Oleh : Jamal al-Banna

jamalPaling tidak ada tiga ribu hadits yang berbicara tentang doa-doa ini, mulain dari doa sebelum dan setelah shalat hingga semua gerak-gerik seorang Muslim. Seorang Muslim memulai harinya dengan doa, tidurnya dengan doa, dan begitu sampai pada hari berikutnya.“Adakah yang lebih membangkitkan harapan dari “nama agung Allah?” yang mana seseorang berdoa melalui nama agung ini bisa terkabul. Adakah yang lebih menakutkan melebihi siksa kubur yang dapat menghancur-leburkan tubuh anak Adam? Adakah yang lebih menenangkan jiwa dengan doa di setiap gerakan shalat yang dapat menjadikan seseroang suci seperti baru lahir?

Ribuan hadits seperti ini telah mewarnai kitab-kitab sunnah dan disahkan oleh para hali hadits. Bahkan sebagian menganggapnya sampai pada tingkatan mutawatir. Inilah kemudian yang menjadi corak resmi umat Islam, sebagaimana hadits-hadits tersebut telah memadamkan api pemberontakan terhadap kekuasaan, meminggirkan wanita dari perkembangan keilmuan, dan mematikan kreativitas seorang muslim. Selanjutnya orang Muslim hanya terpaku dengan urusan-urusan ibadah, taklid, menyerah, dan terjauhkan dari kreativitas. Adalah benar bahwa ini bukan penyebab satu-satunya.

Para penguasa penyebab terbesarnya, yang mana politik mereka mainkan telah mengurung umat Islam dalam kebodohan dan keterbelakangan. Dan hadits-hadits palsu diatas pada titik tertentu membuat umat Islam menerima apa yang dilakukan para penguasa dan menerima kenyataan, walaupun terbelakang sebagaimana terjadi dalam tradisi tasawuf.

Pengaruh hadits-hadits palsu di atas terhadap kejiwaan orang Muslim membuat mereka tidak bisa berperan aktif dalam semua perkembangan modern, seperti dalam demokratisasi dan perkembangan pengetahuan. Kehidupan wanita tetap termarginalkan dari kehidupan umum. Seni tidak dapat diterima. Dan mereka tetap terpaku dengan apa yang disampaikan oleh pendahulu mereka, tanpa melirik terhadap perkembangan yang terjadi di sekelilingnya. Kekuatan pengaruh ini telah menghapus keragaman dalam kehidupan umat Islam, baik dalam sisi bahasa, kebangsaaan ataupun kenegaraan. Sosok umat Islam Arab juga menjadi corak Muslim ikatan “Commonwealth” negara persekutuan Islam paling kuat. Cara pakaian mereka mempunyai kemiripan. Tingkah laku mereka pun demikian. Seorang yang masuk masjid pasti melakukan dua rakaat sunanh sebagai penghormatan terhadap masjid. Mereka juga terbiasa dengan melakukan shalat sunnah, baik sebelum maupun setelah shalat wajib. Begitu seterusnya.

Sebagaimana telah disampaikan di atas, seandainya gerakan terkomando tidak hanya dalam bidang ibadah, tentunya sangat luar biasa. Sayangnya, kekuatan ini hanya terjadi dalam kehidupan ibadah yang jauh terpisah dari inti kehidupan. Sungguh yang dialami Nabi adalah hal yang berbeda. Hubungan Nabi dengan Allah adalah pengecualian. Dia selalu bersyukur kepada Allah karena dijadikan makhluk pilihan. Rasa syukur ini menjadikan Nabi selalu melakukan shalat panjang. Lidahnya selalu basah dengan doa. Hatinya selalu bersama Allah dan siap menerima wahyu. Ketika membaca ayat-ayat siksa, lidahnya dengan sendirinya memohon perlindungan. Ketika membaca ayat-ayat rahmat, dengan sendirinya lidahnya bersyukur. Dan ketika membaca syahadat, jarinya pun bergerak menyatu dengan yang dikatakan lidah.

Nabi berkata kepada umat Islam, “Laksanakanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat”. Karena Nabi sangat memperhatikan kondisi orang yang melakukan shalat di belakangnya. Di depan publik, shalat Nabi sesuai dengan kondisi publik. Berbeda dengan ketika melakukan shalat di rumahnya dan sendirian, shalatnya selalu panjang. Shalat pertama itulah yang dimaksud dengan hadits Nabi diatas. Adapun shalat panjang Nabi, hal itu hanya khusus untuk dirinya, sebagai ungkapan rasa syukur Nabi terhadap Allah karena telah memilihnya. Dari sinilah kita bisa memahami apa yang disampaikan Ummu Salamah ketika ditanya tentang shalat Nabi, “Yang kalian lakukan jauh berbeda dengan shalat dan bacaan Nabi.”

Kenapa shalat Nabi yang khusus tidak diperintahkan untuk diikuti? Karena motivasi yang dimiliki Nabi tidak dimiliki oleh umat Islam. Oleh karenanya, bila mereka meniru Nabi dalam konteks ini, hal itu adalah taklid buta yang tidak bermakna. Dia hanyalah gerakan berdiri, duduk dan menggerakkan lisan. Seandainya kecintaan umat Islam terhadap Nabi tidak hanya dalam bidang ibadah, tapi dalam akhlak, kejujuran, keberanian, dan keadilan, permasalahan akan terselesaikan. Umat Islam akan sangat maju.(hd/liputanislam.com)

*Jamal al-Banna adalah cendekiawan Islam asal Mesir dan merupakan adik dari Hasan al-Banna. Tulisan di atas disadur dari karya Jamal al-Banna, Manifesto Fiqih Baru Jil. 2.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL