tobatSecara umum ada dua jenis dosa yaitu dosa yang bersifat akhlak (dzanb akhlaqi) dan dosa yang bersifat perbuatan (dzanb ‘amali).

Dosa yang bersifat akhlak adalah akhlak yang keji dan sifat yang buruk yang mengotori jiwa manusia, memalingkannya dari jalan yang lurus dan menghalangi dalam upaya mencapai kedekatan dan perjumpaan dengan Allah swt. Keburukan akhlak, apabila mengakar dan melekat pada jiwa, secara perlahan akan menjadi sifatnya dan bahkan akan mengubah hakikat kemanusiaannya. Dosa akhlak ini antara lain adalah riya, kemunafikan (nifaq), amarah, takabur, ghibah, fitnah, hasad, dusta, ingkar janji, bakhil,tabzir, cinta dunia,  dan lainnya. Dosa-dosa ini dibahas dengan panjang dalam kitab-kitab akhlak. Obat bagi dosa-dosa ini adalah tobat dengan jalan penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs).

Adapun dosa yang bersifat amali adalah perbuatan melanggar perintah yang diwajibkan atau melakukan yang diharamkan oleh syariat seperti membunuh, mencuri, zina, riba, gashab, minum khamr, memakan yang haram, berjudi, meninggalkan kewajiban seperti salat dan puasa. Semua dosa-dosa ini dibahas umumnya dalam kitab-kitab hadits dan fikih. Jika kita melakukannya maka kita harus tobat dari dosa-dosa tersebut sesuai dengan penjelasan di atas (Ibrahim Amini, Risalah tasawuf, 2002: 195-196).

Bagi para sufi, selain harus menjauh dari kedua jenis dosa di atas, terdapat lagi “jenis dosa” lainnya. Umpamanya meninggalkan perkara-perkara sunnah dan mengerjakan yang makruh, memikirkan perbuatan dosa, bahkan melalaikan Allah (ghuflah). Secara fikih hal-hal tersebut tidak tergolong maksiat yang menyebabkan dosa, tetapi bagi para kekasih Allah, wali Allah, ataupun para sufi, hal-hal tersebut adalah kesalahan atau ketidakpatutan dan dianggap dosa. Dzun Nun al-Mishri membedakan antara tobatnya orang awam dengan taubatnya orang khusus. Tobatnya orang awam, kata Dzun Nun, adalah tobat dari dosa-dosa (dzunub), sedangkan tobatnya orang khusus adalah tobat dari kelalaian mengingat Allah (ghuflah). An-Nuri mempertegasnya dengan mengatakan tobat adalah proses pelaksanaan tobat dari segala sesuatu selain Allah. Sedangkan Abdullah at-Tamimi berkata, “sungguh jauh perbedaan di antara orang yang bertobat. Ada orang yang bertobat dari dosa besar dan dosa kecil. Ada yang bertobat dari keteledoran dan kelalaian. Dan ada orang yang bertobat karena memandang kebaikan dan ketaatan yang dilakukannya” (al-Qusayri, Risalah Qusyairiyah, 2007: 123).

Ungkapan para tokoh sufi ini menunjukkan bahwa tobat tidak hanya bagi pelaku dosa tetapi juga pelaku kebaikan dan ketaatan. Mungkin kita heran mengapa orang-orang taat dan berbuat baik juga bertobat,karena bagi kita tobat hanya berlaku bagi para pendosa? Namun jika kita menyadari bahwa perbuatan baik yang kita lakukan bisa jadi jauh dari kesempurnaan dan kurang adab, maka kita sudah selayaknya pula untuk bertobat. Bukankah Allah berfirman, “celakalah orang-orang yang salat, yang mereka lalai dalam salatnya. Dan mereka riya” (Q.S. al-Maun: 4-5). Kecelakaan ternyata bukan hanya pada orang-orang yang meninggalkan salat, tetapi juga pada orang-orang yang salat, karena mereka lalai dalam salatnya. Boleh jadi lalai dalam waktunya, lalai dalam kedisiplinannya, lalai dalam konsentrasi fisik, maupun lalai dalam konsentrasi hatinya (khusu’).

Begitu pula boleh jadi kita salat bukan karena dan untuk Allah, tetapi karena dan untuk yang lainnya, misalnya karena dan untuk mendapat pujian manusia misalnya, karena dan untuk mendapatkan harta, jabatan, status sosial dan lainnya. Pada posisi ini kita telah berbuat riya. Jadi, dalam ketaatan pun masih terdapat kecelakaan. Boleh jadi, kita selamat dari dosa yang bersifat perbuatan (dzanb amali), tetapi terjebak dalam dosa yang bersifat akhlak (dzanb akhlaqi). Jika kita tidak salat, kita terkena dzanb amali. Dengan mengerjakan salat, kita terhindar dari dzanb amali. Akan tetapi bisa jadi kita riya dalam salat, yang berarti kita terkena dzanb akhlaqi. Karenanya, jika kita tidak ingin celaka, maka sebaiknya melakukan tobat juga dalam setiap ketaatan.

Lebih jauh, bagi para sufi, satu-satunya yang layak untuk diingat adalah Allah. Adakah yang lebih layak diingat selain Allah? Apakah harta,jabatan, atau keluarga kita lebih layak diingat dan diperhatikan daripada Allah? Apakah perniagaan dan pekerjaan kita lebih layak diingat dari pada Allah? Jika kita menjawab tidak, maka mengingat sesuatu selain Allah adalah kerugian dan kekotoran pikiran dan hati kita. Untuk itu kita perlu bertobat dari keburukan hati dan pikiran kita.

Dengan demikian, orang-orang bertobat pada dasarnya memiliki tingkatan sesuai dengan keadaan dirinya. Imam Ja’far Shadiq salah seorang gurunya para sufi berkata, “setiap kelompok di antara hamba-hamba Allah memiliki tobat tertentu. Tobat orang-orang khusus adalah bertobat dari perbuatan yang membuat mereka menyibukkan diri kepada selain Allah. Adapun tobat orang awam adalah bertobat dari dosa-dosa.” Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Karena tobat, Allah membentangkan inayah-Nya dan setiap hamba harus senantiasa bertobat dalam segala keadaan. Setiap kelompok dari hamba-hamba Allah memiliki tobat. Tobatnya para nabi ialah keguncangan rahasia. Tobatnya para wali adalah pencemaran resiko-resiko. Tobatnya kaum sufi ialah dari menghibur diri (tanfis). Tobatnya kaum khusus (khas) adalah dari sibuk dengan selain Allah. Dan tobatnya kaum awam adalah dari dosa.”

Merujuk pada perkataan di atas maka tobat pada dasarnya dilakukan oleh seluruh manusia, yang berdosa maupun yang tidak berdosa. Allah berfirman, “Dan tobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung” (Q.S. an-Nur : 31). Begitu pula tobat dapat meningkatkan derajat manusia, menarik limpahan ridha dan kecintaan Allah swt, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan dirinya” (Q.S. al-Baqarah : 222).Karena itulah para nabi yang diyakini terbebas dari perbuatan maksiat dan dosa (maksum) juga melakukan tobat. Bahkan Rasulullah saaw yang merupakan puncak kesempurnaan dan pemimpin para Nabi bersabda, “wahai manusia, bertobatlah kamu kepada Allah dan mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali.” (H.R. Muslim). Jika Nabi Muhammad saaw saja setiap harinya bertobat dan memohon ampunan kepada Allah seratus kali, lantas bagaimana dengan kitayang diliputi dosa-dosa? Wallahu a’lam. (CR/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL