munafikkIbnu Ishak dan al-Baihaqi dalam kitab ad-Dalail meriwayatkan dari Urwah dan Muhammad bin Ka’ab serta lainnya bahwa pada saat perang Ahzab, kaum Quraisy yang menuju Madinah di bawah komando Abu Sufyan berhenti di dataran rendah pinggiran Kota Madinah, sedangkan pasukan Ghatafhan berhenti di Na’ma dekat Gunung Uhud. Rasulullah saw yang mendengar berita akan penyerangan Madinah, memerintahkan untuk membuat parit di sekeliling Madinah. Maka para sahabatpun bahkan Rasulullah saw sendiri ikut turun bekerja keras menggali parit sebagai pertahanan. Dalam kondisi seperti itu, di mana semua bantuan diharapkan, orang-orang munafik yang ada di Madinah bermalas-malasan, dan hanya mengerjakan hal-hal yang ringan saja, bahkan sering meninggalkan pekerjaannya dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi tanpa seizin Rasulullah saw. Di sisi lain, seorang sahabat mukminin yang bekerja keras menggali parit, jika memiliki keperluan mendesak, selalu meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah saw untuk meninggalkan pekerjaannya dan Rasul pun memberikan izinnya. Itu pun hanya sebentar, jika telah selesai keperluannya, sahabat tersebut dengan segera kembali bersama Rasulullah saw menggali parit. Pada saat itu Allah menurunkan ayat untuk membedakan dua karakter manusia yakni karakter munafik dan karakter mukmin yang dihubungkan dengan adab mereka terhadap Rasulullah saw, “(Yang disebut) orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sungguh orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. an-Nur : 62).Orang munafik adalah orang yang selau meninggalkan majelis tanpa izin Nabi, sedangkan orang mukmin sebaliknya (as-Syuyuthi, Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul)

Kedudukan Rasulullah saw sebagai Nabi sekaligus pemimpin adalah pencapaian puncak kesempurnaan insani. Meskipun begitu, sebagai makhluk sosial, kebersamaan Nabi dalam mengatur masyarakat haruslah dibarengi dengan loyalitas dan ketaatan dari para pengikutnya. Kekuatan jamaah terletak pada persatuan dan ketaatan. Tanpa hal itu, masyarakat akan menjadi lemah dan terpecah belah. Karena itu, menjaga loyalitas terhadap pemimpin, terkhusus terhadap kepemimpinan Nabi saw untuk bersama-sama menghadapi beragam problem keummatan adalah tanda keimanan dan ketaatan. Q.S. an-Nur : 62 di atas sedang memberikan gambaran kepada kita pentingnya loyalitas tersebut dengan menunjukkan contoh konkrit peristiwa di masa kenabian dan bagaimana cara kita bersikap kepada Nabi saw.

Jadi, jika pada ayat-ayat sebelumnya, berbicara tentang adab pergaulan dengan teman dan saudara atau kerabat, maka ayat ini berbicara tentang adab kaum muslimin terhadap pemimpin mereka, Nabi saw, dengan memberikan tekanan pada ketaatan dan loyalitas, yang mana mereka tidak boleh meninggalkan majelis dan tugas yang sedang dilakukan tanpa izin pemimpinnya. Ayat ini juga mengajarkan disiplin dalam memperkokoh persatuan kaum muslimin. Para mufassir menyebutkan, kalimat amrin jami’ (urusan bersama) adalah urusan penting yang mengharuskan berkumpulnya orang banyak dan kerjasama mereka; baik urusan tersebut merupakan masalah krusial musyawarah ataupun masalah perang jihad dan memerangi musuh, atau salat jum’at dalam kondisi yang sangat kritis, atau urusan-urusan semacam itu yang bernilai kebersamaan.

Perlu pula diperhatikan, bahwa yang dimaksud meminta izin dalam ayat ini bukanlah permintaan izin sekedarnya saja, melainkan permintaan izin yang benar-benar datang dari sifat ketaatan dan keimanan, yang mana ia menyadari kedudukan Rasulullah saw sebagai pengambil keputusan. Artinya, dalam permintaan izin itu, ada kesadaran bahwa dia siap dengan sepenuhnya menerima apapun keputusan, baik diberi izin ataupun tidak. Sepenuhnya penilaiannya diserahkan kepada pemimpinnya. Jika pemimpinnya merasa kehadiran orang itu penting, maka dia tidak memberi izin, dan orang tersebut dengan ketulusan mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan yang lebih besar. Jika sebaliknya, maka diberi izin. Jadi Nabi saw harus mempertimbangkan dan meneliti dengan benar situasi dan kebutuhannya, sehingga tidak sembarangan memberikan izin. Hal ini telah diwanti-wanti oleh Allah swt dalam firman-Nya, “Mudah-mudahan Allah memaafkanmu! Mengapa engkau memberikan izin kepada mereka sebelum engaku mengetahui mereka yang berkata benar dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?” (Q.S. at-Taubah : 43). Ini berarti, nabi saw harus bersikap cermat dalam memebrikan izin kepada individu-individu. Beliau harus memperhitungkan resikonya dan bertanggungjawab kepada Tuhan.

Dengan demikian, Alquran menegaskan bahwa orang-orang yang meminta izin kepada Nabi Muhammad saw dan keimanan mereka kepada Allah swt dan rasul-Nya bukanlah sekedar di mulut saja. Mereka itu betul-betul taat kepadamu dan kepada perintah Allah swt dengan segenap jiwa dan raganya; maka, berilah mereka izin, hal inilah yang disebutkan ayat di atas, “Sungguh orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka”.

Ciri orang beriman yang disebutkan oleh ayat tersebut adalah tidak meninggalkan majelis Rasulullah saaw tanpa izin darinya. Dan orang yang meminta izin kepada Rasulullah saaw untuk meninggalkan majelisnya, kemudian diberikan izin oleh Rasulullah saaw, dikatakan sebagai orang yang benar-benar beriman dan tidak melakukan dosa. Tetapi, menariknya Rasulullah saaw diperintahkan Allah untuk memintakan ampunan bagi orang-orang beriman tersebut, sekalipun mereka telah meminta izin kepada Rasulullah saaw. Hal ini tidak lain karena majelis Rasulullah saaw adalah majelis yang mulia di atas majelis apapun, dan urusan agama yang dibicarakan oleh Rasulullah saaw adalah urusan yang paling penting yang tidak ada yang lebih penting dari urusan tersebut. Jadi, orang yang meninggalkan majelis dan pembicaraan Rasulullah saaw sekalipun dengan izin Rasululah saaw dan tidak berdosa, tetapi dianggap telah berlaku tidak layak, karena mendahulukan kepentingannya di atas kepentingan Allah dan Rasulnya (kepentingan agama). Untuk itulah Rasul saaw memohonkan ampunan bagi mereka. Dalam tafsiran lainnya, bahwa orang-orang yang meminta kepada Rasul saaw adalah orang yang layak mendapatkan keridhaan Allah swt karena kesopanan mereka kepada Rasul saaw, dan sebagai ungkapan terima kasih dan balasan perbuatan sopan dan baik mereka, Rasul saaw memohonkan ampunan bagi mereka.

Sekarang koreksi diri kita masing-masing, apakah saat umat ini berjuang untuk kepentingan Islam yang memerlukan kerjasama dan persatuan, membutuhkan hadirnya kita, ambillah contoh kecil, seperti demonstrasi untuk menggalang solidaritas umat Islam melawan musuh-musuh Islam, apakah kita mendukungnya atau kita lebih mementingkan urusan pribadi kita? Ini ujian keimanan kita saat ini. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL