عَبَسَ وَ تَوَلَّى

أَنْ جاءَهُ الْأَعْمى

“Dia bermuka masam dan dia berpaling. Saat datang kepadanya seorang buta” (Q.S. ‘Abasa : 1-2)

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِذا قيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ 

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kamu, lapangkanlah tempat dalam majelis, maka lapangkanlah, nanti Allah akan memberikan kelapangan kepada kamu. (Q.S. al-Mujadalah : 11)

Difabel

Thaha Husain

Suatu waktu, pemuka kaum Quraysi mengadakan majelis khusus untuk mereka berdiskusi dengan Nabi saaw. Mereka tidak mau majelisnya dihadiri oleh orang-orang miskin dan cacat yang selalu mengikuti Nabi saaw untuk mendengarkan pelajaran dari ayat-ayat Alquran. Karena itu, pemuka kafir Quraysi tersebut dengan difasilitasi sahabat Nabi saaw menyusun rencana mengadakan majelis khusus dengan Nabi saaw, dengan melarang kehadiran sahabat-sahabat Nabi yang miskin dan cacat. Saat rencana itu direalisasikan, tiba-tiba salah satu sahabat yang miskin dan buta bernama Abdullah bin Umi Maktum, nyelonong masuk dan bergabung ke majelis Rasul saaw. Sebagaimana aktivitas keseharian Ibnu Ummi Maktum yang selalu ingin mendapatkan pengajaran dari Nabi saaw dan mendengarkan ayat-ayat Alquran, maka dia pun selalu ingin hadir di setiap majelis Rasulullah saaw. Begitu pula hari itu. Tanpa perduli dengan pemuka Quraysi, ia pun datang ke majelis Rasul tersebut. Namun, ada yang merasa risih atas kehadiran Ibnu Ummi Maktum, karena memang mereka membuat majelis khusus tersebut agar tidak bercampur dengan orang-orang seperti Ibnu Ummi Maktum. Ketidaksenangan itu ditunjukkan dengan wajah masam.

Saat itu turunlah surat Abasa, “Dia bermuka masam dan dia berpaling, saat datang kepadanya seorang buta. Tahukah engkau barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraysi), maka engkau memberi perhatian kepadanya. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia akan memperhatikannya.” (Q.S. Abasa : 1-12).

Di lain waktu, Tsabit bin Qais, seorang sahabat Nabi saaw yang tuna rungu, yang pendengarannya kurang, sehingga selalu duduk di barisan depan jika menghadiri majelis Rasul saaw agar ia bisa dengan jelas mendengar suara Rasul saaw. Pada suatu hari, Nabi saaw megadakan majelis bersama sahabatnya di beranda Masjid Nabawi. Orang-orang duduk berkumpul di sekitar Nabi. Tsabit bin Qais datang terlambat. Seperti biasanya, ia ingin duduk di barisan depan. Ia pun berusaha dan meminta sahabat lainnya, untuk memberinya jalan dan tempat agar bisa duduk di bagian depan sehingga bisa mendengar suara Nabi saaw yang sangat dicintainya. Sebagian sahabat dengan legowo memberi jalan dan tempat kepadanya. Tapi, kaum munafik yang juga hadir di majelis itu berusaha menghalangi dan menyempitkan tempat duduk sehingga Tsabit tidak bisa lewat.

Tsabit berungkali mengingatkan dan meminta izin untuk lewat, sehingga terjadi sedikit keributan. Melihat hal itu, Nabi saaw memerintahkan agar Tsabit di beri jalan dan diberi tempat di bagian depan, “Berdirilah wahai Fulan, Berdirilah wahai fulan”! seru Nabi saaw.

Namun, kaum munafik tersebut menunjukkan ketidaksukaannya. Wajah-wajah mereka menjadi masam. Mereka mengkritik Nabi saaw dengan menyampaikan pada sahabat lainnya bahwa Nabi saaw berlaku tidak adil, “Kalian menganggap sahabat kalian itu (yakni Rasulullah) sangat adil? Demi Allah, sungguh ia berbuat titdak adil.” Waktu turunlah ayat al-Mujadilah : 11 yang mengingatkan mereka (lihat Tafsir Majma’ al-Bayan jilid 5: 252) :

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِذا قيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَ إِذا قيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ الَّذينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ وَ اللهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kamu, lapangkanlah tempat dalam majelis, maka lapangkanlah, nanti Allah akan memberikan kelapangan kepada kamu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, hendaklah kamu berdiri. Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui akan apa-apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.al-Mujadalah : 11) 

mahmoudayoub

Mahmoud Ayoub

Dua surat dalam Alquran di atas membicarakan dua kasus mengenai kaum difabel, tuna rungu dan tuna netra. Kedua ayat di atas turun untuk mengecam orang-orang yang tidak memberikan tempat yang setara bagi mereka untuk belajar dan menghadiri majelis ilmu Rasulullah saaw.  Mereka mengira, orang-orang miskin dan cacat ini tidak layak mengikuti pelajaran dan bergabung dengan mereka yang terhormat dan tubuh sehat sehingga mereka mengabaikannya. Padahal, seperti dikatakan Alquran di atas, boleh jadi kaum difabel ini lebih tekun belajar dan lebih bersegera untuk mendapatkan pengajaran, “Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau malah mengabaikannya.” (Q.S. Abasa : 8-10)

Kini, 14 abad kemudian, sikap kaum pembesar Quraysi dan kaum munafik kembali mewarnai dunia pendidikan kita. Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, sepakat melarang kaum difabel untuk menikmati pembelajaran di kampus-kampus mereka. Mereka menganggap, kaum ini tidak memiliki kelayakan untuk bergabung di kampus mereka untuk mengembangkan diri dan menimba pengetahuan. Saat Allah swt di atas memerintahkan kita “berlapang-lapanglah dalam majelis” yakni  berilah Tsabit bin Qais yang tuna rungu tempat yang setara untuk mendapatkan pelajaran bersama Nabi saaw, tapi kini pemimpin dan cerdik cendekia kita “mempesempit majelis tersebut”. Tak urung, Menteri Pendidikan kita yang terhormat, saat dipertanyakan tentang diskriminasi tersebut, dengan santai dan tanpa empati menjawab, “itu bukan diskriminasi, tetapi realistis”. Apa maksudnya? Apakah ini berarti bahwa memang sudah semestinya mereka tidak boleh kuliah di Perguruan Tinggi Negeri tersebut? Atau mereka takut, kampusnya menjadi tercemar karena kahadiran kaum difabel tersebut? Atau bagi pak Menteri, kaum difabel tidak mungkin bisa mengikuti pelajaran yang ada di kampus-kampus para elite tersebut?

Lupakah Bapak Menteri yang terhormat betapa banyaknya sejarah

Daifabel

Stephen Hawking

mengungkap kaum difabel yang memiliki karya-karya besar. Bethoven, misalnya, musisi dunia ini telah menghasilkan karya-karya luar biasa warisan dunia, tapi tahukah kita bahwa Bethoven adalah musisi yang mengalami kehilangan pendengarannya, sehingga dia harus membuat tongkat khusus pada papan pianonya yang digunakannya dengan cara digigit dan mengirimkan getaran setiap kali dihentakkan ke papan piano. Melalui getaran itulah Bethoven menganalisis nada-nada dalam karyanya. Di dunia Ilmuwan fisika, masih bisa kita saksikan hari ini, seorang yang kecerdasannya sulit dicari tandingannya di jagad raya ini, tetapi dia termasuk kaum difabel. Itulah Stephen Hawking si penemu “the expanding universe” yang nyarais seluruh fisiknya mengalami cacat, sehingga harus berkursi roda, diberi alat bantu suara, dan lainnya.

Dalam dunia Islam, kita mengenal Thaha Husain dari Mesir dan Mahmoud Ayoub dari Libanon yang keduanya buta, tapi pemikirannya menjadi rujukan di dunia. Bahkan Thaha Husain sempat menjadi Menteri Pendidikan Mesir.  Di Indonesia sendiri kita mengenal Almarhum Gusdur yang juga sempat mengalamai problem penglihatan, tetapi menjadi Presiden Republik Indonesia. Apakah pak Menteri lupa akan sejarah bangsanya sendiri? (cr/liputanislam.com) 

Difabel

Gus Dur

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*