3. Surat Al-anfal : 67

 “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

(Q.S. al-Anfal : 67)

Al-AnfalAdapun surat al-anfal ayat 67 ini, jika dilakukan pendekatan munasabah ayat al-Quran, maka akan menemukan ungkapan ini sama sekali tidak menegur nabi, melainkan ayat ini adalah respon terhadap sahabat Nabi. Secara sederhana rekonstruksi penafsiran atas ayat ini adalah sebagai berikut :

1). Pada saat itu ada kafilah dagang Abu Sufyan yang membawa harta banyak sedang kembali ke Mekah dari Syam. Di sisi lain Abu Jahal, dan pemuka kafir Quraisyi lainnya sedang mempersiapkan pasukan untuk menyerang Rasul sekaligus mempertahankan kafilah dagangnya. Jadi ada dua kelompok yang hendak dihadapi oleh Rasulullah saww. Maka Rasulullah saw memilih dan mengajak para sahabat untuk mempersiapkan diri dalam berperang, tetapi sebagian dari mereka keberatan, hal ini terlihat pada ayat 5-6 surat al-Anfal yang berbunyi :

“Sebagaimana Tuhan-mu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (Q.S. Al-Anfal: 5-6)

2). Walaupun telah ada jaminan kemenangan dari Allah, orang-orang yang takut dan tidak ingin berperang itu lebih memilih untuk menyergap kafilah dagang yang membawa banyak harta benda,

Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah (yaitu: kafilah dagang) yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.”(Q.S. Al-Anfal: 7)

3).Karena itu Allah Swt memerintahkan Nabi Saw untuk mengobarkan semangat perang para sahabatnya, dengan janji walaupun orang-orang mukmin berjumlah sedikit, Allah tetap akan memenangkan mereka dari orang-orang kafir. Dan janganlah kaum mukmin berfokus pada untuk mengambil harta benda duniawi, karena hal itu akan melemahkan perjuangan Islam. Hal ini disebutkan Allah dalam Q.S. al-Anfal : 65-66, :

 “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. al-Anfal : 65-66)

4). Setelah itu, perhatikanlah ayat al-anfal: 67 ini yang merespon kondisi tersebut :

Tidaklah patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuh-musuhnya di muka bumi. Kalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) bagi kalian di akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Anfal: 67).

Jadi jelaslah bahwa ayat ini sama sekali tidak menegur dan menyalahkan Nabi, malah ayat ini menegaskan kebenaran Nabi dalam mengambil keputusan, dengan menegur sebagian orang yang enggan berperang tetapi ingin menyergap kafilah dagang untuk mendapatkan harta. Dengan demikian, maka menjadi jelaslah bahwa Q.S. al-Anfal : 67 bukanlah menegur Nabi Saw, sehingga tidak bisa dijadikan dalil untuk menggugat kemaksuman Nabi Saw. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL