Oleh : Jamal al-Banna

jamalPara pembesar sahabat lainnya seperti Abu Ubaidah, Sa’ad bin Abi Waqqash, ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan yang lainyya sangat hait-hati terhadap penulisan sunnah. ‘Aisyah pernah berkata: “Al-Quran sudah cukup.” Kita juga melihat sahabat yang menceritakan hadits melarang orang yang mendengarnya agar jangan ditulis. Mereka berkata: “Apakah kalian menjadikannya sebagai mushaf?” Kisah para sahabat tersebut menjelaskan beberapa hal :

Pertama, penulisan hadits telah bermula sejak masa Nabi dan terus berkembang di masa sesudahnya, terutama di masa “penderitaan”, tahun 35 Hijriah.

Kedua, Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Aisyah dan para pembesar sahabat lainnya telah mencoba menghalangi hal ini. namun faktor subjektivitas dan objektivitas telah memelihara kecenderungan ini hingga memosisikan hadits di tempat palign atas.

Ketiga, larangan para sahabat terkait dengan penulisan hadits disertai dengan seruan bahwa Al-Quran sudah cukup. Karena Al-Quranlah yang betul-betul dijaga oleh Allah. Apa yang mereka lakukan murni karena kebenaran. Bukan seperti mereka yang datang sesudahnya. Yang mana mereka menjadikan hadits sebagai profesi, produksi, dan moda. Hingga mereka membelanya walaupun dengan cara yang salah.

Keempat, pemberhalaan atas hadits menjadi kenyataan ketika Mu’awiyah mengapresiasi para ahli cerita, terutama Ka’ab Al-Akhbar dengan memosisikan mereka di dalam masjid. Hal inilah yang kemudian memberikan “raung bernafas” bagi para pemalsu hadits dan ini terus berlanjut hingga masa kodifikasi.

Kelima, ratusan ribu hadits palsu mempunyai pengaruh (walaupun telah disaring) terhadap kehidupan umat Islam. Karena hal ini bersamaan dengan berdirinya “madrasah hadits”. Madrasah hadits secara tidak langsung telah menjadi “badan pengesah” hadits-hadits palsu yang kemudian dijadikan dasar-dasar hukum dalam Islam. Dengan demikian, penyaringan hadits, walaupun berhasil secara kuantitas (dari ratusan ribu menjadi puluhan ribu) namun tidak secara kualitas. Karena hal ini tidak mampu mengembalikan suasana pada keadaan semula (menjadikan Al-Quran sebagai sumber segalanya). Penyaringan ini hanya berhasil mencegah keadaan tidak lebih buruk.

Seseorang akan terkejut bila melihat banyak hadits tentang penghalalan dan pengharaman dalam musnad-musnad yang tidak sesuai dengan Al-Quran. Hanya sebagian kecil saja yang sesuai dengan Al-Quran. Mayoritas hadits-hadits tersebut tersedot ke dalam dua pembahasan. Pertama, perincian ibadah tertentu seperti shalat yang menganjurkan doa-doa tertentu di hari dan di bulan tertentu pula. Kedua, hadits yang bertujuan untuk menakut-nakuti, seperti siksa kubur, surga, neraka, dan siksa sampai datangnya Al-Mahdi. Dua pembahasan inilah yang menjadi jalur besar hadits dalam musnad-musnad yang ada. Dan dua pembahasan ini kemudian membentuk “psikologi umat Islam” dan berhasil menjadi “Muslim ideal.” (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL