tadarusRasulullah saw bersabda, “Hendaklah kamu mempelajari Alquran dan memperbanyak membacanya” (Kanz al-Ummal, no. 2368). Karena itu Nabi, keluarga dan sahabatnya selalu menganjurkan membaca, menghapal, belajar dan mengajarkan Alquran. Bahkan Nabi saaw, keluarga dan para sahabatnya seperti Usman bin Affan, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab dan lainnya membagi Alquran menjadi tujuh bagian dan selalu selalu mengkhatamkan setiap minggunya. Kalau kita, mungkin setiap tahunnya, terutama di bulan puasa. Alhamdulilah.

Memang, salah satu fenomena menarik yang nyata terjadi pada bulan ramadhan adalah semaraknya di masjid-masjid orang-orang berkumpul saling membaca dan menyimak Alquran (tadarus). Suara mikropon mesjid menggema ke sekitar lingkungannya hingga tengah malam dengan lantunan firman-firman Tuhan. Beragam suara dan model bacaan terdengar. Ada yang dengan suara merdu, dan ada yang sendu, ada yang nyaring dan ada yang kering, ada yang lancar bacaannya, dan ada yang terbata-bata. Semua bergabung dalam harmoni cinta terhadap Alquran yang mulia.

Bukan hanya di mesjid, di rumah-rumah kaum muslimin juga muncul kegairahan para keluarga beriman untuk membaca Alquran. Kitab suci yang mungkin selama ini tersusun rapi atau tersuruk sepi di sudut-sudut lemari, nyaris tak tersentuh jemari, kini digenggam oleh tangan, dicium, dan dijunjung tinggi. Maka wajarlah kalau dikatakan bulan ramadahan adalah musim seminya Alquran.

Tentu saja hal ini menggembirakan kita, sebab ternyata umat masih punya perhatian besar terhadap Alquran. Namun, tentu saja tadarus Alquran tidak sekedar membacanya, tetapi juga mempelajari maknanya, merenungkan maksudnya, mengamalkan perintahnya, dan menjauhi larangannya. Karena itu, sebaiknya sebelum membacanya kita mempersiapkan diri secara jasmani dan ruhani untuk menangkap pesan-pesan Alquran, sehingga setiap ungkapannya akan meresap pada jiwa. Untuk itu bagi yang tadarus Alquranperlu memperhatikan beberapa adab penting sebagai berikut :

  1. Bersuci dari hadas dan najis. Allah berfirman “Tidak ada yang menyentuhnya (Alquran) kecuali orang-orang yang suci” (Q.S. al-Waqiah : 79)
  2. Membersihkan mulut dengan menggosok gigi, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw, “Besihkanlah jalan Alquran. Ditanyakan, ‘Apa jalan Alquran itu, wahai Rasulullah?’ Beliau Menjawab, ‘Mulut-mulut kalian’. Mereka bertanya lagi, ‘Dengan apa?’ Beliau menjawab, ‘Dengan menggosok gigimu”.
  3. Membaca ta’awwudz, sebagaimana difirmankan Allah, “Apabila engkau membaca Alquran, maka berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk” (Q.S. an-Nahl : 98)
  4. Membaca dengan tartil, sebagaimana firman Allah, “..dan bacalah Alquran dengan tartil” (Q.S. al-Muzammil: 4). Tartil adalah membaca Alquran dengan perlahan-lahan, jelas, dan tidak memotong-motongnya ayat secara sembarangan.
  5. Membaca dengan suara indah. Nabi sawbersabda, “Setiapsesuatu ada hiasannya, dan hiasan Alquran adalah suara yang indah” (Kanz al-Ummal, no. 2768)
  6. Tadabbur, yaitu merenungi makna-makna ayatnya dan mengambil pelajaran darinya. Allah berfirman, “Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka mentadabburi (merenungi) ayat-ayatnya dan agar ulul albab mengambil pelajaran darinya” (Q.S. Shad: 29). “Apakah mereka tidak memikirkan Alquran itu, atau hati mereka tertutup” (Q.S. Muhammad: 24). Imam Ali ra berkata, “Bukanlah kebaikan membaca Alquran tanpa perenungan…” (Bihar al-Anwar juz 92, hal. 211, no. 4)
  7. Mengimani seluruh isinya. Allah berfirman, “Ali lam mim, inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. al-Baqarah : 1-2). “Apakah kamu percaya dengan sebagian al-Kitab (Alquran) dan ingkar dengan sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian, kecuali kehinaan pada kehidupan dunia dan pada hari kiamat, mereka akan dilemparkan ke dalam azab yang pedih. Dan Allah tidak pernah lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Baqarah : 85)
  8. Khusyuk. Rasulullah saw ditanya tentang orang yang paling indah membaca Alquran, maka beliau menjawab, “Orang yang jika engkau dengar suaranya, engkau akan melihatnya sebagai orang yang takut kepada Allah” (Kanz al-Ummal, no. 4143)

Dengan adab-adab di atas, insya Allah setiap kita ber-tadarus Alquran maka akan menghasilkan energi dan semangat baru serta jiwa yang kokoh. Karena kita bukan hanya sekedar membacanya, tetapi juga menyelami kandungan maknanya, sehingga membuat kita mejadi takut saat membaca ayat siksa dan dipenuhi harapan saat menemukan ayat-ayat rahmat. Diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab ra pernah membaca Alquran yang berbunyi :

يَوْمَ تَمُورُ السَّماءُ مَوْراً   وَ تَسيرُ الْجِبالُ سَيْراً     فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبينَ    الَّذينَ هُمْ في خَوْضٍ يَلْعَبُونَ     يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلى نارِ جَهَنَّمَ دَعًّا    هاذِهِ النَّارُ الَّتي كُنْتُمْ بِها تُكَذِّبُونَ

Pada hari ketika langit benar-benar berguncang. Dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Yaitu orang-orang yang bermain-main dengan kebatilan. Pada hari mereka didorong ke neraka jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka) inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.”(Q.S. at-Thur : 9-14)

Setelah membaca ayat tersebut, jiwa Khalifah Umar ra terguncang dan dipenuhi dengan ketakutan dan kengerian akan peristiwa kiamat. Dikabarkan beliau jatuh sakit hingga sebulan lebih. Begitulah, beliau membaca Alquran dengan menyelami kandungan maknanya sehingga seolah-olah sedang berbicara langsung dengan Alquran dan menyaksikan setiap peristiwa yang disampaikannya. Apakah kita pernah merasakannya? (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL