بِِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُوْنَ

 وَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَ مَا أُنْزِلَ مِن قَبْلِكَ وَ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Alif, laam, mim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

(Q.S. al-Baqarah : 1-5)

 iman

Surat al-Baqarah diawali dengan potongan-potongan huruf, Alif, lam, mim. Potongan-potongan ini disebut dengan huruf muqatha’ah. Tidak hanya dalam surat al-Baqarah, huruf muqatha’at terdapat pada 29 surat di dalam al-Quran, yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, al-A’raf, Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, al-Hijr, Maryam, Thaha, as-Syu’ara, an-Naml, al-Qashas, al-Ankabut, ar-Rum, ar-Ra’d, Lukman, as-Sajadah, Shad, Qaf, Nun, Ya Sin, Ghafir, Fushilat, as-Syura, az-Zukhruf, ad-Dukhan, al-Jatsiyah, al-Ahqaf. Potongan-potongan ayat ini berjumlah empat belas huruf, yaitu alif, kha, ra, sin, shad, tha, ain, qaf, kaf, lam, mim, nun, ha, ya, dan tersusun sebagai permulaan surat-surat al-Quran yang penuh misteri dan mengandung makna keutamaan al-Quran, perhatian kepadanya, dan keagungan Pembuatnya. Lihatlah wahai manusia, ini adalah huruf-huruf arab yang kamu kenal dan sehari-hari kamu gunakan, tetapi renungkanlah rangkaian ayat-ayat al-Quran ini, yang disusun dari bahasa Arab, tatpi mengandung susunan dan makna yang khas dan tinggi nilainya, sehingga dapat menjadi pedoman hidup manusia. Apakah kamu mampu membuatnya?

Kita tidak akan mampu membuatnya, sebab al-Quran diturunkan dari sisi Allah swt. Namun, kita mampu untuk mengambil manfaat, penjelasan, petunjuk darinya. Allah adalah Wujud Yang Maha Benar, karenanya apa yang diturunkan-Nya ini, yaitu al-Quran pasti juga mengandung kebenaran. Kebenaran adalah kata yang tegas dan tidak mengandung keraguan. Karenanya, tidak ada keraguan di dalam al-Quran, dan tidak pula boleh muncul keraguan dari dalam diri orang yang beriman. “Kitab (Al-Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Q.S. al-Baqarah : 2). Jadi, al-Quran adalah kitab yang mengandung kebenaran sejati yang tidak tercemari oleh karaguan, karenanya ambillah petunjuk darinya, wahai orang-orang yang bertakwa. Siapa itu orang yang bertakwa? Jawabnya, orang yang memiliki keimanan sejati. Siapa orang yang memiliki keimanan sejati? Dapat kita pahami dari kisah berikut ini.

 Menjelang waktu salat subuh, Rasulullah saaw hendak berwudhu, tetapi tidak mendapatkan air. Beliau meminta kantong kulit dari para sahabatnya. Kemudian, Nabi saaw mengulurkan tangannya dan membuka jari-jarinya. Saat itu, air jernih memancar dari sela-sela jari Rasulullah saaw. Kemudian, Nabi saaw bersabda kepada Bilal, “Hai Bilal, seru mereka untuk berwudhu.” Maka para sahabat pun berdatangan untuk berwudhu dari air yang memancar di sela-sela jari Nabi saaw.

Setelah semua bewudhu, maka Nabi saaw memimpin salat subuh. Selesai salat, beliau menghadap para sahabatnya dan bertanya, “Wahai manusia, siapakah makhluk Allah yang paling menakjubkan imannya?” Para sahabat menjawab, “Malaikat!”

“Bagaimana malaikat tidak beriman padahal meeka pelaksana perintah Allah.” Kata Nabi saaw.

“Kalau begitu, para Nabi, ya Rasul Allah.” Kata para sahabat.

Nabi saaw menjawab, “Bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal wahyu dari langit turun kepada mereka.” Jika begitu, sahabat-sahabatmu, ya Rasul Allah.” Kata sahabat lagi.

“Kalian sahabatku, bagaimana tidak beriman, sementara kalian menyaksikan apa yang mereka (para Nabi) saksikan.” Kemudian Nabi melanjutkan, “Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudah kamu. Mereka beriman kepadaku, tetapi tidak melihatku. Mereka membenarkan aku, tanpa pernah melihatku. Mereka menemukan al-Quran dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa yang ada dalam al-Quran itu. Mereka membela aku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan mereka, saudaraku itu (ikhwani). Selanjutnya Nabi saaw membaca, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. al-Baqarah : 3)

Rasulullah saaw menegaskan bahwa keimanan sejati bukan hanya milik malaikat, milik para Nabi, atau milik sahabat-sahabat Nabi, tetapi juga milik orang-orang yang lahir jauh dari masa dan tempat kenabian. Keimanan sejati, juga milik orang-orang yang tidak pernah melihat wajah Nabi, orang-orang yang tidak melihat akhlak Nabi, orang-orang yang tidak melihat turunnya wahyu, yang tidak pernah menyaksikan mukjizat, tidak pernah belajar dari Nabi secara langsung. Meskipun begitu, orang seperti ini tetap beriman kepada Nabi, mengamalkan ajaran-ajarannya, membela nabi dan ajarannya dari penyelewengan dengan akal, harta dan jiwanya. Orang seperti ini disebut oleh Nabi saaw sebagai saudara-saudaranya (ikhwani). Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bersaudara dengan Nabi saaw, karena kita tidak pernah berjumpa dengannya, tetapi kita beriman kepadanya, “Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.”

Q.S. al-Baqarah : 1-5 yang sedang kita bahas ini, ingin menegaskan kelompok manusia yang paling mulia, yaitu kelompok orang-orang bertakwa (muttaqin), “Sesugguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang-orang yang bertakwa” (Q.S. al-Hujurat : 13). Orang bertakwa adalah orang yang memiliki keimanan sejati dengan karakteristik berikut ini.

Pertama, keimanan sejati hanya diperoleh dengan beriman kepada kegaiban. Gaib berarti tidak terindera baik oleh penglihatan, pendengaran, ataupun penciumaan. Gaib hanya mampu dipahami melalui akal pikiran yang sehat dan perenungan yang dalam. Karenanya, orang yang ingin memiliki keimanan sejati, harus melalui perenungan yang dalam terhadap seluruh unsur keyakinan dalam ajaran-ajaran Islam.

Kedua,  keimanan sejati tidak hanya sampai pada keyakinan saja, tetapi juga pancaran keyakinan yang dibuktikan melalui hubungannya dengan Penciptanya, dengan cara melakukan peyembahan kepada pusat keimanan, yakni Allah swt. Salah satu bukti penghambaan itu adalah dengan mengerjakan ibadah salat.

Ketiga, tidak hanya hubungan kepada Allah, keimanan sejati juga harus memiliki manifestasi yang berhubungan dengan manusia lainnya, terutama kepada kaum tertindas atau fakir miskin. Orang yang memiliki keimanan sejati menyadari bahwa apa yang dimilikinya merupakan amanah ilahiah yang harus diberikan kepada yang berhak. Jika punya harta, ingatlah bahwa pada harta itu ada hak orang-orang miskin, karena itu berilah makan orang miskin dengan cara membayar zakat, sedekah, dan infak.

Keempat, keimanan sejati juga ditandai dengan mempercayai wahyu dan kenabian. Di mana Allah swt, telah menurunkan kitab suci kepada Para Nabi dan umat manusia seperti Zabur, Taurat dan Injil, serta yang terakhir dan sempurna yaitu kitab suci al-Quran al-Karim.

Kelima, keimanan sejati harus membenarkan dengan sepenuh jiwa, bahwa kehidupan tidak hanya berakhir di dunia saja, melainkan juga bahwa kehidupan sejati adalah di akhirat. Kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan awal bagi kehidupan baru yang lebih bermakna, di mana seluruh amal perbuatan manusia akan di nilai secara adil, jujur dan akan di balas sesuai dengan amal ibadahnya itu. Jika baik, surga menjadi tempat kebahagiaanya. Jika buruk, maka nerakalah tempat tinggalnya.  

Demikanlah, kelima karakter keimanan sejati itu dapat diperoleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun, karena petunjuk Allah swt, senantiasa terpancar seperti rahmat-Nya yang terus menyebar. Orang yang telah mendapatkan keimanan sejati inilah, yang disandingkan oleh Rasulullah saaw dengan sahabat-sahabatnya, “Kalian sahabatku, sedangkan mereka saudaraku”. Jadi, kita yang hidup saat ini, tidak memiliki kemuliaan kedudukan sebagai sahabat Rasulullah saaw, tetapi mendapatkan kehormatan sebagai saudara Rasulullah saaw. Inilah yang disebut oleh al-Quran, “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. al-Baqarah : 5). “Ya Allah, tanamkanlah ke dalam hati kami, keimanan sejati kepada-Mu, mencintai Nabi-Mu dan keluarganya, serta berilah kami kekuatan untuk senantiasa mengamalkan perintah-Mu, dan menjauhi larangan-Mu.” Amin ya Rabbal ‘alamin. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL