setan (1)Salah satu yang sering kita dengar ketika para penceramah menyampaikan pesan-pesan ramadhan adalah sebuah riwayat dari Rasulullah saw yang bersabda, “Ketika masuk bulan ramadhan, maka pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan setan-setan dibelenggu.” Tentu saja hadis ini membuat sebagian kita heran, mengapa setan dibelenggu dibulan ramadhan, tetapi maksiat masih bertebaran?

Tentu saja hadisnya tidak salah, bulan ramadhan dan puasa juga tidak salah. Tetapi, pelaku puasalah yang bermasalah. Ini bisa kita bandingkan dengan firman Allah yang menegaskan, “Sesungguhnya salat mencegah perbuatn keji dan munkar”, tetapi banyak pelaku salat, juga merangkap pelaku maksiat. Salat dikerjakan, maksiat dijalankan. Bahkan dalam ayat lainnya dikatakan, “Celakalah bagi orang-orang yang salat, yang mereka salat dengan lalai dan mereka riya” (Q.S. al-Maun: 4-6). Tentu saja, kita tidak menyalahkan ayat atau salatnya, tetapi mempersoalkan pelaku salatnya yang mengerjakan salat secara tidak sempurna, lalai dan tidak ikhlas.

Muhammad Raysyahri (2009: 36-40) ketika mengulas persoalan mengapa manusia tetap berbuat maksiat, padahal setan dibelenggu di bulan ramadhan? Maka beliau menjawab bahwa setan bukan satu-satunya penyebab manusia berbuat dosa. Ada dua hal lain yang mendorong manusia berbuat maksiat, yaitu nafsu ammarah dan hati yang berkarat karena bertumpuknya dosa. Jadi sekalipun setan telah dibelenggu, tetapi nafsu dan hati yang kotor, akan tetap berperan menjerumuskan manusia pada dosa dan kemaksiatan di bulan ramadhan.

Penjelasan Raysyahri ini penting, karena kita sering lupa bahwa setan hanya berfungsi mengajak dan menggoda manusia, dan tidak memiliki kemampuan memaksa, “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)” (Q.S. al-An’am: 12). Artinya, setiap perbuatan yang kita lakukan adalah berlandaskan pada kebebasan dan pilihan kita sendiri. Kita bermaksiat, pada dasarnya itu kehendak, kemauan, dan pilihan kita sendiri. Setan hanya menggoda dan menipu kita. Dan, jika maksiat sering kita lakukan, maka ia akan melekat dijiwa dan hati kita sehingga menjadi karat-karat yang sulit digosok. Dalam keadaan itu, maksiat menjadi mudah dan indah, sekalipun kita tahu dosa dan ancamannya. Kalau boleh dimisalkan, perokok misalnya, jika merokok telah melekat pada hati dan jiwanya, maka merokok menjadi kenikmatan tersendiri yang tetap sulit menghindarinya meskipun mengetahui bahayanya.

Raysyahri lebih lanjut menjelaskan bahwa puasa pada prinsipnya menghilangkan tabiat alamiah yang menjadi tempat berperannya setan untuk mempengaruhi dan menyesatkan manusia. Dengan kata lain, faktor yang membatasi dan membelenggu setan pada bulan ramadhan adalah puasa itu sendiri. Karenanya, hadis Nabi saw yang mengatakan bahwa setan berjalan di tengah-tengah anak Adam seperti berjalannya darah, dan jalannya itu akan terhalang dengan rasa lapar, menunjukkan bahwa secara natural, ibadah puasa akan mencegah kekuatan setan pada manusia. Ini berarti, semakin baik dan sempurna puasa seseorang maka setan akan semakin terbelenggu. Bahkan, tidak hanya terbatas pada pembelengguan setan, tetapi juga mengontrol pengaruh nafsu dalam diri manusia. Namun sebaliknya, jika puasa tidak dijalankan dengan baik, maka setan dengan mudah menyesatkannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa orang-orang yang berpuasa di bulan ramadhan tetapi masih melakukan dosa, maka sesungguhnya puasanya itu belum benar dan sempurna.

Dengan demikian, semua riwayat yang memuji rasa lapar berperan dalam membangun jiwa serta mendidiknya, sesungguhnya ditujukan demi mewujudkan benteng penghalang alamiah yang akan menahan kekuatan setan terhadap manusia dan mencegahnya dari pengaruh dan penyesatan nafsu, disamping ditujukan untuk memperkuat akal manusia dan mengaktualkan potensi-potensinya.

Dari penjelasan Raysyahri itu bisa disimpulkan bahwa bukanlah setan sebagai sosok wujud yang akan dibelenggu, diikat kaki dan tangannya, atau di masukkan ke sebuah tempat yang kemudian digembok sehingga tidak bisa keluar. Sebab sebagaimana dapat dipahami dari berbagai ayat Alquran bahwa setan tidak hanya dari bangsa jin tetapi juga bangsa manusia, bahkan sebagian ulama meluaskan maknanya setan dengan merujuk kepada segala sesuatu yang membuat keburukan, termasuk virus dan kuman-kuman penyakit-penyakit. Quraish Shihab (2003: 71-72) menyebutkan:

“Bahwa kesan yang ditangkap dari berbagai ayat-ayat Alquran dan hadis, kata setan tidak terbatas pada jin dan manusia tetapi juga dapat berarti pelaku sesuatu yang buruk atau tidak menyenangkan, atau sesuatu yang buruk dan tercela…kata setan diperluas maknanya, sehingga tidak hanya mencakup pelaku kejahatan atau keburukan dari jenis manusia dan jin, tetapi juga mencakup pula, misalnya virus-virus atau kuman-kuman penyakit serta lainnya.”

Jika makna setan di atas kita terima, maka tidak mungkin setan dibelenggu, diikat atau digembok pada bulan ramadhan, sebab kita menyaksikan banyak “setan-setan” berwujud manusia berkeliaran bebas ketika ramadhan. Begitu pula, “setan-setan” berwujud virus atau kuman. Apalagi setan-setan dalam bentuk jin, sebab jin adalah makhluk non-material yang tidak bertempat dan tak mungkin diikat. Karena itu, yang dimaksud dengan setan dibelenggu, adalah puasa yang dilakukan dengan baik dan benar serta ikhlas akan melemahkan godaan setan. Puasa akan menjadi rumah yang dikelilingi benteng yang kokoh yang setan tak akan mampu menembusnya. Inilah makna setan terbelenggu. Bukankah Nabi saaw juga bersabda, “Puasa adalah benteng yang kokoh” (H.R. Bukhari).

Demikian pula, bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah dan rahmat, yang mana kasih sayang Allah tercurah kepada orang-orang yang berpuasa dengan kesungguhan dan keikhlasan, maka salah satu dari bentuk rahmat Allah swt adalah pembelengguan setan di bulan ramadhan. Orang yang berpuasa dengan baik, sadar, dan ikhlas tentu saja orang yang senantiasa diliputi berkah dan rahmat Allah swt, maka tentu dia telah memiliki benteng pertahanan yang kokoh yang setan tak mampu menembusnya. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL