ادْعُ إِلى سَبيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَ جادِلْهُمْ بِالَّتي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبيلِهِ وَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدينَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya TuhanmuDia-lah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(Q.S. An-Nahl: 125)

dakwahDakwah adalah segala aktifitas yang mengajak atau membawa manusia kepada Tuhan baik dengan tulisan, lisan atau perbuatan. Karena itu dalam berdakwah berbagai metode, cara dan strategi dapat digunakan untuk memobilisasi manusia menuju Allah swt. Namun, tentu saja, Allah swt tidak mengijinkan kita menghalalkan segala cara untuk mengajak manusia kepada-Nya. Untuk itu Allah swt memberikan rambu-rambu kepada para pendakwah, agar tak mencemari ajaran suci Islam dengan sikap-sikap yang tidak layak. Berdasarkan Q.S. an-Nahl : 125 para mufassir (ahli tafsir) menjelaskan tiga cara atau jenjang dalam mengajak menusia (dakwah) agar mendapatkan hidayah. Setiap cara harus dipahami oleh da’i (juru dakwah) sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.  

Para ulama menjelaskan bahwa ketika disebutkan kata Rabb (Tuhan yang maha pemelihara), maka disitu terasa adanya perhatian yang menunjukkan kearah tarbiyah, yaitu pemeliharaan dan pendidikan. Yakni serulah manusia kejalan Rabb-mu yaitu Tuhan-mu yang memberikan pendidikan bagi manusia. Dengan cara bagaimana?

Pertama, dengan hikmah, yaitu suatu ucapan yang cermat dan tegas, tidak tersentuh oleh cacat dan tidak menimbulkan keraguan sedikitpun. Ini berarti sebuah penalaran filosofis – ingat filsafat diterjemahkan dengan hikmah dan filosof disebut juga dengan hukama— dalam menjelaskan ajaran-ajaran Islam, dengan mengajukan argumentasi dan bukti-bukti yang tak terbantahkan (burhan) melalui penjabaran ilmiah, sehingga menanamkan keyakinan kuat yang terpatri dalam hati.

Aristoteles menyebutkan cara ini dengan logos, yaitu kita meyakinkan orang lain tentang kebenaran argumentasi kita, kita ajak mereka berfikir, mengunakan akal sehat, dan membimbing sikap kritis. Kita tunjukkan bahwa kita benar, karena secara rasional argumentasi kita harus diterima. Seorang da’i (juru dakwah) harus mampu berbicara  dengan hikmah, dengan penalaran filosofis, dengan argumentasi rasional. Pendeknya aktivis dakwah harus mampu mengoperasionalkan dalil naqli yakni wahyu al-Quran dan sunnah nabi ke dalam wujud dalil Akal. “kami para nabi, diperintahkan agar berbicara kepada manusia sesuai tingkatan akal mereka” begitu sabda Rasulullah Saw.

Kedua, adalah nasehat yang baik, yakni mengajak mereka ke jalan Tuhan dengan memberikan nasehat yang tepat dan cermat serta dengan ucapan-ucapan halus yang mudah diterima dan dicerna. Ini berarti sebuah himbauan moral yang mengajak untuk memperbaiki diri, dan menjauhi perbuatan terlarang. Bila penalaran filosofis (hikmah) mengaplikasikan dimensi ilmiah (teoritis) maka himbauan moral lebih terfokus pada dimensi amaliah (praktis).

Dengan mauidhah al-hasanah (nasehat yang baik) seorang juru dakwah menjadi “perayu-perayu ulung” yang mengetarkan hati setiap insan. Bawalah sasaran dakwah dalam suasana nyaman yang seolah-olah mereka berada di dalamnya dengan penuh perasaan dan gejolak emosi yang tersentuh dalam. Dengan himbauan-himbauan moral kita sentuh keinginan-keinginan dan kerinduan mereka, kita redakan kegelisahan dan kecemasan mereka.

Kemudian cara ketiga, adalah “berdiskusi dengan cara yang baik” atau penuh keharmonisan. Islam ialah agama yang siap untuk dikritik, diprotes, atau dibantah. Kalau ada lawan-lawan Islam yang mencoba meruntuhkan ajaran Islam dengan menyerang ajaran-ajarannya, maka seorang pendakwah menjadi juru bicara untuk menjawab kritik dan keberatan-keberatan yang di ajukan oleh musuh-musuh Islam. Kita diperintahkan untuk berdiskusi dan menerima tantangan untuk berdebat, bukan menghindarinya, jika ada yang membantah Islam. Tetapi ingat, seperti dijelaskan ayat ini, haruslah digunakan etika diskusi yang baik dan harmonis. Dalam berdebat jangan sekali-kali menyimpang dari jalan kebenaran, tetapi hendaklah senantiasa bersikap adil, tidak menutup mata terhadap kebenaran dan tidak sekali-kali mengucapkan kebohongan.

Dengan perdebatan dan diskusi kita berusaha menyampaikan kebenaran disertai niat agar mereka memperoleh hidayah Allah Swt. Dalam perdebatan kita mesti pula membekali diri dengan dua hal sebelumnya, yakni penalaran filosofis dan himbauan moralis. Berdebat bukan untuk menang tetapi untuk membuktikan kebenaran. Karenanya seorang juru dakwah mesti mempunyai keahlian dan kualitas diri untuk mampu berpikir rasional dan argumentatif sekaligus berbicara dengan bahasa yang kokoh, mudah dipahami, terutama mudah menarik hati.

Jadi seorang juru dakwah, dituntut untuk memperbanyak perbendaharaan ilmiah serta tidak menyakitkan perasaan dan hati penerima dakwah. Hal ini karena tugas juru dakwah dalam berdiskusi adalah memasukkan mereka para pembangkang kebarisan sasaran dakwah, mendekatkan mereka untuk mengikuti aqidah yang benar, meluruskan pemikiran-pemikiran dan keimanan mereka. Bukan membikin putus asa, mengalahkan atau membunuh mereka. Tugas juru dakwah bukan meraih kemenangan atas musuh untuk memuaskan ambisi kesombongan diri. Tugas juru dakwah adalah untuk menyadarkan orang lain untuk mengikuti kemanusiaannya, dan mengingatkannya akan akidah yang mengikatnya. Lalu membentuknya untuk mengikuti jalan yang benar, sehingga pada gilirannya akan menjadi sahabat dalam mensukseskan dakwah menuju Allah Swt.

Dengan demikian, layaknya seorang orator ulung, juru dakwah harus membuktikan kredibilitas dirinya, kekuatan argumentasinya, dan rayuan mautnya yang mampu menghujam akal dan sanubari orang yang didakwahinya. Sebagai seorang pendakwah kita harus mampu mengaplikasikan ketiga cara tersebut dengan memperhatikan kondisi dan situasi sekitarnya. Setelah melakukan ketiga cara tersebut dengan sebaik-baiknya, maka seorang da’i tinggal bertawakkal kepada Allah swt, siapa orang yang akan sesat dan siapa yang akan mendapat petunjuk. Hanya Allah yang tahu.

Namun, fenomena sekarang ini menunjukkan banyaknya juru dakwah yang memanipulasi perasaan dan  emosi jemaah, dan kurang melatih daya pikir mereka. Bahkan para ustadz tidak jarang isi ceramahnya menyentuh perut (berisi lelucon dan tertawaan) dari pada menyentuh akal. Keberagamaan yang emosional memang memberikan kehangatan dan gairah, tetapi biasanya ia tidak tahan banting dalam kompetisi pemikiran (al-ghazu al-fikri), yang emosional mudah tersisih oleh yang rasional.

Juru dakwah sekaligus pakar komunikasi, Kang Jalal, pernah mengatakan penelitian komunikasi menunjukkan bahwa perubahan sikap lebih cepat terjadi dengan himbauan emosional. Tetapi dalam jangka lama, himbauan rasional memberikan pengaruh yang lebih kuat dan lebih stabil. Dengan bahasa sederhana, iman segera naik lewat sentuhan hati, tetapi berlahan-lahan iman itu turun lagi. Lewat sentuhan otak, iman akan naik meskipun secara perlahan tetapi pasti. Dalam jangka lama, pengaruh pendekatan rasional lebih menetap dari pada pendekatan emosional.

Tambahan dari itu semua, perlu disadari, dalam menyampaikan pesan dakwah, baik dengan cara hikmah, nasehat yang baik ataupun dengan cara diskusi, kita harus bersatu padu. Jangan terkurung dalam sekat-sekat mazhab yang sempit. Janganlah kita saling menghujat dan menyalahkan bahkan mungkin sampai pada tahap pengkafiran hanya karena orang lain berbeda pendapat dengan kita. Kita harus menyadari apa yang kita amalkan adalah produk dari apa yang kita pikirkan. Ajaran Islam tidak terbatas, karenanya tidak ada kajian yang sudah tuntas. Terlebih apa yang kita pahami tergantung seberapa informasi yang kita terima.

Begitu pula, dakwah tidak akan berhasil jika tidak dimanajemen dengan baik, akan tetapi manajemen tidak akan berjalan tanpa adanya kebersamaan diantara kita. Karenanya, mari kita jalin ukhuwah dalam dakwah bukan pecah belah, kita cari titik temu yang mempersatukan bukan titik beda yang menyebabkan pertengkaran. Juru dakwah dan ummat hendaknya harus saling berbagi informasi dan membentuk integritas diri serta menambah wawasan dan memperbaiki pemahaman. Sesama juru dakwah dan sesama anggota jemaah harus mampu membina jalinan dan komitmen yang harmonis. Untuk itu kita bentuk berbagai sarana dan wadah untuk mengembangkan sistem informasi dalam menjalin silaturrahmi antara berbagai organisasi sehingga terbentuk kekuatan dakwah serta pemikiran Islam. Inilah dia, merajut ketangguhan dakwah dalam jalinan ukhuwah. Semoga! (CR/liputanislam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL