org tuaaBirr al-wâlidaîn terdiri dari dua kata, birru dan al-wâlidaîn. Birru atau al-birru berarti kebajikan dan al-Wâlidaîn artinya kedua orang tua atau ibu bapak. Birr al-wâlidaîn berarti berbuat baik kepada kedua orang tua.  Al-Qur’ân dalam memaknai birr al-wâlidaîn juga sering dikaitkan dengan lafadz iĥsân atau ĥusn, yang artinya berbuat kebaikan.  Jadi berbakti kepada kedua orang tua adalah dengan taat dan berbuat baik kepada keduanya.

Perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua dalam Alquran  kurang lebih berulang sebanyak 13 kali dan terdapat di dalam 10 surat yang berbeda. Yaitu Al-Ankabût: ayat 8,  Al-Baqarah: ayat 83, 180 dan 215, An-Nisâ’: ayat 36, Al-An’âm: ayat 151,  Al-Isrâ’: ayat 23 dan 24, Al-Ahkâf: ayat 15, Luqmân: ayat 14, Ibrâhîm: ayat 41, An-Naml: ayat 10 dan, Nûh: ayat 28.

Jika melihat dari ayat-ayat tersebut, setidaknya kita bisa mengklasifikasikan ada 6 macam bentuk perintah Allah swt. untuk berbuat baik kepada kedua orangtua.

Pertama, dalam bentuk wasiat. Di dalam surat Al-Ankabut ayat 8 Allah swt. berfirman: “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman : 14)

Thabathabai’ memaknai ayat tersebut di atas, dengan “wasiat yang mengikat”, dalam hal ini janji melaksanakan perintah terhadap kedua orang tua untuk memperlakukannya secara baik atau berbuat sesuatu yang mengandung segala bentuk kebaikan kepada kedua orang tua.  Sebagaimana firman Allah: “serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”, yakni perkataan yang baik atau perkataan yang memiliki (mengandung) kebaikan.

Adapun firman-Nya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku  dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”, maka di dalamnya mengandung wasiat berupa perintah kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, selagi keduanya tidak memaksa atau tidak memerintahkan sesuatu yang melanggar ketentuan Allah, juga mengandung wasiat dalam bentuk perintah untuk menolak ajakan atau seruan kedua orang tua yang mengajak kepada kemusyrikan.

Dengan demikian dapat dipahami, bahwa perintah mentaati kedua orang tua yang tidak melanggar ketentuan dari Allah adalah wajib, sebaliknya menolak perintah kedua orang tua yang melanggar ketentuan dari Allah juga wajib, sebagaimana dinyatakan dalam kaidah ushul: “Asal dalam perintah menunjukkan wajib.”

Kedua, dalam bentuk perintah untuk berbuat baik dengan sebaik-baiknya, seperti yang terdapat di dalam suratAl-Isrâ’ ayat 23 dan 24. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al Isra’ ; 23-24)

Ayat di atas menjelaskan tentang perintah ikhlas dan tulus dalam menyembah Allah swt. merupakan hal yang paling fundamental sebagaimana larangan maksiat dan mempersekutukan-Nya merupakan dosa yang teramat besar, sebagaimana firman-Nya:  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Setelah Allah swt. menjelaskan ketauhidan, selanjutnya dalam ayat tersebut dijelaskan tentang hukum berbuat baik kepada kedua orang tua dan mengesampingkan hukum-hukum lainnya. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya masalah berbuat baik kepada kedua orang tua. (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL