Oleh : Khaled Abou el-Fadl

abou el-fadhlMusyawarah ini diselenggarakan atas dasar keindahan Kitab Tuhan, dan peradaban kita adalah peradaban buku. Jalan kita menuju Tuhan dibimbing oleh Kitab, dan kita menemukan nilai kita hanya dalam buku-buku. Tuhan kita termanifestasikan melalui kitab, dan identitas kita didefenisikan oleh buku-buku. Jadi, bagaimana kita dapat menjadi penyeleweng Kitab dan pengkhianat buku-buku?

Tipe arogansi bagaimanakah yang membolehkan satu umat menamakan dirinya tentara Tuhan dan lalu merampas wewenangnya? Tipe arogansi bagaimanakah yang memberdayakan satu umat untuk memasukkan kegelisahan dan kebencian mereka ke dalam Kitab Tuhan, lalu mengkhayalkan dirinya sebagai para pelindung ilahiah? Di antara semua dosa dunia ini, apa yang lebih memuakkan daripada merampas Kalam Tuhan, lalu secara salah menggambarkan firman-Tuhan yang cermat?

Tuhan telah berjanji bagi mereka yang mengubah Kalam Tuhan ada permusuhan yang sebenarnya dan kehancuran yang pasti (Q.S. an-Nisa : 41, 45; al-Maidah :13; Yunus : 64; al-Kahfi : 27). Mereka yang berkata tentang Tuhan apa yang tidak mereka ketahui atau apa yang tidak mereka berwewenang untuk berbicara sangatlah dicela oleh Tuhan (Q.S. al-Baqarah : 80; al-A’raf : 28; Yunus : 68). Meskipun demikian, kita hidup di suatu zaman dan tempat di saat perkataan Tuhan dapat diubah dan diselewengkan, dan semua pusat-pusat keislaman yang mewah dan para pemimpin dan juru khutbah yang bombastis tidak terusik untuk memerhatikan. Kita hidup di zaman dan tempat ketika mereka yang disebut pelindung tempat-tempat suci, Mekah dan Madinah, telah menjadi para penyeleweng Kalam Tuhan.

Arogansi mereka telah meyakinkan mereka bahwa mereka berwenang untuk membersihkan teks-teks Islam dari isi-isinya, dan menjadi wali pikiran kaum muslim. Bahkan tafsir-tafsir Alquran telah dibersihkan, dan kaum muslim tetap, pada umumnya, lalai terhadap dosa yang sangat besar ini. Misalnya, tafsir yang dikenal sebagai Hasyiyat al-Shawi  tentang Tafsir Jalalain telah dibersihkan pada paragraf-paragraf yang menggambarkan kaum Wahabi sebagai agen Iblis. Meskipun orang percaya bahwa fakih Maliki Ahmad al-Shawi (w.1241 H/1825 M) telah melampaui batas yang wajar, hal ini tidak memberi lisensi kepada seseorang untuk melakukan penipuan dan pemalsuan dengan cara menyajikan kitab al-Shawi secara salah.

Tafsir Alquran Abu Hayyan al-Andalusi (w. 754 H/1353 M) yang dikenal sebagai al-Nahr al-Madd telah dibersihkan dari paragraf-paragraf yang merujuk ke pandangan Ibnu Taymiyah mengenai singgasana Tuhan. Pembersihan buku dilakukan tanpa ada indikasi atau referensi yang menjelaskan penghapusan itu—seolah-olah ada birokrat tertentu yang nyaris buta huruf, dengan duduk di atas bantal pemberian pangeran atau raja, yang sangat jauh dari memenuhi syarat untuk menesahkan atau membenarkan karya para fukaha yang sedemikian terhormat melakukan pembersihan. Namun, selain mengedit buku para fukaha, sekarang penyelewengan telah diperluas pada penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Inggris dan bahkan hadis para sahabat. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL