kalimat tauhiddKalimat Laa ilaaha illallah merupakan zikir yang paling utama. Sehigga, musuh pun akan berusaha mecari perlidungan pada kalimat tersebut saat menghadapi bahaya, demikian juga seorang wali saat didekati bahaya.

Seorang musuh, misalnya Fir’aun, ketika mendekati kematian ia berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil…” (Q.S. Yunus: 90). Artinya, tidak ada Tuhan—yang mampu menjadikan api tidak membakar seperti dalam hak Ibrahim, demikian juga air tidak mejadi siksa baginya—kecuali Tuha yang diimani oleh bani Israil.

Tentang seorang wali, seperti yang terjadi pada Nabi Yunus as. Allah swt berfirman, “…maka ia meyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘bahwa tidak ada Tuhan selain Egkau. Maha suci Engkau, sungguh aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Q.S. al-Anbiya : 87). Artinya, tidak ada Tuhan selain Engkau, sungguh Engkaulah yang Maha Kuasa untuk menjaga manusia hidup di dalam perut ikan paus. Selain Engkau, tidak ada yang kuasa melakukannya.

Jika dikatakan, bukanlah Fir’aun dan Yunus sama-sama berdoa, kenapa doa yang satu diterima sedangkan yang lainnya tidak?

Dalam hal ini ada perbedaan antara doa Fir’aun dengan doa Nabi Yunus as, yakni sebagai berikut :

Pertama, pengetahuan Yunus as tentang kalimat tersebut telah lebih dulu ada, dan pegetahuannya yang lebih dulu ini membantu diterimanya doa tersebut. Sedangkan doa Fir’aun didahului oleh pengingkarannya akan kalimat tersebut, karena yang pertama kali ia lakukan adalah meyebut dirinya sendiri sebagai Tuhan, seperti difrimankan Allah swt, “…Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (Q.S. an-Naziat : 23-24). Sedangkan Yunus as, sudah lebih dulu berdoa kepada Allah, seperti disebutkan Alquran, “Dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)” (Q.S. al-Qalam : 48); dan “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit” (Q.S. ash-Shafat: 143-144). Ayat ini mengingatkan Anda bahwa jika seorang selalu menjaga (mengingat) Allah dalam kesendiriannya di tempat-tempat sunyi, maka Allah juga akan menjaganya.

Kedua, Yunus as, mengucapkan kalimat tersebut disertai kehadiran, ia berkata, “…Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau”, ia dalam keadaan hadir dan menyaksi. Sedangkan Fir’aun mengatakannya dalam keadaan gaib, dia berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil…”, ia menempatkan pengetahuan akan hakikat kalimat tauhid tersebut kepada yang lain.

Ketiga, Fir’aun megucapkan kalimat tauhid tersebut dengan cara taklid kepada Bani Israil, sebab ia mengatakan, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil…”, Sedaangkan Yunus as mengucapkannya secara argumentatif, dengan memandang diri sebagai yang lemah dan terjatuh di hadapan kalimat tauhid. Maka, setelah mengucap kalimat tauhid, Yunus as berkata, “Maha suci Engkau, sungguh aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (Q.S. al-Anbiya : 87). Dengan kata-kata ini, Yunus memposisikan diri sebagai hamba yang lemah dan kalah, karena itu doanya dikabulkan. Allah berfirman, “Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya…” (Q.S. an-Naml : 62)

Keempat, ketika menyebutkan kalimat tauhid, Fir’aun tidak bermaksud mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah, melainkan untuk menyelamatkan diri dari keterpurukan. Allah berfirman, “Hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil” (Q.S. Yunus : 90). Sedangkan Yunus menyebutkannya karena merasa dirinya hina disebabkan kekerdilan dalam ketaatan dan penghambaan kepada Allah. Hal ini dibuktikan dengan ucapannya, “Maha suci Engkau, sungguh aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Q.S. al-Anbiya : 87). (hd/liputanislam.com)

*Disadur dari buku Imam Fachruddin al-Razi,  Tafsir Kalimat Tauhid, Pustaka Hidayah : Bandung, 2007.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL