TakfirismeAl-Imam Muhammad bin Ali al-Hakim al-Tirmidzi meriwayatkan dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap jiwa yang mati dalam keadaan menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah, serta kesaksiannya itu dipersaksikan dengan hati yang yakin, pasti Allah akan mengampuninya.”

Syahadat yang dipersaksikan dengan hati yang yakin adalah syahadat yang dipersaksika saat maut, saat jiwa telah mati dari syahwat, saat jiwa mengelak dari ketakutan akan maut telah pasrah, saat keinginan telah musnah. Di saat-saat menjelang kematian, sebuah kesaksian menjadi kesaksian puncak. Sehingga, jika seseorang mengucap kesaksian (syahadat) saat maut, tentu akan mendapat ampunan Allah.

Sedangkan ucapan syahadat orang yang masih sehat masih dipenuhi berbagai campuran, karena ia mempersaksikan kesaksian tersebut dengan hati yang dipenuhi syahwat, dengan jiwa yang membantah, tidak mau menerima. Dengan ucapan kesaksian seperti ini, orang tidak akan mendapatkan ampunan.

Inilah perbedaan antara mengucapkan syahadat selagi dalam kondisi sehat dengan mengucapkannya di saat menghembuskan nafas terakhir.

Orang yang hatinya jatuh cinta pada dunia, terbelenggu oleh nafsu syahwatnya, melupakan akhirat, dan ragu akan Allah, tidak akan memperoleh keyakinan sedikit pun. Karena hatinya dipenuhi oleh kecenderungan pada dunia dan syahwat, ia tidak akan memperoleh kecenderungan kepada Allah. Kalaulah keyakinan itu diperoleh oleh hati, tentulah keadaannya akan berbeda.

Yakin, disebut yakin karena keteguhannya dalam hati, dan ini adalah cahaya. Jika cahaya itu tetap ada, ia akan senantiasa ada. Jika cahaya senantiasa ada, jiwa akan memiliki penglihatan yang jelas. Dengan demikian hati akan menyendiri bersama Allah dan terputus dari selain Dia. Dalam kondisi ini, hati berhenti dalam keadaan tidak berdaya, kemudian memohon pertolongan kepada Allah dengan keras dan memaksa, maka al-Haq akan megabulkannya. Sungguh, Dia mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya secara paksa. Ketika cahaya yag benderang dalam hati itu memancar, gelap kesibukan dengan selain Allah menjadi musnah, dan tampaklah alam malakut kepadanya. Inilah kata-kata Haritsah kepada Rasulullah saw, “seakan-akan saya melihat Arsy Tuhanku dengan jelas”, maka Rasulullah saw berkata, “Ia hamba yang hatinya diterangi iman.”

Apa yang dikemukakan di atas, saya tegaskan dengan sabda Nabi saw. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumitu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir”, dengan jiwa yang ikhlas serta hati dan lisannya membenarkan, maka langit akan koyak terbelah, sehingga Tuhan akan melihat ahli dunia yang telah mengucapkannya.”

Zaid bin Arqam mengatakan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘tiada Tuhan selain Allah’ dengan ikhlas, maka ia masuk surga.’ Dikatakan kepada Rasulullah saw, ‘Ya Rasulullah! Apa yang dimaksud ikhlas megucapkannya itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Yaitu, engkau menahannya dari yang diharamkan.’ Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Ikhlaslah, maka yang sedikit aka membuatmu cukup.’

Zaid bin Arqam juga mengatakan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah berjanji kepadaku, bahwa setiap umatku yang mengucapkan laa ilaha illallah serta tidak mencampurnya dengan sesuatu pun, tentu surga wajib baginya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencampurinya itu? “ Rasulullah menjawab, “Rakus akan dunia, selalu berusaha mengumpulkannya, menahan hartanya, berbicara dengan ucapan para Nabi tetapi beramal dengan amalan orang sombong.”

Orang yang mengucapkan kalimat tauhid mesti memiliki keyakinan yang penuh, sehingga kalimat ini memberinya manfaat. Keyakinan hanya bisa diperoleh setelah matinya syahwat. Dan matinya syahwat hanya bisa dicapai dengan cara melatih (menundukkan) diri sampai syahwat-syahwat terseut mati, selama hidup. Jika syahwat telah hilang (terkendali), pengharapan serta rasa takut kepada Tuhan menjadi besar, dan kecenderungan kepada selain Allah pun terputus total. Jika seseorang megucapkan kalimat tauhid dalam keadaan seperti itu, tentu ia patut mendapat ampunan-Nya.

Para ulama salaf menganjurkan supaya menuntun (talqin) orang yang sudah mendekati kematian (sekarat) dengan kalimat tauhid. Rasulullah saw bersabda, “Tuntunlah orang yang menjelang kematian dengan laa ilaaha illallah.”  Sungguh, saat menjelang ajal, syahwat manusia akan mati, dan ia akan beroleh cahaya keyakinan. Jika ia mengucapkan kalimat tauhid dalam keadaan seperti ini, tentu syahadatnya itu diterima.

Orang yang sudah dapat mematikan syahwatnya jauh sebelum menjelang ajal, tentu lebih utama untuk mendapat ampunan-Nya. Bahkan, Allah akan membukakan penglihatannya ke alam gaib. Karena, kalimat tauhid yang diucapkannya tentu keluar dari hati yang murni, tanpa campuran syahwat.

Abdullah bin Ja’far meriwayatkan dari ayahnya bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Tuntunlah orang yang menjelang kematian dengan membaca “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumitu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir”. Kemudian para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana kalimat itu bagi yang masih hidup?” Rasul menjawab, “Lebih baik dan lebih baik.”

Kalangan ahl al-bait menamakan kalimat ini sebagai kalimat al-farj (kalimat pembuka kelapangan), dan mereka mengucapkan kalimat tersebut setiap ditimpa musibah dan kesulitan. Dalam kalimat al-farj ini ada tambahan kalimat, laa ilaaha illallah al-aliy al-adzim. Makhul mengatakan bahwa kalimat al-farj itu adalah, “laa ilaaha illallah al-aliy al-adzim, laa ilaaha illallah al-halim al-karim, subhanallah rabb as-samawat wa rabb al-arsy al-adzim, alhamdulillah rabb al-alamin”. Ali bin Abi Thalib ra, berkata, “Rasulullah saw bersabda kepadaku , ‘Tidakkah aku telah mengajarimu kalimat yang jika engkau megucapkannya maka dosa-dosamu akan diampuni, meski engkau memiliki kesalahan sebanyak jumlah debu (yang ada di bumi), yaitu kalimat “laa ilaaha illallah al-aliy al-adzim, laa ilaaha illallah al-halim al-karim, subhanallah rabb as-samawat wa rabb al-arsy al-adzim, alhamdulillah rabb al-alamin”. (hd/liputanislam.com)

*Disadur dari buku Imam Fachruddin al-Razi, Tafsir Kalimat Tauhid, Pustaka Hidayah: Bandung, 2007.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL