ياحسينياحسينTidak ada paksaan dalam agama, (karena) sesungguhnyatelah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah, dan siapa yang ingkar kepada taghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang pada tali yang teguh dan tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah itu pelindung orang-orang yang beriman, mereka dikeluarkan-Nya dari kegelapan kepada cahaya yang terang, dan orang-orang yang kafir itu pelindungnya adalah setan, mereka dikeluarkan-Nya dari cahaya yang terang kepada kegelapan. Orang-orang itu isi neraka, mereka tetap di dalamnya.” (Q.S. al-Baqarah: 256-257)

Alangkah mulianya ayat di atas dalam memberikan kekhasan dan kekuatan Islam serta para pribadi yang mendapat celupannya. Firman ini dengan tegas menancapkan pentingnya kesadaran dan ikhtiari kemanusiaan menuju kesempurnaan melalui jalur syariat (agama). Firman ini juga menandaskan bahwa agama adalah unsur pokok dalam fitrah manusia dan diperteguh dengan jalan kebenaran sebagai lawan dari jalan kesalahan. “Jalan kebenaran” merupakan sirath al-mustaqim dan syariat yang diikuti secara kukuh, sedangkan “jalan kesalahan” adalah jalur lalu lintasnya taghut.

Menariknya, dalam firman ini, pengingkaran kepada Taghut di dahulukan daripada keimanan kepada Allah. Hal ini setidaknya mengindikasikan bahwa kita mesti mengikis habis segala bentuk kekuasaan yang mengitari diri kita sehingga kemudian dengan kesadaran penuh dan kepasrahan total, kita menghadapkan wajah bersimpuh di hadapan Allah dengan keimanan yang hakiki, yaitu keimanan secara mutlak pada wajib al-wujud (Allah) yang tidak boleh bercampur dengan keimanan atau kompromistis dengan kekuatan lain yang semu dan menipu.

Karena itu tauhid adalah kemurnian total keyakinan dari kekuatan apapun selain Allah swt. Jika, masih terbersit di hati dan pikiran kita, bahwa Allah memiliki tandingan dalam kekuasannya, maka keimanan pada dasarnya belum masuk ke dalam hatinya. Melalui penolakan atas thaghutlah (tirani) misi tauhid sejati tetap terjaga sepanjang zaman, sebab seringkali yang menjadi perusak tauhid itu adalah para tirani terebut. Lihatlah misalnya Namrud dan Firaun, yang menjadi thaghut di zamannya, yang dengan mudah mengelabui orang dengan kekuasannya. Sebaliknya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sebagai lawannya, dengan kepasrahan, keteguhan hati dan iman serta keyakinan yang mendalam, berhasil selamat dari semua tipu daya bahkan kekerasan yang dilakukan oleh tirani zamannya. Hal ini dilakukan tidak lain sebagai wujud iman sejati dengan mewujudkannya melalui cermin pengingkaran terhadap tirani (taghut).

Begitu juga dengan Nabi Muhammad saw, ketika di awal-awal dakwahnya di Mekah, diminta untuk menghentikan semua kegiatan dakwahnya, dan thagut di zamannya menawarkan kekuasaan, kekayaan, dan kesenangan kepada Nabi saw sebagai pengganti dakwah mulianya, tetapi Nabi tetap bertahan pada pendiriannya untuk tetap mendakwahkan agama yang dibawanya, sehingga penguasa tirani zamannya melakukan penindasan, kekerasan, boikot, hingga target pembunuhan, sampai Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk hijrah ke tempat yang lebih aman, “Dan (ingatlah) katika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan strategi, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat strategi.” (al-Anfal : 30).

Lima puluh tahun kemudian, putra Nabi saw, Sayidina Husain, juga bangkit melawan thagut di zamannya, untuk menjaga kemurnian agama kakeknya, yang telah diselewengkan oleh penguasa. Misi mulianya ini ditorehkan beliau melalui tinta darah syuhada akan senantiasa hidup disetiap aliran darah dari denyut nadi para pengikutnya. Mereka-mereka inilah yang mendapat rajutan ‘tali Tuhan” yang tidak mungkin putus dimakan zaman, sebab mereka telah melintas di atas “jalan kebenaran” dalam lindungan cahaya ilahiah yang tidak bercampur dengan kegelapan, “Allah itu pelindung orang-orang beriman, mereka dikeluarkan-Nya dari kegelapan kepada cahaya yang terang.” (Q.S. al-Baqarah: 257) .

Sayidina Husain memilih untuk untuk bangkit melawan tirani zamannya, tidak lain karena ketidakmungkinan beliau untuk mendiamkan kezaliman yang terjadi di depan matanya, seperti tersirat dari kata-katanya saat berhadapan dengan pasukan al-Hurr di al-Bidhah :

Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa melihat penguasa yang menghalalkan yang diharamkan Allah, yang melanggar ikrarnya kepada Allah dan menentang sunnah Rasulullah saw, memperlakukan hamba-hamba Allah dengan jahat dan zalim, dan tidak mengubahnya dengan perbuatan dan perkataan maka adalah hak Allah bila ia akan memasukkannya ke tempat (yang sama) dengan penguasa (tiran) itu”. Awas, orang-orang seperi ini akan tetap taat kepada setan dan meninggalkan ketaatan kepada al-Rahman, melakukan korupsi secara terbuka, dan mengabaikan hukum-hukum, serta memonopoli al-fai.”

Begitu dalam salah satu untaian syairnya Imam Husain as menegaskan :

“Aku bertekad terus maju ke depan, Walau maut menghadang di jalan

Mati bukanlah noda mencemarkan, Bagi seorang berdarah pahlawan

Bila disertai niat ikhlas berkorban, Untuk berjuang membela kebenaran

Kuserahkan segenap jiwa dan raga, Dalam perang suci membela agama

Lebih baik mati daripada hidup terhina

Jika masih hidup aku tak kecewa, Dan jika mati aku tak akan tercela

Alangkah hina hidup di bawah kaki durhaka”

Sayidina Husain, membawa dan mengajarkan pesan moral bahwa kita tidak boleh membiarkan situasi buruk yang dilakukan para penguasa berkembang, kapanpun dan di manapun. Sayidina Husain adalah sosok yang memancarkan kepribadian yang tangguh dalam menegakkan kebenaran yang membangkitkan setiap diri umat Islam agar merasakan gejolak-gejolak pemberontakan bagi setiap penindasan yang dilakukan thagut sepanjang zaman. Inilah dia inti keimanan dalam bingkai perlawanan (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL