keadilan

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامينَ بِالْقِسْطِ شُهَداءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوالِدَيْنِ وَ الْأَقْرَبينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu…” (Q.S. an-Nisa : 135)

Menurut asalnya, kata adil berasal dari bahasa Arab al-adl yang berarti seimbang. Adapun menurut istilah, secara umum, keadilan didefenisikan dengan “meletakkan sesuatu pada tempatnya”, atau “memberikan hak kepada yang berhak”, i’tha kulli dzi haqqin haqqahu.

Keadilan bukanlah kesamaan, karena hal itu berlaku hanya pada orang-orang yang juga sama dalam kewajibannya. Sedangkan jika kondisinya tidak sama, maka kesamaan adalah ketidakadilan dan merusak kehidupan. Misalnya, jika semua adalah petani, maka tidak ada pula petani itu sendiri, sebab petani memerlukan cangkul, pupuk, racun, dan lainnya. Jika semua orang kaya, maka kekayaan itu sendiri tidak akan ada harganya, jika malam terus-menerus tanpa siang, maka malam tidaklah ada. Jadi berpasangan dan perbedaan merupakan hal penting di alam ciptaan.

Jadi, dalam keadilan, kata kuncinya adalah hak yaitu sesuatu yang didapat setelah adanya kegiatan (kewajiban), atau kepemilikan seseorang terhadap sesuatu. Begitu pula, keadilan bertentangan dengan kezaliman. Pelaksanaan hak adalah sebuah keadilan, dan pelanggaran hak adalah kezaliman. Karena itulah, keadilan bisa diartikan sebagai perbuatan yang tidak mengakibatkan kezaliman, tidak melanggar hak, tetapi perbuatan yang sesuai dengan kebaikan, kesempurnaan dan kemaslahatan manusia. Keadilan juga merupakan induk dari segala jenis kebaikan dan akhlak mulia (akhlak al-karimah) serta jalan menuju kedamaian. Orang yang adil adalah orang yang tidak melanggar hak-hak orang lain, tidak berlaku zalim, dan tidak menodai kehormatan yang akan mendatangkan kebencian dan permusuhan. Karenanya Islam memerintahkan seluruh manusia untuk berlaku adil, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan…” (Q.S. an-Nahl : 90).

Masalah keadilan termasuk masalah penting yang menjadikan manusia tercerahkan dan penuh optimis dalam menghadapi hidup. Karena itu pemahaman yang benar dan proporsional atas keadilan ini merupakan agenda besar untuk menyingkap misteri tujuan dan hikmah penciptaan. Begitu pula, keadilan merupakan hal penting agar agama diamalkan oleh manusia. Sebab, keadilan menegaskan bahwa kebaikan dan keburukan menjadi ukuran perbuatan manusia. Secara fitriah manusia juga senantiasa mengejar keadilan dan menolak kezaliman. Secara sosial, keadilan berhubungan erat dengan teraturnya hubungan sosial kemasyarakatan. Bayangkan jika keadilan tidak ditegakkan dan kezaliman meraja lela? Karenanya, Alquran sangat memperhatikan tentang keadilan ini, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu…” (Q.S. an-Nisa : 135)

Bahkan, keadilan dalam Islam, berhubungan erat dengan tauhid, misi kenabian dan hari akhir. Tuhan bersifat adil, karenanya menurunkan agama dan hukum yang adil yang menjadi tugas para Nabi, dan akan membalas manusia sesuai dengan hukum yang adil. Siapa melakukan keburukan akan di balas dengan azab, dan siapa mengamalkan kebaikan maka akan memperoleh ganjaran kebahagiaan. Allah berfirman : “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya.  Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).” ( Q.S. an-Najm/53 : 38-42)

Adapun bentuk keadilan yang utama dapat diklassifikasikan berikut :

  1. Keadilan Manusia terhadap Tuhan. Inilah bentuk keadilan yang paling cemerlang, konsep yang paling tinggi dan simbol kredibilitas keadilan. Seseorang dikatakan berlaku adil pada Tuhan, hanya dengan memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menuntut kita mengakui berbagai kelemahan-kelemahan kita di hadapan-Nya.
  2. Keadilan Para Penguasa. Karena penguasa adalah pemimpin yang memelihara hak-dan kewajiban masyarakat. Dengan keadilan para penguasa, masyarakat akan tentram, damai, sejahtera, dan bahagia. Jika sebaliknya, maka kejahatan akan merajalela, penindasan di mana-mana, dan orang-orang miskin akan terlantar tanpa ada yang membantunya.
  3. Keadilan Sesama Manusia. Bentuk keadilan ini dapat dicapai dengan memenuhi hak-hak individual, bergaul dengan akhlak mulia, dan simpati kepada fakir miskin. Namun, Keadilan ini bukan hanya untuk yang hidup, tetapi juga untuk yang telah wafat.Yaitudengan bersimpati kepada keluarganya, menjalankan wasiatnya, membayar hutangnya, dan berdoa agar Allah mengampuni dosa-dosanya. Orang yang meninggal akan merasa bahagia jika ada orang memohonkan rahmat dan ampunan baginya, atau bersedekah atas namanya.

Ali bin Abi Thalib ra mewasiatkan komitmen keadilan dalam kehidupan, “Wahai puteraku! Buatlah dirimu sebagai neraca dalam pergaulanmu dengan orang-orang lain. Engkau sebaiknya menginginkan untuk orang-orang lain apa yang engkau inginkan untuk dirimu. Jangan menzalimi orang lain sebagaimana engkau tidak suka dizalimi. Berbuat baiklah kepada orang-orang lain sebagaimana engkau senang diperlakukan dengan baik. Perhatikanlah agar keburukan yang menimpa dirimu jangan sampai dirasakan oleh orang lain. Terimalah perlakuan baik orang-orang lain sebagaimana engkau ingin agar orang-orang  lain menerima perlakuan baikmu. Janganlah mengatakan sesuatu yang tidak engkau ketahui walaupun apa yang engkau ketahui sangat sedikit. Janganlah mengatakan (sesuatu) kepada orang-orang lain apa yang engkau tidak suka orang-orang lain mengatakan (sesuatu yang sama) kepadamu.”

keadilan6

Itu wasiat Sayidina Ali ra kepada anaknya. Sekarang mari kita lihat komitmen Rasulullah saw dalam penegakan keadilan. Pada masa Rasulullah saaw, seorang wanita bangsawan dari Bani Makhzum melakukan pencurian. Rasul pun mengambil keputusan untuk menghukumnya. Keluarga si wanita yang merupakan bangsawan Quraysi, merasa hukuman itu akan merusak citra mereka. Karenanya mereka berusaha membatalkannya. Mereka meminta Usamah bin Zaid ra membicarakannya kepada Nabi saw. Usamah pun menyampaikan maksudnya. Nabi saw menjadi murka dan bersabda, “Apakah engkau ingin menjadi pembela agar tidak terlaksananya hukum Allah? Ketahuilah, penyebab kesengsaraan dan kebinasaan umat-umat terdahulu adalah ketika orang-orang kaya dan terpandang melakukan kesalahan, maka hukum Allah tidak diberlakukan kepada mereka. Tapi, jika yang berbuat salah itu orang miskin dan tidak terpandang, dengan cepat mereka menghukumnya. Demi Allah, seandainya anakku Fatimah mencuri, niscaya akan kupotong tangannya.”

Kisah ini menunjukkan kepada kita bagaimana komitmen Nabi saw, dalam menegakkan keadilan sesuai dengan perintah Allah swt, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu…” (Q.S. an-Nisa : 135). Sekarang perhatikan para bangsawan Negara kita, apa yang mereka lakukan saat masalah melanda kerabat mereka, apakah mereka komitmen pada keadilan? Anda pasti tahu jawabanya. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL