islam-damai

Setelah pemaknaan ulang kata Islam berhasil menemukan maknanya yang inklusif, yakni Islam dalam arti sebagai penebar kedamaian, kini masuk pada nilai-nilai  Islam yang memuat nilai-nilai moral dan kedamaian dalam Aquran. Untuk menemukan nilai-nilai tersebut, penting kiranya merujuk model analisis para ahli ilmu Alquran klasik tentang klassifikasi Alquran yang turun di Mekah dan madinah.

Dilihat dari segi turunnya, para ulama klasik membagi ayat-ayat Alquran menjadi dua kategori : Makiyah dan Madaniyah. Kategorisasi ini tidak sekadar dilihat dari sisi waktu dan tempatnya, melainkan substansi pesan yang dibawa keduanya. Ayat-ayat makiyah pada umumnya berbicara tentang nilai-nilai moral, menempatkan manusia dalam posisi setara dengan memanggil “wahai manusia”. Kata “panggilan” seperti  ini menandakan komitmen sikap “kemanusiaan” Alquran tanpa mengacu pada embel-embel apa pun yang bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan). Konsep kemanusiaan ini sejalan dengan misi Nabi Muhammad saw yang diutus untuk mengajarkan akhlak yang mulia. Selama di Mekah, Alquran mengajarkan metode yang baik dalam berdakwah, seperti ayat yang berbunyi, “Ajaklah ke jalan Tuhan kalian dengan bijaksana, nasihat yang baik dan berdialog dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan kalian lebihmengetahui orang-orang yang sesar dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. an-Nahl : 125)

Sedang ayat-ayat madaniyah melihat manusia dalam posisi yang berbeda-beda, misalnya memanggil mereka dengan kategori “wahai orang-orang mukmin”, “wahai orang-orang Islam”, “wahai orang-orang munafik, “wahai orang-orang kafir”. Kata-kata “panggilan” ini juga relevan dengan fakta bahwa di Madinah, Nabi Muhammad saw telah bercampur baur dengan persoalan teknis praktis, sehingga wacana-wacana yang ditunjukkan dalam bahasa Alquran bercorak “dikotomis dan diskriminatif”. Di Madinah masyarakat manusia dibedakan secara tegas sehingga siapa kawan dan siapa lawan kian tampak, demikian pula metode menyikapi lawan. Metode “resiprositas” (membalas sesuatu dengan sesuatu yang sama) menjadi metode yang tepat di Madinah. Jika umat Islam diserang, maka umat Islam diizinkan membalas serangan. Perang dalam Islam memang dianjurkan semasa Muhammad berada di Madinah.

Berbeda dengan Madinah, di Mekah tidak ada anjuran peperangan dan bahkan Alquran mengajarkan agar dalam mengajarkan kebaikan umat Islam senantiasa  menggunakan cara-cara yang baik dan damai, agar orang yang diajak mengikutinya tidak lari menjauh karena takut dengan hukum dan kekerasan yang ditunjukkannya. Semasa berada di Mekah, yang diajarkan Muhammad adalah nilai-nilai universal kemanusiaan dan keadilan sosial-ekonomi. Nilai-nilai universal ini tidak terlembagakan dalam sebuah aturan normatif dan legal, sebagaimana era Madinah, melainkan sebatas himbauan moral yang bersifat abstrak, yang sejatinya dijalankan setiap individu tanpa ada tekanan dan paksaan, baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar dirinya.

Sejatinya, pengertian Islam yang terdapat dalam ayat-ayat Alquran yang turun di Mekah inilah,–yang mengajarkan sifat dan sikap kemanusiaan, keadilan, persamaan derajat, toleran dan saling tolong menolong—,  yang harus ditawarkan kepada umat manusia sekarang ini, lantaran umat manusia, khususnya umat muslim telah memasuki masa kedewasaan diri, yaitu masa k-Islaman sejati, yang memang ditunggu kehdairannya untuk menerima ayat-ayat yang tertunda pelaksanaannya, lantaran waktu itu, masyarakat menurut Mahmud Thaha, belum siap menerimanya.

Prinsip-prinisp itu semua, meminjam konsepsi Imam Syatibi, mengacu pada apa yang disebut dengan Ushul al-Khamsah (lima konsep dasar) yakni agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta. Lima konsep  dasar kemanusiaan ini, tidak terpengaruh oleh identitas eksternal yang dimiliki seseorang, baik dari segi agama, etnis, gender maupun status sosial masyarakat yang lain. Lima konsep dasar ini, sejalan dengan konsep kesatuan kemanusiaan yang ditawarkan Alquran, “Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu sekalian adalah yang paling bertakwa.” (Q.S. al-Hujurat : 13)

Dalam konsepsi as-Syatibi, lia unusr dasar kemanusiaan ini, dipelihara dari tindakan semena-mena, melalui pemeliharaan dari segi positif dan dari segi negatif. Dari segi positif, disertai dengan aturan-aturan yang harus dilakukan demia tegaknya kemanusiaan manusia, seperti, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, membantu orang miskin, menegakkan keadilan dan sebagainya. Sedang dari sisi negatif, adalah memberikan hukuman bagi para pelanggarnya, misalnya, pencuri dihukum potong tangan, pezina dihukum rajam, dan begitu seterusnya. Dua langkah ini sebagai langkah konkret dari tiga status hak asasi yang berkaitan dengan eksistensi kemanusiaan, dharuri, hajiy, dan tahsiniy.

Dharuri (primer) adalah pusat eksistensi, di mana jika unsur pertama ini rusak , maka rusaklah semua status yang berada di bawahnya. Karena itu, yang dharuri, sejatinya diutamakan daripada yang lainnya. Unsur kedua dan ketiga berada dalam posisi sekunder, karena pada hakikatnya, dua yang terakhir ini, sebagai teknis operasional dari unsur yang pertama. Seperti, demi terlaksananya pelaksanaan keadilan sosial ekonomi, sebagai unsur hak asasi yang dharuri, maka Muhammad memberlakukan zakat bagi masyarakat Arab, sebagai unsur hajiy, dan agar pelaksanaan zakat itu mudah ditunaikan masyarakat, maka zakat dikemas dengan bahasa halus yang dapat menyentuh rasa kalbu masyarakat yaitu dalam kemasan agama, bahwa salah satu unsur agama adalah membayar zakat, ini sebagai unsur tahsiniy, karena agama acap kali dapat mengubah hati nurani manusia, baik dalam mengerjakan maupun dalam meninggalkan sesuatu. (hd/liputanislam.com)

*Disadur dari buku Dr. Aksin Wijaya, Arah Baru Studi Ulum Al-Quran : Memburu Peesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya, Pustaka Pelajar : Jakarta, 2009.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL