Oleh : Jamal al-Banna

jamalPertengahan abad kedua Hijriah, dunia Islam diguyur dengan banyak hadits palsu. Hadits palsu pada masa itu mencapai jutaan hadits sesuai dengan apa yang dihafal oleh para ulama hadits seperti Imam Ahmad bin Hanbal. Hadits-hadits tersebut kemudian menjadi inti pembahasan para ulama, dibukukan kemudian dijadikan sebagai dasar pengambilan hukum. Perjuangan ulama sangat besar dalam hal ini, hingga dasar-dasar dan kaidah dapat dirumuskan. Para ulama hadits pun tampak kelihatan seperti Yahya bin Mu’in, Madini, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahwih, dan yang lainnya.

Akan tetapi, dari penelitian yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa “penyimpangan telah menyebar” hingga hadits-hadits palsu pun masuk dalam kitab-kitab terpercaya (ash-shahhah). Keterangan lebih lanjut tentang ini dapat kita temukan di lembaran beriktunya. Kita pun tidak dapat menyalahkan para ulama hadits selama ini, karena kondisinya tidak mungkin pemikiran model ini. bahkan, hal ini pun belum menjadi kesadaran para ulama kontemporer. Bagaimana kita akan menyalahkan para ulama yang hidup pada ribuan tahun silam?

Apa yang disampaikan Imam Syafi’i dalam magnum opus-nya, Ar-Risalah, terkait dengan abrogasi (nasikh-mansukh) atau asbab an-nuzul (latar belakang turunnya ayat) selalu dikaitkan dengan para pembesar sahabat seperti Umar, ‘Aisyah, dan yang lainnya. Hingga permasalahan ini tampak sudah hadir dalam kehidupan para sahabat itu. Kemungkinan hadits palsu pun tertutup. Dan para ahli hadits dapat mengamalkan hadits-hadits teresbut. Dilihat dari jendela sejarah, ada dua hal yang menjadi titik tolak perubahan. Pertama, kitab Ar-Risalah, karya Imam Syafi’i. buku ini menggagas dasar-dasar hukum Islam dan menjelaskan bagaimana kita berinteraksi dengan hadits. Kedua, ketika isu penutupan pintu ijtihad sudah muali merebak di abad kelima Hijriah, hingga ulama-ulama seperti Ibnu Taimiyah, Al-Ghazali, Al-Juwaini, As-Suyuthi, dan Asy-Syaukani tidak dipandang cukup berkemampuan untuk melakukan ijtihad mutlak. Mereka pun hanya megnikuit empat mazhab yang ada. Walaupun antara satu dengan yang lain berbeda, tapi semuanya berada dalam naungan kaidah: “Bila hadits itu shahih, itulah mazhabku.”

Pada masa-masa ini, lebih dari seribu tahun, yang menjadi keinginan para ulama adalah ambil bagian dalam periwayatan hadits (haddatsana). Bahkan para penguasa seperti Al-Ma’mun pun mempunyai keinginan yang sama. Apa yang dilakukan mereka terkait dengan purifikasi hadits tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan para pemikir Eropa untuk menciptakan revolusi ilmiah, produksi, dan kebangkitan untuk masyarakatnya. Ironisnya, pada masa kajian hadits menjadi kecenderungan bersama, Al-Quran telrupakan. Al-Quran dibaca hanya karena ingin mendapatkan pahala atau terhanyut dengan keindahan suara yang melantunkannya. Kalaupun ada kajian tentang Al-Quran, hal itu menggunakan tafsir dengan segala hadits palsu dan Israiliyat-nya. Hadits-hadits palsu tersebut pada akhirnya hampir melumpuhkan Al-Quran. Bahkan sunnah dianggap mampu menganulir ayat.

Sunnah menajdi basis intelektual para ualam. Setiap generasi mempertebal kajian tentang sunnah. Hal ini kemudian menjadikan sunnah sebagai “hakim” atas Al-Quran. Al-Quran tidak bisa lepas dari sunnah. Sunnah pada akhirnya menjadi “Al-Quran II” bagi umat Islam. Seperti kitab Talmud di hadapan Taurat dan ajaran Gereja di hadapan Injil. Nabi pernah mengingatkan umat Islam tekrait dengan hal ini. dalam haditsnya beliau mengatakan: “Kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian. Walaupun mereka masuk ke lubag macan, kalian pun akan memasukinya.”

Ketika Nabi melihat para sahabat menulis hadits-haditsnya, beliau mengatakan: “Apakah kalian menginginkan kitab selain kitab Allah? Yang menyesatkan orang-orang sebelum kalian adalah yang mereka tulis di samping kitab Tuhan.” Ungkapan Nabi ini menggambarkan bahwa orang-orang menginginkan yang dari Nabi dijadikan rujukan kedua di samping Al-Quran. Dan ini telah terjadi di masa Nabi, dan terus meluas di masa pasca Nabi. Abu Bakar pernah berkata: “Kalian bercerita tentang hadits Nabi dengan perdebatan yang mencolok. Mereka pasca kalian akan mengalami perbedaan yang lebih parah lagi. Maka, janganlah kalian menceritakan hadits dari Nabi. Bila kalian ditanya tentang suatu hal, katakanlah kita telah mempunyai kitab Tuhan. Halalkanlah yang halal di dalamnya. Dan haramkanlah apa yang diharamkan olehnya.”

Umar pernah berkeinginan untuk menulis hadits-hadits Nabi. Dalam beberapa waktu hal ini menjadi pertimbangan Umar, hingga suatu hari ia berkata: “Saya ingin menulis sunnah Nabi. Saya ingatkan kepada kalian orang-orang sebelum kita yang menulis kitab lain selain kitab Allah. Mereka pun meninggalkan kitab Allah. Demi Tuhan, saya tidak mau ada yang “menyerupai” kitab Allah.” Utsman pun pernah berkata: “Seseorang tidak boleh menceritakan hadits yang tidak diketahui di masa Abu Bakar dan Umar.” Ali karramallahu wajhahu pernah berkata sebagaimana disampaikan Harits Al-A’war, Al-A’war mengatakan: “Suatu hari saya melewati masjid. Saya melihat orang-orang ramai di dalamnya. Kemudian saya menemui khalifah Ali. Wahai Amir Al-Mu’minin, apakah Anda tidak melihat orang-orang yang ramai membicarakan hadits? Jangan-jangan mereka telah melakukannya (menulis hadits), kata Ali. Saya katakan, Iya. Ali pun berkata: “Nabi pernah berkata bahwa ini akan menjadi fitnah.” Saya (Ali) berkata kepada Nabi: “Apa jalan keluarnya wahai Nabi? Nabi menjawab: “Kitab Allah. Dalam kitab ini terdapat cerita orang-orang sebelum dan sesudah kalian. Di adalah hakim. Yang meninggalkannya akan dicela oleh Allah. Dan yang menjadikan petunjuk di luar dirinya akan disesatkan oleh Allah. Dia adalah pengikat yang kuat dari Allah. Dia adalah jalan yang lurus…”. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL