nikah beda agamaSalah satu maqashid syariah adalah menjaga keturunan(hifdz an-nasal) karena itu Islam mensyariatkan pernikahan untuk melanjutkan keturunan secara sah dan melarang perzinahan. Dan pernikahan di dalam Islam memiliki aturan-aturan yang baku, diantaranya mengenai siapa saja yang boleh dan tidak boleh dinikahi. Boleh tidaknya perkawinan, selain dilihat dari sisi hubungan darah (nasab), juga harus memperhatikan sisi keagamaan. Dan uraian ini secara khusus membahas tentang boleh tidaknya perkawinan dengan non muslim (ahlalkitab).

Rujukan utama dalam hal ini adalah Q.S. al-Maidah : 5 berikut,

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan (muhsanat) di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan (muhsanat) diantara orang-orang yang diberi al-kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (Q.S. al-Maidah : 5)

Satu hal yang perlu diperhatikan dari ayat di atas adalah terminologi al-muhsanat (wanita yang menjaga kehormatan). Secara bahasa, al-muhsanat, berarti baik, kokoh, kuat, suci dari perbuatan tercela. Jadi al-muhsanat adalah wanita baik-baik yang suci dari perbuatan tercela. Lalu siapa yang dimaksud al-muhsanat dalam ayat tersebut?

Dalam hal ini para ulama mengemukakan beberapa makna al-muhsanat.At-Thabari menjelaskan bahwa makna al-muhshanat dalam al-muhshanat min alladzina utu al-kitab, adalah mereka yang telah memeluk agama Islam. Sedang yang dimaksud dengan al-muhshanat min alladzina amanu adalah mereka yang sejak awal sudah mukmin karena terlahir dari keluarga muslim.

Menurut Al-Hasan, Asy-Sya’bi dan Ibrahim, makna al-muhshanat dalam ayat tersebut adalah perempuan yang memelihara harga dirinya. Sedangkan Mujahid mengatakan yang dimaksud al-muhshanat adalah perempuan yang merdeka. Dan menurut Al-Jama’ah, yang dimaksud al-muhshanat adalah wanita merdeka dan memelihara harga diri.

Adapun Ibn ‘Abbas berpendapat, bahwa yang dimaksud al-muhshanat adalah ahl al-kitab yang berstatus dzimmi (yang tinggal dan dilindungi di wilayah Islam), sedangkan ahlul kitab yang berstatus harbi (yang diperangi) tidak boleh dinikahi. Pendapat demikian didasarkan pada firman Allah dalam Q.S. Al-Mujadalah:22 yang menyatakan, tidak akan pernah ada seorang mukmin yang menjalin hubungan cinta kasih dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. Sementara hubungan perkawinan dapat melahirkan cinta dan kasih sayang diantara suami-istri, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Ar-Rum:21.

Berikutnya Al-Kalbi menyatakan, kata al-muhshanat mencakup empat pengertian, yaitu Islam, perempuan, memelihara diri, dan merdeka (bukan budak). Selanjutnya Al-Kalbi mengemukakan makna Islam tidak sesuai dipergunakan dalam ayat ini, karena adanya kalimat min alladzina utu al-kitab. Pengertian perempuan juga tidak sesuai, karena perkawinan itu tidak akan terjadi kecuali dengan lawan jenis. Sedang al-‘iffah (memelihara harga diri) dan merdeka (bukan budak) dapat dicakup oleh ayat ini. Sehingga kalau al-muhshanat dipahami sebagai al-‘iffah, maka boleh menikah dengan ahlul kitab, baik yang merdeka maupun budak. Tetapi jika al-muhshanat dipahami sebagai al-hurriyah, maka dilarang menikahi budak dari ahlul kitab.(Galib, 1998: 166-167)

Secara umum, yang dimaksud dengan “wanita-wanita yang menjaga kehormatan” (al-muhshanat) ialah wanita-wanita yang suci dan dapat menjaga kehormatan dirinya (al-‘afifat). (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL