“Orang-orang yang beriman (percaya) kepada yang gaib, tetap mengerjakan sembahyang dan menafkahkan (membelanjakan di jalan kebaikan) sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka.

(Q.S. al-Baqarah/2: 3)

gaib 2Gaib adalah sesuatu yang tersembunyi, yang tidak dapat disaksikan oleh panca indera, tidak tampak oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, tidak tekecap oleh lidah, tidak tersentuh oleh kulit, dan tidak tercium oleh hidung, tetapi ia dapat dirasa adanya oleh akal. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan gaib dengan sesuatu yang tersembunyi, tidak kelihatan, atau tidak diketahui sebab-sebabnya. Sementara kamus berbahasa Arab menjelaskan dengan antonym (lawan) dari syahadat yang berarti hadir atau kesaksian, baik dengan mata kepala maupun mata hati. Jika demikian, gaib bermakna yang tidak hadir, sesuatu yang tidak disaksikan, atau sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indera baik disebabkan oleh kurangnya kemampuan maupun oleh sebab-sebab lainnya. (Shihab, 2003: 7)

Dalam agama Islam selain alam dunia yang material ini, diakui juga adanya alam immateri yang tidak terjangkau oleh indera kita. Alam immateri ini disebut dengan alam gaib yang setiap muslim diwajibkan mengimani keberadaannya sesuai dengan firman Allah swt : “Orang-orang yang beriman (percaya) kepada yang gaib, tetap mengerjakan sembahyang dan menafkahkan (membelanjakan di jalan kebaikan) sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka.” (Q.S. al-Baqarah/2: 3)

Dalam pandangan ilmuwan Muslim ada lima hierarki realitas wujud yang disebut dengan al-Hadharat al-Ilahiyah al-Khamis (Lima Kehadiran Ilahi), yaitu alam nasut (alam materi), alam malakut (alam kejiwaan), alam jabarut (alam ruh), alam lahut (sifat-sifat uluhiyah),dan alam hahut (wujud zat ilahi). Hanya alam yang pertama saja (alam materi) yang mampu dijangkau oleh manusia dengan inderanya.

Akan tetapi, jika ditelusuri apa yang ada di alam materi pun, akan ditemukan hal-hal yang tidak mampu indera manusia menangkapnya. Ini menjadi lebih jelas dengan mengamati tingkat eksistensi yang oleh E.F Schumacherdibagi kepada empat tingkatan, sebagai berikut :

  1. Tingkat eksistensi dunia benda mati
  2. Tingkat eksistensi dunia tumbuh-tumbuhan
  3. Tingkat eksistensi dunia hewan
  4. Tingkat eksistensi dunia manusia

Pada tingkat eksistensi benda mati, sepenuhnya dapat diindera oleh manusia. Sedangkan pada tingkat eksistensi tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, akan terdapatlah hal yang bisa terindera yakni fisiknya dan yang tidak dapat terindera seperti kehidupan, kesadaran, dan sadar diri, “Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang kamu tidak lihat”(Q.S. al-Haqqah/69: 38-39) begitu firman Allah menegaskannya. Dengan pengetahuan ini, sangat masuk akal bila pada ujung eksistensi paling atas ada sesuatu yang sepenuhnya gaib sebagai imbangan bagi ujung bawah (benda mati) yang sepenuhnya kelihatan. (Muhsin, 1987: 39-40)

Begitu juga para filosof muslim membagi alam yang diciptakan Allah swt. melalui emanation (emanasi/pancaran) dalam beberapa tingkatan eksistensi (wujud), mulai dari alam akal, alam mitsal atau alam barzakh, hingga alam materi.

Allah merupakan wujud non materi mutlak yang tak terbatas dan menjadi pencipta seluruh makhluk. Alam akal merupakan wujud non materi mutlak yang memiliki keterbatasan secara esensi, tetapi bukan dalam ruang dan waktu dan sama sekali tidak memiliki sifat-sifat materi. Makhluk akal ini memiliki banyak wujud dan tingkatan. Sebahagian para filosof Islam, ada yang mengatakannya memiliki sepuluh tingkatan seperti kalangan parepatetik (al-Farabi, Ibnu Sina). Alam akal dalam peristilahan agama disebut dengan malaikatul muqorrobin ( para malaikat yang didekatkan ).

Di bawah alam akal ada Alam mitsal (disebut juga alam ide, alam barzakh, makhluk khayal), yang merupakan wujud non materi tidak mutlak yang terbatas secara esensi dan memiliki sifat materi kecuali massa/berat. Contohnya seperti wujud-wujud yang ada dalam khayalan atau mimpi sewaktu tidur. Makhluk di alam ini yang mengatur segala urusan di alam dunia (materi), dari sejak pewujudan, pemberian-pencabutan nyawa, hidayah, rejeki, jodoh, musibah, hujan, dan segala urusan lainnya di dunia. Dalam peristilahan agama, makhluk-makhluk ini disebut malaikat pengatur segala urusan di alam dunia, “Turunlah malaikat dan ruh dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan” (Q.S. al-Qadr : 4)

Alam materi merupakan wujud yang sangat terbatas baik secara esensi, ruang, ataupun waktu, dan memiliki massa atau beban. Karena ia wujud yang sangat banyak rangkapannya, sehingga memiliki ketergantungan lebih besar, karenanya alam materi merupakan alam paling rendah yang diciptakan Allah swt.

Jadi gaib bukan berarti tidak berwujud, tidak bereksistensi atau tidak ada, melainkan hanya karena indera manusia tidak memadai untuk mendeteksinya. Hal inipun hanya bersifat sementara. Pada saatnya, indera kita akan mampu mendeteksi mereka yang menjadi makhluk gaib, setelah Allah mengangkat hijab dari penglihatan kita, “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka kami singkapkan darimu tutupan (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam” (Q.S. Qaf: 22). (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL