orang-tuaKeempat, perintah untuk mendoakan kedua orangtua. Allah swt. berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.  (QS. Al Isra’; 24) Yakni rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua (kedua orang tua), baik di saat keduanya masuk pada usia senja maupun setelah keduanya wafat.

Apabila, kedua orangtua termasuk dari golongan orang-orang kafir ataupun musyrik, perintah Allah swt. untuk tetap mempergauli, menjalin hubungan dan berbuat baik kepada keduanya hanya sebatas di dunia ini atau sebatas keduanya masih hidup. Tidak ada hak bagi setiap orang yang beriman untuk mendoakan keselamatan bagi kedua orangtuanya di akhirat, yang meninggalnya dalam keadaan tidak berserah diri kepada Allah, tidak mengimani-Nya ataupun mempersekutukan-Nya dengan yang lain.

Ibnu Abbas berkata : “Kemudian Allah swt. menurunkan ayat:  “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.
Namun, jika kedua orangtua termasuk orang-orang yang beriman, maka berbuat baik kepada keduanya tidak hanya berlaku di dunia saja, namun sampai keduanya telah meninggal dunia, perintah untuk tetap berbuat baik kepada keduanya masih terus berlaku, dan menjadi kewajiban bagi siapapun untuk tetap melaksanakannya.

Di antara bentuk berbuat baik kepada orangtua setelah meninggalnya adalah memohonkan ampun bagi keduanya. Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, mendoakan kedua orangtua adalah juga perintah dari Allah swt. dan termasuk di antara tradisi para Nabi Alaihi Salam. Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim as., “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat ).” 

Kelima, perintah untuk berwasiat kepada kedua orangtua. Allah swt. berfirman: “Diwajibkan atas kamu, apabila (tanda-tanda) kematian telah menghampiri salah seorang di antara kamu dan ia meninggalkan harta, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.”  (QS. Al Baqarah: 180)

Menurut orang yang berpendapat bahwa hukum wasiat itu pada mulanya adalah wajib, seperti yang ditunjukkan oleh makna lahiriyah konteks ayat, maka sudah dapat ditentukan bahwa ia dimansukh oleh ayat mirats (ayat waris). Seperti yang dikatakan kebanyakan mufassirin dan para ahli fiqh terkemuka. Mereka mengatakan, sesungguhnya hukum wajib berwasiat buat kedua orang tua dan kaum kerabat yang mewaris dimansukh oleh ayat mirats menurut ijma’, dan bahkan dilarang karena dalil hadis Nabi saw.:

إن الله قد اعطى كل ذى حق حقه, فلا وصية لوارث

“Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada setiap orang yang berhak (mewaris) bagiannya masing-masing. Maka tidak ada wasiat (lagi) bagi orang yang mewaris.

Ayat mengenai pembagian waris merupakan hukum tersendiri dan kewajiban dari sisi Allah untuk orang-orang yang memiliki bagian tertentu dan ashabah. Ayat ini menghapuskan hukum yang mewajibkan wasiat secara keseluruhan.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Sebaik-baik wasiat, yang merupakan perkara yang hak atas setiap orang muslim, ialah hendaknya ia berwasiat dengan cara yang makruf (bukan mungkar) apabila kedatangan tanda-tanda maut.” Yang dimaksud dengan cara yang makruf ialah hendaknya dia berwasiat yang tidak menghabiskan bagian ahli warisnya, yakni tidak berlebih-lebihan dan tidak pula terlalu pelit.

Keenam, perintah untuk berinfaq kepada keduanya. Allah Swt. berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”

Dengan kata lain, belanjakanlah harta tersebut untuk golongan-golongan itu. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis, yaitu:

أمك وأباك وأختك وأخاك ثم أدناك أدناك

Ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, kemudian orang yang lebih bawah (nasabnya) darimu dan yang lebih bawah lagi darimu.”

Maimun Ibnu Mahram pernah membacakan ayat ini, lalu berkata, “inilah jalur-jalur nafkah, tetapi di dalamnya tidak disebutkan gendang, seruling, boneka kayu, tidak pula kain hiasan dinding.”

Kemudian Allah swt. berfirman: “Dan setiap kebajikan yang kamu lakukan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”

Yakni kebajikan apapun yang telah kamu lakukan, sesungguhnya Allah mengetahuinya. Dan kelak Dia akan memberikan balasannya kepada kamu dengan balasan yang berlimpah, karena sesungguhnya Dia tidak akan berbuat aniaya terhadap seseorang barang sedikit pun.

Sumber Disadur dari tuisan Muhaditsir Rifa’i dalam http://www.rahima.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1253:2014-11-04-04-16-33&catid=49:suplemen&Itemid=319

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL