakan-Nya. Mereka khawatir: jangan-jangan khalifah yang akan diciptakan tersebut juga akan berbuat yang tidak baik dan merusak. Namun setelah Tuhan menegaskan bahwa Dia mengetahui apa-apa yang tidak ketahui oleh malaikat, maka mereka diam.

Spesies baru, khalifah yang akan diciptakan Tuhan itu, benar-benar berbeda dan jauh lebih istimewa dari makhluq-makhluq sebelumnya yang pernah Tuhan ciptakan, bahkan malaikat pun tidak sanggup menandinginya, khususnya dari segi kemampuan berfikir abstrak konsepsional dan menggunakan akal dalam menangkap simbol-simbol. Kelebihan-kelebihan khalifah tersebut tertera dalam Q.S. al-Baqarah: 31-33 :

Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” Sebenarnya terjemahan Hakim dengan Maha Bijaksana kurang tepat, Karena arti Hakim ialah: yang mempunyai hikmah. hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. di sini diartikan dengan Maha Bijaksana Karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti Hakim.” (Q.S. al-Baqarah : 31-33)

Dengan kemampuan menalar yang dimiliki oleh Adam, maka dia dapat berkembang, menciptakan peradaban dan kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, dan sebagainya. Karena itu, pantasnya kalau keturunan Adam diberi kepercayaan sebagai khalifah di muka bumi.

Teori evolusi yang ditemukan sains modern sebagaimana digambarkan di muka jelas tidak sejalan dengan pemahaman konvensional terhadap ayat-ayat yang membicarakan penciptaan manusia pertama (Adam). Al-Qurtubhi misalnya, menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan Adam dengan tangan-Nya sendiri langsung dari tanah selama 40 tahun. Setelah kerangka itu siap, maka para malaikat melewatinya. Mereka terperanjat karena sangat kagum melihat ciptaan Tuhan tersebut. Makhluq paling kagum melihatnya adalah Iblis, lalu diketuk-ketuknya kerangka tubuh Adam tersebut hingga terdengar seperti suara belanga dipukul.

Jika dibandingkan dengan penafsiran tersebut dengan penafsiran tematis di atas, tampak kepada kita bahwa penafsiran tematis terasa lebih dekat kepada pemahaman ayat-ayat al-Quran dan lebih sesuai dengan kenyataan empiris dalam kehidupan, yakni secara anatomis konstruksi tubuh manusia tidak jauh berbeda dari hewan sebagaimana terlihat pada alat-alat pencernaan, makanannya, dan lainnya. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan manusia adalah ‘anak bumi. Pemahaman ini didukung oleh Q.S. Nuh: 17, “Dan Allah SWT menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya.

Kalau diperhatikan dengan seksama latar belakang lahirnya penafsiran konvensional, seperti dikemukakan al-Qurtubi di atas, paling tidak ada tiga hal yang mempengaruhinya, yakni: pertama, kurang memperhatikan keseluruhan ayat yang membicarakan tentang penciptaan Adam. Akibatnya tidak diperoleh gambaran utuh darinya. Kedua, dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Israiliyat, dan ketiga perkembangan ilmu pengetahuan belum semaju sekarang.

Apabila diamati dengan seksama pola penafsiran tematis yang diungkapkan di atas, tampak kepada kita bahwa langkah-langkah yang ditempuh di dalam pernafsiran tersebut relatif telah terpenuhi, yakni seperti menghimpun teks-teks ayat secara berurutan sesuai dengan kronologi turunnya, kemudian mengemukakan argumen-argumen dari ayat-ayat dan/atau hadits-hadits nabi Muhammad SAW; dan tidak ketinggalam pula dikemukakan pendapat-pendapat para ‘ulama dan ilmuan-ilmuan berkenaan dengan pemahaman ayat-ayat tersebut. Demikian pula ikut dikaji pengertian kosa-kata yang menjadi tema pokok di dalam ayat-ayat Alquran. Berkenaan dengan asbabun nuzul, karena tidak semua ayat al-Quran memilikinya, maka jika kajian itu memiliki asbabun nuzul, biasanya hanya pada ayat-ayat hukum, maka mufassir bersangkutan harus mengkajinya secara tuntas. Namun apabila ayat-ayat dimaksud tidak memiliki asbabun nuzul, maka kajian seperti itu tidak diperlukan. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL