Oleh : Khaled Abou el-Fadl

abou el-fadhlSejak beberapa tahun yang lalu hingga sekarang, terjemahan Alquran bahasa Inggris yang dicetak dengan indah telah dibagikan secara gratis di hampir setiap Pusat Kegiatan Islam di Amerika. Terjemahan subversif ini ditemukan di setiap toko buku muslim dan setiap Pusat Kegiatan Islam berbahasa Inggris. Para penulis terjemahan itu adalah para profesor di University of Medina, dan buku itu dicetak, dengan biaya tanpa batas, di Saudi Arabia. Pada halaman pertama ada sertifikat keaslian dan persetujuan oleh almarhum Abd al-Aziz bin Bazz, “Kepala Kementrian Riset Islam, Opini Legal, Dakwah dan Bimbingan” (Idarat al-Buhuts al-Ilmiyyah wa al-Iftha wa al-Da’wah wa al-Irsyad). Cukup menarik juga, Bin Bazz tidak mengetahui sepatah kata pun bahasa Inggris, tapi dia memverifikasi teks itu. Namun demikian, terus terang saja, terjemahan itu adalah reproduksi sepenuhnya dari pandangan Bin Bazz dengan semua keanehannya. Di samak buku itu tertulis judul, “Interpretasi Makna Alquran al-Karim dalam Bahasa Inggris : Versi Ringkasan at-Thabari, al-Qurthubi, dan Ibn Katsir dengan penjelasan dari Shahih al-Bukhari yang Diringkas dalam Satu Jilid.

Kesan yang ditimbulkan oleh terjemahan ini adalah bahwa pembaca tidak hanya menerima pandangan para penulis tentang makna Alquran, tapi juga menerima pandangan dan dukungan implisit teks itu oleh ulama klasik yang terhormat al-Thabari, al-Qurthubi, Ibn Katsir, dan Bukhari. Dalam buku itu, teks Arabnya dicetak di satu kolom, dan di kolom sebelahnya adalah terjemahan bahasa Inggris ayat demi ayat dari teks Arabnya. Di bagian bawah halaman, ada riwayat-riwayat hadis yang dimaksudkan untuk menjelaskan teori itu. Akan tetapi, kebebasan terhadap apa yang disebut interpretasi teks Arab itu mengerikan.

Teks inggrisnya mirip terjemahan saja. Tampilan seperti ini benar-benar dikuatkan oleh fakta bahwa teks Inggris regularnya penuh dengan sisipan di dalam kurung, dan sisipan-sisipan dalam kurung ini ditujukan sebagai elaborasi yang mengklarifikasi makna teks terjemahannya. Pembaca yang tidak mengerti bahasa Arab pasti mempunyai kesan bahwa apa yang ada di dalam kurung adalah elaborasi alamiah atas makna yang dimaksudkan oleh teks ilahi.

Kita akan mengkaji—untuk membuktikan penyelewengan teks itu—beberapa contoh. Para penulis menerjemahkan Surah al-Ahzab ayat 59, dengan cara berikut ini :

Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin supaya mengulurkan jubah (kerudung) mereka ke seluruh tubuh mereka (yakni, menutupi diri mereka secara menyeluruh kecuali kedua mata atau satu mata untuk melihat jalan). Yang demikian itu akan lebih baik, sehingga mereka pasti dikenali (sebagai perempuan merdeka yang terhormat) dan tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-Ahzab : 59)

Pada terjemahan itu, para penulis menegaskan bahwa perintah Tuhan adalah tentang kewajiban perempuan menyelubungi diri mereka dengan sebuah kerudung besar, dan menutupi segala sesuatu kecuali satu atau dua mata. Penulis dengan bebas menyamakan jubah dengan kerudung dan, menurut para penulis, Tuhan secara tegas memerintahkan jubah atau kerudung diulurkan ke seluruh tubuh manusia. Penegasan penulis tidak dapat dipertahankan dipandang dari sudut apa yang sebenarnya diutarakan teks Arabnya. Terjemahan harfiah yang konservatif ayat tersebut akan berbunyi :

“Hai Nabi katakan kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan istri-istri orang-orang mukmin supaya merendahkan (atau mungkin, mengulurkan) pakaian mereka. Ini adalah lebih baik supaya mereka dapat dikenali dan tidak dilecehkan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kalimat yang paling penting dalam teks Arabnya adalah “yudnina alaiyhinna min jalabibihinna”. Kalimat ini dapat bermakna “menurunkan pakaian mereka” atau “mendekatkan pakaian mereka ke tubuh mereka.” Jilbab adalah bentuk tunggal jalabib, adalah pakaian yang dikenakan di tubuh, dan bukan kerudung. Jilbab adalah sebuah pakaian, seperti rok atau jubah Arab, yang berjahit. Sebuah kain seperti chador atau abayah, yang sebagian perempuan melilitkannya pada tubuh mereka di zaman modern ini, tidak bisa disebut jilbab. Yudnina, secara harfiah, berarti mendekatkan atau menurunkan sesuatu, dalam hal ini adalah pakaian. Oleh karena itu, orang dapat menginterpretasikan ayat ini untuk mewajibkan ditutupinya kaki, atau lebih hati-hatinya ditutupinya batang tubuh atau, sekedar, bersopan santun, tetapi teks aslinya tidak sesuai dengan terjemahan bahasa Inggris penulis. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Buku “Musyawarah Buku karya Khaled Abou el-Fadl.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*